Bertemu
Bunyi gelas yang diletakkan di atas piring kecil tipis berbahan keramik itu, terdengar pelan. Nadin melirik suaminya yang asik menikmati sukun goreng buatan mertua, alias ibunya Nadin.
"Apa?" tanya Nathan pelan dengan mata melirik ke Nadin, sembari mengunyah lagi.
"Titipan untuk Ibu, cepetan kasih..." Nadin melotot sembari memicingkan mata. Nathan membuat huruf O di bibirnya, hampir ia lupa. Dari sling bag hitam yang menggantung di dadanya, ia mengeluarkan amplop coklat. Ia memindahkan posisi duduk ke sebelah ibu mertuanya.
"Bu, Nathan ada rejeki, mau bagi ke Ibu, ya, mohon diterima." Suami Nadin itu tersenyum manis. Ibu terkejut, lalu menggelengkan kepala.
"Minggu lalu kamu baru transfer, ‘kan, masih banyak sisanya, Nathan," tolak ibu.
"Itu beda, ini juga beda. Terima ya, Bu, takut Ibu mau beli gincu warna ungu," ledek pria yang mampu membuat Nadin gemas sekaligus lemas karena kenikmatan surga dunia yang suaminya berikan.
"Sembarangan, mentang-mentang Ibu janda, gitu?" pelotot ibu. Nadin tertawa.
"Ya, ‘kan, siapa tau, Bu," kembali Nathan meledek ibu mertuanya.
"Ibu cuma cinta sama mendiang Bapaknya Nadin, Mas Hanggoro, nggak bisa diganti sama yang lain. Sampai Ibu mati, Nathan." selalu begitu jawaban ibu jika digoda anak dan menantunya soal jodoh. Selalu ditolak mentah-mentah, padahal ibu juga belum tua-tua amat, masih 50 tahun.
"Ini buat beli sapi aja, ya, kalau boleh sama kamu," tanya ibu.
"Terserah Ibu, pokoknya Nathan udah kasih, Ibu mau pakai untuk apa juga, bebas." Suami Nadin itu kembali duduk di sebelah istri cantiknya.
"Yaudah, Ibu masukin ke rekening aja, sambil mikir kalau nggak dibeliin sapi, enaknya diapain." Ibu beranjak, lalu masuk ke kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu.
"Jadi ke tempat custom selimut bayi, nggak? Yuk, ajak Ibu sekalian takut mau jalan-jalan," ucap Nathan seraya menyeruput teh manisnya. Nadin masih menatap suaminya itu sambil bertopang dagu.
"Apa? Minta lagi? Kamu nafsuan sekarang, ya?" Nathan memegang tengkuk istrinya lalu mencium dengan lembut.
"Halah... kayak kamu enggak, nanti malam aku pake yang warna hitam, ah, bagus kayaknya," ucap Nadin seraya beranjak lalu berjalan ke kamar Ibunya.
Nathan tergelak, ia mengusap wajahnya kasar. Benar-benar istrinya itu jago menggoda adik kecilnya untuk bangun.
Akhirnya, ibu menolak ikut. Ia justru menyuruh Nadin dan Nathan jalan-jalan berdua, ibu memang mengerti akan hal itu, membiarkan anak dan menantunya quality time. Nadin punya Kakak, laki-laki, tapi kerja di Sumatera, kilang minyak. Ibu dan bapak Nadin sama-sama dari angkatan darat, tapi ibu pensiun lebih awal karena mau mengasuh dan urus rumah tangga.
Toko tempat usaha teman sekolah Nadin dulu ada di pusat kota, tak susah untuk mencarinya. Ruko bercat warna putih itu tampak mentereng di antara bangunan ruko lainnya yang berwarna coklat.
"Dia temen SMA kamu?" tanya Nathan sebelum mereka turun dari mobil.
"Iya, yuk, turun," ajak Nadin. Nathan melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil. Setelah mengunci pintu mobil, keduanya berjalan menuju ke dalam toko.
Pintu terbuka, pekikan senang terdengar dari wanita bernama Rena itu. Nadin memperkenalkan suaminya. Lalu mereka bertiga duduk bersama karena Rena ingin menunjukan pilihan desain selimut bayi.
"Dua hari jadi, apa mau aku kirim ke Jakarta, langsung ke rumah kamu?" tanya Rena.
"Boleh, deh, yang penting hasilnya bagus. Eh, Ren, mana Koko Billy, apa di bengkel?" Nadin celingukan. Karena ia tak melihat suami temannya itu.
"Aku cerai sama dia, bulan lalu baru ketok palu," jawab Rena.
"Loh, kok? Kalian, kan...?!" Nadin tau, jika Rena dan Billy, menikah karena dijodohkan keluarga walau pada akhirnya, mereka juga sama-sama suka. Bahkan pernikahannya begitu mewah dirayakan.
"Biasa, lah, Din, orang ke tiga," ucap Rena. "Udah ya, jangan bahas, kamu mau minum apa? Aku minta tolong asistenku buatin."
"Nggak usah repot-repot, aku mau ke tempat lain lagi, suamiku mau cari oleh-oleh untuk orang kantor," ucap Nadin.
"Ok, kirim aja lewat WA alamat rumah kamu, nanti aku kirim, warna pink, yang ini, ‘kan?" Rena memberikan contoh bahannya. Nadin mengangguk.
"Dikasih bordir nama inisial orang tuanya aja, ya, Ren," pinta Nadin.
"Ok, siapa namanya, biar gue noted di sini?" Rena sudah memegang pulpen dan kertas warna pink terang.
"Tulisannya... mm..., ini aja, Baby N & M. Nama mereka Naka dan Margie, tapi kepanjangan, jadi inisialnya aja, ya," pinta Nadin sembari mengeluarkan uang.
"Siap. Aku terima pembayarannya, ya, makasih udah order ke aku, Din...," Rena memeluk Nadin erat. Sementara Nathan sedari tadi diam dan mengabaikan para ladies bercengkrama, ia sibuk dengan ponselnya.
Tempat selanjutnya, rumah makan terkenal di kota Solo, mereka menyusuri trotoar, mobil diparkirkan di hotel. Tak perlu susah untuk berjalan kaki menikmati kota kelahiran Nadin. Nathan merangkul bahu istrinya, sembari matanya melihat-lihat toko batik, juga beberapa toko camilan.
Mereka saling lempar tawa, mencicipi jajanan tradisional, hingga berbelanja beberapa makanan untuk stok di Jakarta. Nathan ingin memberi kesan yang berbeda dengan kegiatan bulan madu keduanya ini. Bahkan, untuk hal lain pun, Nathan menyiapkan dengan sangat baik. Benar-benar memanjakan istrinya.
Seperti malam itu, setelah mereka lelah berjalan kaki menyusuri daerah sekitar hotel, Nathan sudah menyiapkan bathup dengan cairan sabun dan kelopak bunga mawar yang bertabur di atasnya. Nadin luar biasa terkejut, suaminya bisa seromantis itu.
Keduanya berendam bersama, saling bercerita tentang banyak hal, hingga adegan panas pun mereka lakukan berulang kali. Membuat momen romantis bersama. Nadin dan Nathan saling merasa puas juga bahagia. Mereka berkomitmen untuk selalu saling menjaga, juga akan menghadapi banyak halang rintang rumah tangga mereka bersama-sama.
***
Jakarta.
Sekembalinya mereka, keduanya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, setumpuk dokumen yang harus Nadin periksa juga Nathan yang memimpin rapat, begitu larut dalam kesibukannya masing-masing.
"Gimana, bulan madu keduanya, Non?" tanya manajer HRD Nadin, bernama Merry yang paling senang meledek tingkah Nadin yang kadang suka senyum-senyum sendiri jika mengingat suaminya.
"Hot banget, Mbakkk... nggak perlu aku jabarin, ‘kan?" ujar Nadin sembari beranjak membawa beberapa dokumen yang sudah ia ACC ke meja rekan divisi lain.
Tak lama, Ia berjalan kembali lalu duduk di kubikelnya. "Terus, jadi kamu program bayi tabungnya?" tanya Merry lagi.
"Jadi, Mbak, tapi kayaknya bulan depan atau dua bulan lagi aja, deh," tukas Nadin.
"Ok, nanti janjian aja sama dokternya, baik banget orangnya, kok, aku berhasil program bayi tabung sama dia, semangat ya, Din, usaha terus yang penting." Lalu Merry pamit untuk makan siang bersama suaminya yang bekerja satu gedung namun beda lantai.
Nadin tersenyum, rekan kerjanya, banyak yang memberi semangat juga kesabaran padanya. Selama dokter bilang kondisi ia dan Nathan baik juga sehat, tak perlu ada yang diragukan.
Di kantor Nathan. Pria itu sedang duduk menatap laporan target bulanan, ponselnya bergetar, pesan masuk ia terima. Dengan jarinya, ia membuka kunci layar untuk membaca pesan itu.
+62821345××××× :
[Mas, aku udah di Jakarta, ketemuan di mana?]
Kedua mata Nathan terbelalak, ia lalu membalas dengan cepat.
Nathan :
[Kamu di apartemen, ‘kan? Bukan hotel? Aku nggak mau kalau di sana.]
+62821345××××× :
[Iya, aku nggak mau Nadin curiga.]
Nathan :
[Pinter, 15 menit lagi aku sampai ya, Rena. Bye, babe.]
Nathan tersenyum smirk. Ia mematikan laptopnya, lalu beranjak dan bergegas ke apartemen tempat ia janjian dengan Rena, teman sekolah Nadin saat di Solo dulu.