Satu jam sebelumnya, Elisa membuka pintu rumah dengan tangan yang gemetar. Kaki terasa berat menapak lantai marmer yang dingin. Napasnya masih tersengal, d**a naik turun tak beraturan, seolah udara di dalam rumah ini tiba-tiba menjadi terlalu tipis untuk dihirup. Dia terhuyung ke meja makan, tubuhnya lunglai terjatuh di atas kursi. Tas kerjanya terlepas dari genggaman, jatuh dengan suara gedebuk yang menggema di ruangan sunyi. Matanya, kosong dan merah, menatap dapur yang sepi. Di sana, bayangan dirinya dan Wira berinteraksi menghantui setiap sudut, tawa yang dipaksakan, sentuhan yang disengaja, bisikan yang ternyata dibangun di atas kebohongan. Suara Maya bergema di kepalanya. "Wajahnya kayak familiar." Tubuhnya bergerak refleks. Dia meraih tasnya, menggali dengan panik hingga tangannya

