9. Kena Marah

1903 Kata

Cahaya mentari pagi menyusup pelan ke dalam kamar. Elisa terbangun oleh dering ponsel yang memecah kesunyian. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang masih samar. Tangannya meraba-raba di nakas, menemukan ponsel, dan tanpa melihat siapa yang menelepon dia langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo?" Suaranya serak, masih tertutup kantuk. "Baru bangun? Jam segini masih tidur?" Suara Maya di seberang sana terdengar segar dan waspada. Elisa mendorong tubuhnya untuk duduk, punggungnya terasa kaku. "Jam berapa, sih?" "Sudah jam sembilan lewat." "Ini masih pagi, May," bantahnya sambil mengusap wajah. "Iya, iya, bagi yang libur. Btw, tadi malam kemana? Sama siapa? Jangan-jangan sama teman serumahmu itu," selidik Maya, nada suaranya meninggi tanda alarm. Elisa menarik napas, p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN