Permainan (18+)

1113 Kata
Permainan (18+) Ting! Suara pintu lift terbuka memecahkan lamunan sejenak Nathan yang berada di dalamnya. Ia melangkah pasti, berjalan mencari nomor kamar yang diberitahu Rena. Ia tersenyum, menatap nomor pintu yang mudah ia temukan. Menekan tombol bulat itu. Lalu pintu terbuka. Rena tersenyum menyambut suami teman sekolahnya dulu itu. Ia bahkan tak canggung untuk menggandeng tangan Nathan yang langsung memeluk Rena dari belakang. "Aku takut kamu keceplosan kemarin waktu di Solo, pas kamu bilang alasan kamu cerai karena orang ketiga." Nathan memeluk leher Rena lalu menghujani ciuman di pipi putih wanita seksi berkulit putih, seperti wanita keturunan Thailand. Begitu mulus dan wangi. Lalu, apa Nadin tidak begitu? Nadin itu jauh lebih menggoda bagi Nathan, sesungguhnya. Namun jiwa yang lama tidur di dirinya terbangun saat pertama kali ia bertemu Rena lima bulan silam. Tepatnya saat ia dinas ke Solo, memeriksa cabang perusahaan tempat ia bekerja, lalu dikenalkan oleh rekannya di sana. Semenjak itu, hubungan terlarang pun terjadi di antara keduanya. Rena memiliki daya tarik yang membuat Nathan selalu rindu, ia cukup 'Nakal' dan membuat Nathan tertantang. Ya nakal, lah, godain suami temannya sendiri. Murah banget jadi perempuan. Keduanya duduk di sofa warna merah itu. Apartemen itu disewa tiga hari oleh Rena. Ia yang membayar, dan Rena dekat dengan Nathan bukan masalah uang, memang ia yang mau dan ingin menjalin hubungan perboden itu. "Alasan kamu apa ke Nadin nanti, Mas?" tanya Rena sembari melepaskan jas yang Nathan kenakan, melempar ke sembarang arah lalu duduk di atas pangkuan pria itu. "Kamu nggak sabaran amat?" Nathan meremas b****g sintal Rena. Wanita itu memicingkan mata namun segera melancarkan aksinya, Nathan mengeram nikmat saat hal itu mulai dilakukan Rena terhadap miliknya yang, seharusnya hanya untuk Nadin seorang. "s**t! Rena..." desah Nathan saat wanita itu terus memberi service dengan mulutnya. "Enakan Nadin atau aku?" ledek Rena sembari beranjak dan melepaskan kain yang menempel di tubuhnya. Nathan tertawa. Ia menarik rambut Rena, menjambaknya lalu mulai memegang kendali. "Wanita binal kayak kamu harus aku kasih hukuman berat, udah kamu siapin? Hum?" Nathan mencumbui leher mulus Rena. Jemari tangannya bermain nakal di arena inti Rena. Meloloskan desahan menuntut dari bibir merah Rena. Wanita itu mendorong Nathan hingga terjatuh di atas sofa. Dengan tatapan menggoda, Rena menghampiri Nathan yang tersenyum nakal. "Hukum aku, babe?" bisiknya. Kalimat itu seperti mantra. Nathan segera menyeret Rena dan membawanya ke kamar. Keduanya bergumul, saling memuaskan, walau dengan cara yang tak lazim. *** Nadin tertawa geli saat mendengar candaan beberapa rekan kantor yang bersamanya duduk di halte busway untuk pulang ke tujuan masing-masing. Nadin sedang tak membawa mobil, ia malas nyetir. Ponselnya bergetar, pesan masuk dari Nathan. My hubby : [Din, aku OTW jemput kamu, kamu di mana?] Nadin tersenyum. Ia mengetik pesan balasan. Nadin : [Halte Busway. Kamu pulang aja, Mas, atau jemput aku di halte utama.] My hubby : [Ok, aku beli makanan ya, kamu nggak usah masak. Bye, Babe, see u soon.] Nadin tak membalas pesan lagi. Ia tersenyum, lalu kembali bercanda dengan teman kantornya. Satu setengah jam kemudian. Nadin sampai di halte utama perumahan mereka. Mereka tinggal di perumahan besar yang menyediakan shelter khusus bagi warga, yang terintegrasi dengan busway. Nathan sudah duduk di atas motor matic mewahnya. Ia melambaikan tangan, menyambut istri cantiknya dengan kedua tangan ia lebarkan. Mereka berpelukan. "Tumben udah wangi, kamu langsung mandi?" tatap Nadin. "Iya, gerah banget. Tadi habis ke lapangan sama anak-anak, memantau kinerja anak buah. Yuk pulang, aku beliin kamu nasi kebuli." Ajak Nathan, Nadin mengangguk. "Wait," tangan Nathan menarik tangan Nadin. "Apa?" tatap Nadin bingung. "Kiss me," pria itu tersenyum. Nadin melihat sekeliling dulu, lalu mengecup bibir suaminya singkat. "Thank you, sayang," ucap Nathan sambil membantu memasangkan helm ke atas kepala Nadin. Motor melaju, Nadin memeluk pinggang Nathan, sedangkan pria itu mengusap jemari tangan istrinya lembut, sama sekali tak kasar. Berbeda saat ia melakukan dengan Rena. Semakin kasar, semakin menggairahkan, juga begitu memacu adrenalin. "Naka telepon kamu, nggak, Mas?" tanya Nadin dengan memajukan bibirnya ke bahu suaminya itu. "Nggak. Kenapa emangnya?" lirik Nathan. "Tadi Naka telepon aku, katanya Margie pergi dari rumah, ngambek gara-gara Ibu, minta Margie melahirkan normal, tapi Margie maunya operasi. Lagi kelimpungan itu, Naka," ucap Nadin lagi. "Biarin, urusan mereka," jawab ketus Nathan. Bahu Nadin merosot. Ia kepikiran istri adik iparnya itu, memang, keluarga Nathan tipe yang suka memaksakan pendapat dan kehendak mereka. Kadang, hal itu membuat Nadin kewalahan karena beda pemikiran dengannya. Namun Nadin yang baik dan mau toleransi, ia lebih sering mendengarkan juga melakukan saran keluarga suaminya itu. Beda dengan Margie yang suka kesal. "Mas, kita kapan ke dokternya? Biar di jadwal ulang," ucap Nadin saat motor sudah berhenti di garasi rumah. Ia turun dari atas motor perlahan. Membuka helm kemudian memberikan ke suaminya. "Terserah kamu, Din, aku ikut aja, sini dulu sebentar," panggil Nathan. Nadin mendekat, Nathan merengkuh pinggang istrinya itu. Ia menatap lekat. "Have fun, yuk, besok aku dinas tiga hari dua malam, Pak Fredi minta aku ke Bogor, ngecek kinerja cabang sana. Aku mau, service kamu malam ini," lalu Nathan menciumi leher istrinya. Nadin tertawa. "Semendadak ini kamu perginya?" Ia melenguh pelan, memang paling jago suaminya itu. "He-em, aku juga sebel jadinya," ucap Nathan di telinga Nadin. "Ok, aku mandi dulu, ya, tunggu aja di atas kasur ya, kamu bisa banget bikin aku--" Nadin tertawa karena kini tangan suaminya berada di b****g seksinya. "Mas...!" Nadin mememik tertahan. Nathan tertawa, ia membiarkan Nadin masuk ke rumah lebih dulu, sementara ia memarkirkan motor ke dalam garasi. Rumah tanpa pagar itu menjadi saksi semua yang mereka jalani. *** Permainan panas mereka selesai hampir tengah malam. Masih tak memakai sehelai benang pun, Nadin mengeluarkan koper kecil dan ia isi dengan pakaian suaminya untuk esok hari. Nathan terus memperhatikan pergerakan istri seksinya itu. Lalu, pikiran tentang kelakuan nakalnya di belakang Nadin muncul tiba-tiba, ia diam. Tubuhnya mematung, saat Nadin tersenyum cantik menatapnya yang juga masih tak menutupi tubuhnya dengan apa pun, bersandar di kepala ranjang. Senyuman Nadin begitu meluluhkannya, sedikit rasa nyeri di hati ia rasakan. Namun dengan cepat ia menepisnya. 'Gue laki-laki, gue petualang, gue butuh hal-hal bandel diluar pernikahan dan hal yang menantang. Nadin tetap permaisuri gue, tapi di luar sana, gue mau punya selir. Mereka yang harus menanggung sikap liar gue yang nggak akan gue tunjukin ke Nadin.' ucap Nathan dalam hati. Ia beranjak, mendekat ke Nadin, memeluknya erat. Saling menatap dari pantulan cermin. "I love you, Din, so much!" bisik Nathan lalu mencium lama pipi istrinya itu. "I love you more, Mas," balas Nadin. Nathan mengusap perut rata istrinya. Ia memejamkan mata, ia berdoa semoga Nadin cepat hamil. Berharap anaknya akan menjadi rem kelakuan bejatnya di luar sana. Tapi bagaimana, jika, seandainya Nadin hamil, tapi justru itu menjadi awal hukuman untuk Nathan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN