29. Pergi

1265 Kata

Elisa tidak bisa lagi menahan tubuhnya yang berguncang. Setelah kata terakhir Wira menguap di udara, sebuah erangan panjang dan dalam tercekik keluar dari kerongkongannya. Tangannya mencengkeram ujung blazernya, meremas-remas kain itu seolah ingin merobeknya, sementara air mata mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang memucat dan menetes ke lehernya. "Ibu …," terisaknya, suaranya pecah dan nyaris tak terbentuk. "Ayah .…" Suara tangisnya yang menyayat, campuran dari rasa sakit, kemarahan, dan pengkhianatan yang mendadak, mengisi setiap sudut rumah yang tadinya hening. Tangisan itu menggema di dinding-dinding dingin, membuat ruang seolah ikut bergetar. Wira hanya bisa terduduk mematung, pandangannya tertancap pada tubuh Elisa yang terguncang hebat. Tangannya sendiri mengepal di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN