Elisa terbangun oleh suara erangan dari sebelahnya. Dalam cahaya remang-remang, Wira menggeliat, keningnya berkerut, napasnya pendek dan tersendat-sendat. Elisa segera bangun terduduk, tanpa ragu, tangannya terulur ke dahi Wira yang lembap oleh keringat. Jari-jarinya mengusap pelan, lalu berputar pelan di pelipisnya. Otot-otot di wajah Wira perlahan mengendur, erangan mereda jadi desahan, dan tarikan napasnya yang kacau mulai menemui iramanya yang biasa. Elisa menarik tangannya, menjauh, tetapi matanya tetap tertambat pada sosok di sebelahnya. Di bawah selimut bayangan, wajah Wira yang kini tenang itu terasa asing, jauh dari ketegaran dan sikapnya yang selalu memancing di siang hari. Hanya kelopak matanya yang sesekali bergetar, sisa-sisa dari sesuatu yang masih menghantui. "Apa yang seb

