Fani mengerutkan keningnya, matanya tak lepas dari Elisa yang duduk di seberangnya. Gadis itu hanya memutar-mutar nasi di piringnya dengan sendok, tatapan kosong menembus ruangan kantin di balik bahu Fani. Nugget ayamnya hampir tak tersentuh. "El." Fani mencoba menarik perhatiannya. Tidak ada respons. Dengan gerakan cepat, Fani menjepit sepotong nuggetnya sendiri dan melemparkannya ke arah piring Elisa. Potongan itu mendarat dengan bunyi plop yang kecil. "Eh?" Elisa tersentak, matanya berkedip cepat sebelum tertuju pada nugget asing di pinggir piringnya. "Kamu nggak mau, Fan?" Fani menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Lo dari tadi kayak orang kesambet. Ngelamun terus. Masalah uang? Kan baru aja gajian pagi tadi." Elisa mengeluarkan tawa kecil, pendek, dan terdengar dipaksakan. "Buk

