Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat, sangkingnya cepatnya kadang membuat siapapun tak sadar, termasuk Andaru yang beberapa hari ini menikmatinya dengan perasaan bahagia.
Sudah beberapa hari ini juga Andaru tidak menemukan orang-orang yang mengintai rumahnya atau ancaman dari Eshan untuknya. Namun, ini membuat Andaru merasa tak nyaman. Ini semua terlalu hening.
Andaru takut, pria itu memang sengaja membiarkannya untuk menikmati hari-harinya dengan bahagia lalu merenggut sesuatu yang besar darinya.
“Mas? Mas Andaru?” panggil Sabrina membuat suaminya itu terbangun dari lamunannya. Pria itu menyengir, menatap ke arah isterinya yang tengah membantu untuk memasang kancing kemejanya.
“Mas Andaru lagi ada yang dipikirin? Mau berbagi sama Sabrina?”
Andaru tersenyum mendengar perhatian isterinya. “Enggak papa kok, hari ini ada meeting penting sama bos,” jawab pria itu yang tak sepenuhnya bohong. Hari ini memang cukup penting untuknya, karena harus mewakilkan devisinya untuk melakukan presentasi.
Singkatnya, Andaru mungkin akan mendapatkan sanksi yang fatal jika melakukan kesalahan hari ini.
“Kamu hari ini enggak usah masak untuk makan siang, biar nanti saya pesan aja,” kata Andaru pada sang isterinya, pasalnya kemarin kondisi Bi Lela sedang drop mungkin karena cuaca yang memang beberapa hari ini sering berubah-rubah.
“Sabrina pengen makan bubur ayam yang di depan komplek, Mas,” ujar isterinya itu tiba-tiba membuat Andaru tercengang. Bukannya tadi isterinya itu sudah menghabiskan dua mangkok nasi goreng yang dibuatnya untuk sarapan?
Dan, sekarang masih ingin bubur ayam?
Andaru seketika memperhatikan wajah isterinya yang beberapa hari ini terlihat berisi, pipinya menjadi penuh dengan membuat pria itu menjadi gemas. Tak masalah sebenarnya jika sang isteri suka makan tapi aneh saja, karena Sabrina yang ia tahu akan langsung merasa kenyang jika makan satu porsi.
“Bubur ayam yang di depankan? Biar Mas suruh ojek online aja yang beli terus diantar kesini,” kata Andaru yang telah siap dengan pakaian kerjanya.
Sabrina buru-buru menggeleng. “Enggak perlu, Mas. Sabrina aja yang ke depan untuk belinya, dekat kok,” ucap wanita itu membuat Andaru yang mendengarnya tak setuju. Bagaimana pun itu sudah keluar cukup jauh dari rumah walau masih berada di dalam komplek?
Andaru tidak ingin Sabrina dalam bahaya, walau beberapa hari in mereka menjalani hidup dengan damai. Bukan tidak mungkin Eshan dan anak buahnya menyiapkan sesuatu untuknya.
“Saya enggak mau kamu pergi tanpa saya,” putus Andaru yang langsung membuat Sabrina memanyunkan bibirnya. Ia ingin sekali membeli bubur ayam itu sekarang, entah apa alasannya, Sabrina hanya ingin.
Jarak tempat bubur ayam itu dengan rumah mereka sungguh tak jauh, Sabrina merasa sudah hapal dengan jalannya. Tapi, Andaru malah menolak dan memilih untuk membeli lewat ojek online.
“Sabrina enggak akan kenapa-kenapa kok, Mas,” kuekeh wanita itu ingin pergi untuk membeli bubur ayam. “Lagian kan masih di dalam komplek perumahan, jadi aman.”
Andaru menggeleng, tetap tidak setuju. Jika dirinya tidak ada meeting penting hari ini, ia mungkin tanpa berpikir dua kali segera menemani isterinya untuk membeli bubur ayam itu.
“Saya tetap enggak setuju, lagian kamu aneh banget mau bubur ayam sampai segitunya.” Sabrina merasa hatinya sedih ketika mendengar perkataan Andaru yang menganggap remeh keinginannya untuk memakan bubur ayam.
“Mas, Sabrina akan langsung pulang waktu beli—-“
“Saya bilang enggak ya enggak!” tegas Andaru sedikit mengeraskan suaranya membuat Sabrina terkejut. Gadis itu merasakan tubuhnya bergetar ketakutan, karena untuk pertama kalinya mendengar Andaru bersuara cukup kuat hari ini.
Andaru yang telah mengatakan, mendesah. Sungguh, ia kelepasan. Pria itu tidak mau berteriak seperti ini pada isterinya. Pikirannya tengah kacau tentang rencana Eshan selanjutnya dan meeting hari ini, ditambah Sabrina yang entah kenapa tidak mau mendengarkan perkataannya.
Sayangnya, sebelum Andaru meminta maaf sang isteri sudah lebih dulu meninggalkan kamar mereka.
Andaru menghela nafasnya panjang, berusaha untuk mengatur emosinya terlebih dahulu sebelum mengejar sang isteri. Ia menyandari sedari tadi, Andaru hanya menolak dan menolak permintaan isterinya. Tanpa memberi alasan yang jelas tentang ketakutannya.
Baru saja hendak keluar dari kamar, panggilan video untuk meeting muncul dilayar komputer Andaru membuat pria itu mengerang. Ia pun segera duduk di kursinya dan berharap Sabrina bisa menunggu.
“Selamat pagi semuanya? Apa kabar? Bagaimana kondisnya hari ini? Saya harap kalian semua baik yang di kantor maupun di rumah, dalam kondisi yang baik. Hari ini, Pemimpin perusahaan akan melihat langsung presentasi dari beberapa perwakilan divisi perusahaan.”
Andaru mengerang, benar-benar berharap meeting ini bisa cepat selesai namun ia menyadari bahwa rapat ini baru saja mulai.
Sedangkan di lantai bawah, Sabrina baru saja menuruni tangga dengan bahu bergetar. Pipinya sudah basah dengan air mata saat ini, bibirnya pun bergetar menahan isakan. Wanita itu merasa sangat sedih, pertama karena tidak bisa mencicipi bubu ayam yang ia inginkan itu sekarang. Kedua, Andaru yang selalu berkata lembut kali ini membentaknya.
Padahal ia hanya ingin memakan bubur ayam, Sabrina pun tidak meminta Andaru untuk menemaninya ke tempat penjualnya. Ia hanya ingin suaminya itu memperbolehkannya untuk keluar.
Sabrina akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa, berusaha menenangkan tangisnya. Tapi yang ada malah rasa dari bubur ayam itu di kepalanya. Ia sudah mencoba untuk menghilangkannya, menahannya paling tidak sampai besok. Sayangnya, tidak bisa.
Berada seorang diri, membuat Sabrina tiba-tiba berpikir untuk pergi ke tukang bubur itu tanpa memberi tahu pada Andaru. Tapi, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Andaru pasti kecewa padanya jika ia pergi tanpa memberi izin.
Bayang-bayang dari rasa bubur ayam itu kembali terlintas dipikiriannya membuat Sabrina sontak berdiri dari bangku sofa. Ia memutuskan untuk pergi ke tukang bubur, Andaru mungkin kecewa padanya tapi jika ia pergi dan langsung pulang sebelum pria itu mengetahuinya, semuanya akan baik-baik saja.
Apalagi yang membuat Sabrina kesal adalah Andaru yang tak mengejarnya untuk meminta maaf.
Sabrina lalu menamjakan indera pendengerannya, berusaha mendengar apa ada langkah kaki yang mendekat. Setelah merasa aman, Sabrina akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah.
Wanita itu berjalan sambil tersenyum dengan lebar, membayangkan saat lidahnya mencicipi kuah bubur ayam itu yang begitu menggoda ditambah dengan sambal yang cukup banyak. Tapi, ia harus tetap hati-hati sambil menggerakan tongkat bantunya.
Sabrina dengan cepat sampai ke tukang penjual bubur dan memesan empat bungkus, satu untuk Andaru, satu untuk Bi Lela dan dua untuk dirinya. Entah kenapa beberapa hari ini, ia terus merasa lapar.
“Sendirian aja, Mbak?” tanya penjual bubur ayam itu.
“Iya, Pak,” jawab Sabrina berusaha menekan rasa khawatir yang perlahan tumbuh di hatinya.
Setelah mendapatkan pesanannya, Sabrina langsung membawa bungkusan itu untuk keluar.
Brak!
Sabrina sedikit terhuyung ketika tubuhnya menabrak bahu yang sangat keras. Ia lalu meminta maaf dan buru-buru melanjutkan langkahnya.
Setiap langkahnya, Sabrina semakin merasa takut. Ia bahkan hendak menangis karena merasa bersalah pada Andaru karena pergi tanpa memberi tahu suaminya.
“Mbak.”
Sabrina yang mendengar itu sontak berhenti, jantungnya berdetak kencang ketika mendengar panggilan seseorang.
“Saya boleh numpang tanya alamat enggak?” tanya pria dengan suara berat.
Sabrina yang mendengar itu menghela nafas lega. Ia pikir seseorang dengan niat buruk padanya. Ternyata hanya menanyakan alamat, lagi pula jika berbuat jahat bukannya langsung menangkapnya. Dan, rumahnya pun sudah dekat. Tinggal belok dan berjalan sebentar, sebelum akhirnya sampai.
“Rumah siapa ya, Mas?”
“Mbak tahu rumahnya Andaru enggak?”
Sabrina yang mendengarnya tersenyum lebar, ternyata teman suaminya.
“Saya isterinya Mas Andaru, Mas. Rumahnya di—-HMPHHHH!” Sabrina membulatkan matanya ketika mulutnya tiba-tiba ditutup dengan benda yang sepertinya sapu tangan. Ia berusaha untuk berontak dan berteriak tapi percuma, nampaknya tidak ada hanya seorang di sana.
Air matanya mengalir, merasa ketakutan dan bersalah karena tidak mendengarkan perkataan Andaru.
Ketika perlahan kesadarannya menghilang, Sabrina masih bisa mendengar suara bising yang jarang ia dengar. Benda itu rasanya berada diatasnya, hingga kesadarannya pun lenyap.
“Mas Andaru, maafin Sabrina,” batin gadis itu sebelum semuanya gelap.
“Itu apaan yang terbang?” tanya pria dewasa yang membopong Sabrina masuk ke mobil, ia bertanya pada tiga temannya.
“Enggak tahu, palingan mainan helikopter anak kecil,” sahut salah satu temannya dan mereka pun masuk ke dalam mobil dengan senyum lebar. Bos mereka pasti akan sangat senang karena mendapatkan apa yang diinginnya.
Beberapa menit yang lalu, kembali ke Andaru yang masih duduk dengan stress di kursinya. Pria itu sungguh tak tenang, hingga dua puluh menit diatas kusir, ia pun memutuskan untuk pergi dengan alasan ke kamar mandi.
Andaru lalu masuk ke dalam kamarnya namun tak menemukan sosok Sabrina, lalu bergegas turun dengan jantung yang perlahan berdetak kencang.
“Sabrina? Sabrinaaa!” panggil Andaru merasa semakin cemas tak menemukan keberadaan isterinya.
“Ada apa, Mas Andaru?” tanya Bi Lela yang keluar kamar karena mendengar panggilan majikannya.
“Bi, lihat Sabrina enggak?” tanya Andaru panik.
“Enggak, Mas. Bibi dari tadi di dalam kamar.” Andaru yang mendengar itu memejamkan mata, kemana perginya isterinya itu? Pria itu tiba-tiba tersentak ketika mengingat bahwa Sabrina begitu menginginkan bubur ayam.
Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu naik ke ruangan kerjanya untuk membuka lemari dimana ia menyimpan drone miliknya. Andaru langsung membuka pintu jendela ruangannya dan menerbangkan benda itu dengan cepat.
Andaru memperhatikan dengan seksama tangkapan kamera dronenya untuk memantau sang isteri.
“Mas Andaru? Bagaimana sudah kembali? Jika sudah tolong aktifkan kamera dan micnya, kali ini giliran Mas Andaru,” suara dari speakernya terdengar membuat pria itu mendengus. Benar-benar bukan waktu yang tepat.
“Mas Andaru? Apakah masih disana?”
“Mas Andaru? Jika tidak segera menghidupkan kamera dan micnya, saya bisa memberi anda sanksi dengan alasan meninggalkan meeting.”
“Kalian bisa diam enggak?!” teriak Andaru menghidupkan micnya, setelah itu ia meninggalkan meeting itu dan mematikan komputernya.
Andaru kembali fokus menggerakan dronenya, hingga tangkapan itu menujukan seorang wanita lemah tengah ditahan oleh empat orang pria. Tangannya mengepal dengan kuat sampai memutih, matanya manatap tajam dengan penuh emosi, ekspresi wajahnya seungguh buruk menampilkan kebencian.
Tapi, hatinya langsung lemah ketika melihat wanita itu menangis dan tak lama pingsan. Itu isterinya, Sabrina.
“SIALAN KAU ESHAN!” teriak Andaru penuh emosi.