Chapter 17

1773 Kata
Ketakutan dan kebahagian itu bak dua mata sisi koin, tak akan bisa dipisahkan. Hari ini bisa jadi kita merasa takut, besok mungkin masih sama merasakan hal yang sama tapi percayalah, hari-hari yang menakutkan itu bisa berubah menjadi hari yang paling bahagia. Rasanya sudah cukup untuk bersedih beberapa hari ini untuk Andaru, pria pun menginginkan perasaan bahagia. “Mas Andaru istirahat aja, hari ini kan libur,” ucap Sabrina ketika mereka tengah sarapan bersama. Kali ini hanya mereka berdua, Bi Lela sedang pergi ke mengunjungi pesta pernikahan anak dari temannya yang cukup jauh. Wanita itu mengatakan akan pulang besok harinya. Jadi sekarang hanya ada Andaru dan Sabrina yang ada di rumah itu. Andaru yang mendengar saran Sabrina mengangguk, ia ingin bermalas-malasan di hari libur ini. Tapi, rasanya rugi jika hanya tiduran diatas kasur. Apa ia harus mengajak Sabrina untuk tidur bersamanya? Ide yang bagus. “Mas, ini Sabrina buatin susu.” Wanita itu memberikan segelas s**u bewarna putih pada sang suami yang baru saja selesai makan. Andaru yang melihat isi gelas itu langsung menolak. Lelaki itu tidak suka s**u karena rasanya yang hambar sampai membuatnya mual, ia pernah juga mencoba s**u dengan rasa coklat atau buah-buahan, pun tidak suka. “Saya enggak suka, Sabrina,” ujar laki-laki itu yakin bahwa rasa s**u yang dipegang isterinya itu hambar. “Ini s**u kurma, Mas,” kata Sabrina membuat laki-laki itu mengerutkan dahinya. Apa rasanya akan seperti memakan kurma? Sabrina dari awal masuk ke rumah ini ingin membuat Andaru memiliki kebiasaan yang baik, seperti meminum s**u contohnya. Pria itu sudah bekerja keras untuk mencari nafkah dan Sabrina ingin memastikan senua kebutuhan suaminya terpenuhi. Tapi sayangnya, Bi Lela mengatakan bahwa Andaru tidak menyukai s**u karena rasanya hambar lalu juga tidak s**u dengan berperisa coklat dan buah-buahan. Sabrina yang mendengarnya jadi kebingungan.  Ia akhirnya mencoba untuk membiarkan Andaru mencoba s**u rasa kurma. Andaru lalu mengambil gelas itu lalu mencobanya seteguk. “Enak,” kata pria itu membuat Sabrina yang mendengarnya menjadi senang. s**u kurma memiliki banyak manfaat dan itu baik untuk suaminya. Pria itu lalu meneguk susunya kembali namun ia tak menemukan s**u milik isterinya. Andaru lalu menyisahkan setengah s**u untuk Sabrina. “Ini, minum,” ucap Andaru meletakan gelas itu di tangan isterinya. “Enggak enak ya, Mas?” tanya Sabrina langsung memikirkan cara apalagi membuat Andaru suka s**u. “Susunya enak kok. Tapi, lain kali buat juga segelas untuk kamu, suruh Bi Lela juga biar kita bisa sehat sama-sama,” jelas Andaru yang membuat isterinya langsung mendongak dengan senyum manis. Sabrina langsung meneguk s**u itu dengan cepat selain rasanya enak, gelas ini tadi juga dipakai oleh Andaru membuat pipinya terasa panas. “Rasanya enak, Mas.” Andaru mengangguk, rasanya susunya memang enak. Tidak hambar seperti s**u uht tapi juga tak terlalu manis seperti s**u berperisa. Rasanya pas. “Ada bekas s**u dibibir kamu, Sabrina,” ujar Andaru mengelap bibir isterinya dengan ibu jari miliknya. Pria itu melakukannya dengan santai tapi tidak dengan Sabrina yang merasakan jantungnya berdetak kencang. “Ss—sabrina cucu piring dulu, Mas,” ujar gadis itu buru-buru mengambil piring bekas sarapan mereka menuju wastafel.  Andaru mengangguk, lelaki itu hendak ke lantai atas untuk merebahkan tubuhnya. Tapi seketika merasa ia akan bosan, pria itu lalu berbalik menatap ke arah punggung isterinya yang tengah mencuci piring. “MAS!” pekik Sabrina ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Andaru yang menjadi pelaku malah terkekeh namun sekali tidak ingin melepaskan tangannya dari perut isterinya. “Saya mau nemenin kamu cuci piring. “Tt—tapi lepasin dulu, Mas,” pinta Sabrina memelas. Selain susah membuatnya bergerak, keadaan jantungnya juga sedang tidak baik-baik saja. Andaru mengabaikan permintaan isterinya, lelaki itu malah meletakan dagunya di kepala sang isteri karena perbedaan tubuh mereka cukup jauh. Ia tidak tahu, dirinya yang tinggi atau isterinya yang pendek. Sabrina akhirnya hanya bisa menghela nafasnya, mencuci piring dengan kondisi yang membuat jantungnya bekerja lebih cepat dan pipinya yang terasa memarah.  Hingga selesai mencuci piring, Andaru melepaskan pelukan itu untuk mengambil piring-piring itu dan menelungkupkannya di rak piring. Pria itu menyebutnya, kerja sama dalam rumah tangga. Sepasang suami isteri lalu memutuskan untuk naik ke lantai atas, ke kamar mereka. Andaru sebenarnya ingin sekali mengajak Sabrina untuk menonton tapi ia langsung menyadari bahwa isterinya mungkin tidak akan bisa menikmatinya. “Kalo Mas Andaru mau nonton, enggak papa kok,” ujar Sabrina yang berada disebelah Andaru, mereka sekarang tengah menyandar di kepala kasur. Televisi datar dan lebar itu sudah menyala. “Kalo gitu, saya bakal ceritain filmnya sama kamu,” ucap Andaru. Jika wanita l tidak bisa melihat, biar Andaru yang menjadi mata untuknya.  Akhirnya selama film yang berdurasi 1 jam 20 menit itu Andaru tak henti-henti menceritakannya pada Sabrina apa yang dia lihat. Ditambah mendengar suaranya, wanita itu langsung paham dengan cerita film itu. “Filmnya bagus, Mas,” puji Sabrina ketika film selesai dan televisi tengah menampikan nama-nama orang dibalik layar. Sebenarnya, Andaru tak begitu menikmati film yang tengah tayang. Ia sudah menonton itu sebelumnya dan hapal jalan ceritanya. Perhatiannya kali ini tertuju pada wajah sang isteri. Ekpresinya selalu berubah-rubah mengikuti alur film, kadang tersenyum, gemas sendiri, terlihat marah dan terakhir hendak menangis. Itu menjadi hal luar biasa untuknya. Andaru seperti terhipnotis untuk tidak selalu candu dengan wajah isterinya. Sebenarnya tak apa, toh isterinya sendiri, bukan isteri orang lain. Andaru yang lalu mendekatkan tubuhnya pada sang isteri, semakin dekat. Ia pun mengambil tangan Sabrina dan mengecupnya pelan. “Mas—-“ “Bolehkan?” tanya Andaru meminta izin untuk memulainya. Sabrina mengangguk dengan senyum yang sangat manis. Andaru langsung mendekat ke wajah isterinya, mencium dahi isterinya sambil membacakan doa semoga kegiatan mereka membawa pahala dan cepat diberikan anak-anak yang sholeh dan sholeha. ——— “Mas?” Sabrina meraba tempat tidur di sampingnya namun tak menemukan sang suami. Wanita itu lalu perlahan bangkit namun tak berdiri, hanya duduk dengan menyender di kepala kasur. Wanita itu meraba tubuhnya yang ternyata mengenakan sebuah daster, Andaru nampak yang menggantinya. Ia tak mengenakan hijab karena berada di rumah dan hanya ada suaminya. CLEK! “Baru saja mau saya bangunin,” ucap Andaru yang baru masuk ke kamar. Pria itu meletakan sesuatu di atas meja di kamarnya dan mendekat ke arah sang isteri.  “Mas Andaru darimana?” tanya Sabrina. “Dari bawah, buatin makan untuk kamu,” jawab Andaru membuat Sabrina terkejut. “Udah siang ya, Mas? Sabrina mau mandi terus sholat dulu,” kata wanita itu buru-buru hendak bergerak. “Masih jam 10 lebih kok,” tahan Andaru.  “Terus kenapa Mas Andaru buatin makanan?” tanya Sabrina bingung, ia pikir suaminya itu membuat makan siang. Andaru yang mendengarnya sontak menggaruk kepalanya bingung. Ia membuat makanan ini berharap dapat memulihkan energi Sabrina, karena telah terlalu lama bersama diatas kasur saat melakukan olahraga untuk membuat bayi. “Enggak papa, pengen aja,” jawab Andaru pelan karena merasa malu. “Sabrina mau makan, Mas,” kata wanita itu hendak bangun, suaminya sudah membuatkan makanan untuknya dan ia harus menghabiskannya. “Sakit?” tanya Andaru langsung merasa bersalah ketika Sabrina sudah duduk dipinggiran kasur. “Iya, Mas,” angguk Sabrina. “Maaf,” gumam Andaru lalu membawa sang isteri ke dalam gendongannya lalu didudukan di atas sofa. “Enggak papa kok, Mas. Cuman sebentar sakitnya.” Sabrina tak ingin membuat suaminya khawatir. “Kalo gitu, Mas Andaru suapin aja Sabrina biar rasa sakitnya cepat hilang.” Andaru tekekeh, ia sebenarnya tahu bahwa tidak ada hubungannya dengan menyuapi Sabrina membuatnya cepat pulih. Tapi, ia tidak akan menolak untuk memperlakukan perempuan itu dengan baik. Sabrina yang menerima suapan dari Andaru merasakan hatinya senang, ia bahagia tiap kali mendapatkan perlakuan yang menurutnya sangat manis. “Saya juga buatin s**u lagi, biar cepat pulih.”  “Terima kasih, Mas,” ucap Sabrina penuh dengan kebahagian. Setelah selesai menyuapi Sabrina dengan nuget dan sosis goreng serta segelas s**u. Andaru segera masuk ke dalam kamar mandi, mengisi air di bak mandi dengan air hangat untuk membuat isterinya merasa nyaman. “Enggak usah digendong lagi, Mas,” kata Sabrina buru-buru tapi Andaru mengabaikanya membuatnya merasa tersipu. “Saya udah nyiapin air hangat,” kata Andaru sambil menurunkan Sabrina perlahan di depan bak yang sudah terisi dengan air untuk berendam isterinya. “Makasih ya, Mas. Pasti nanti pegal-pegalnya hilang kalo berendem,” ujar Sabrina sambil tersenyum kecil, walau hari ini ia harus mandi dua kali padahal sore saja belum. Andaru mengangguk lalu mengucapkan sama-sama. Sabrina perlahan mengulurkan jarinya masuk ke dalam bak hati-hati, hangatnya pas sekali. Ia lalu mengerutkan dahinya saat merasa Andaru masih disini, karenao tak mendengarkan langkah kakinya. “Mas Andaru enggak keluar?” “Hah?” tanya Andaru dengan wajah bodoh. Ia lalu menyandari bahwa dirinya masih ada di dalam kamar mandi. Lelaki itu lalu segera keluar dari kamar mandi, namun sebelum ia menutup pintu, ia mengucapkan sesuatu dahulu. “Iya, iya, saya keluar. Kalo ada perlu sesuatu panggil saya.” “Iya, Mas Andaru.” ——— Karena isterinya pasti masih kelelahan, Andaru akhirnya memutuskan untuk memesan makan siang mereka. Ia memutuskan untuk membeli ayam geprek dengan sambal, tentunya dengan rasa pedas yang terlalu kuat.  Setelah selesai sholat, mereka berdua turun dan tinggal menunggu pesanan mereka tiba. Tak lama, makanan yang ditunggu pun datang dan segera Andaru yang merasa kelaparan buru-buru mengambilnya. Tak hanya ayam geprek tapi pria itu juga memasan tahu tempe serta segelas es teh yang begitu menyegerkan. Andaru bahkan sampai mengambil nasi di magic com karena merasa masih lapar. “Mau tambah nasi?” tanya Andaru pada isterinya. “Enggak usah, Mas. Cukup,” tolak Sabrina yang sudah merasa kekenayangan. “Ayam gepreknya enak tapi kurang pedas.” “Sengaja, biar kamu enggak makan sambalnya aja,” sindir Andaru membuat Sabrina yang mendengar itu meringgis. Ia masih mengingat ketika setelah selesai memakan sambal rujak, malamnya perutnya terasa sangat sakit. Ia pikir itu karena makan sambal ditambah hendak datang bulan.  Tapi besoknya, Sabrina masih bisa melakukan ibadahnya. Tiba-tiba wanita itu mengerutkan dahinya, sedang berpikir. Terakhir kali ia datang bulan saat hari pernikahannya dengan Andaru dan sekarang ia belum mendapatkannya sama sekali. Harusnya ia sudah datang bulan ketika hari memakan rujak itu karena sudah beberapa minggu. Dan sampai sekarang pun Sabrina belum mendapatkannya. Apa jangan-jangan dirinya sudah hamil? Wanita itu sontak menggelengkan kepalanya, berpikir bahwa ia hanya telat saja. Itu pun sudah biasa. “Kenapa?” tanya Andaru menatap ke arah isterinya yang berhenti makan. “Enggak papa, Mas. Cuman kepikiran sesuatu aja kok.” Tapi jika memang sudah ada calon anak mereka di perutnya, Sabrina merasa sangat senang bisa mewujudkan keinginan dari Andaru. Namun ia belum berani untuk mengatakannya, biarlah menunggu beberapa hari lagi. “Semoga sudah ada diperut Bunda ya, dek,” batin Sabrina dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN