Hari Senin itu terasa panjang dan berat. Rasa malu karena dimarahi William dan dinginnya sikap Rama masih membekas di d**a Elisa. Sisa hari itu dijalaninya dengan energi yang tersedot habis, jari-jemarinya mengetik tanpa semangat, pandangannya sering terpaku kosong pada sudut layar komputer. Fani mendorong sebuah mug keramik ke sudut meja Elisa, suaranya memecah lamunan. "Ini, buat kamu." Elisa menoleh. Mug itu berisi kopi s**u hangat, uapnya mengepul lembut. "Apa ini?" "Obat anti-bete. Minum," ujar Fani sambil kembali ke kursinya, matanya masih tertuju pada Elisa yang terlihat lesu. Elisa menyentuh gagang mug, kehangatannya merambat pelan di telapak tangannya. "Terima kasih, Fan." "Udah, jangan terus dipikirin soal Rama tadi dan Omelan Pak Will. Hari sial bisa dateng ke siapa aja kok

