22. Imbalan?

1401 Kata

Wira tiba di rumah tepat saat aroma sup ayam jamur mulai memenuhi udara dapur. Mereka berdiri berseberangan di ambang ruangan itu, terpisah oleh meja kecil. Elisa memegang mangkuk keramik yang masih mengepulkan uap, sementara Wira berdiri dengan kemeja putihnya yang longgar, lengan digulung tak karuan. Tapi kali ini, Elisa tidak tertipu. Dalam benaknya, dua gambar bertumpuk: William yang tegas dan rapi di koridor kantor tadi siang, dan Wira yang sekarang, santai, dengan rambut sedikit berantakan. Namun keduanya adalah wajah yang sama, mata yang sama, dan rahasia yang sama. "Mandilah dulu," ucap Elisa, suaranya tenang sambil menempatkan mangkuk sup dengan hati-hati di tengah meja. "Lalu kita makan malam." "Oke." Wira hanya mengangguk singkat. Tidak ada tanya jawab, tidak ada komentar tent

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN