Chapter 11

1657 Kata
Baru saja Andaru berpikir bahwa hidupnya akan bahagia setelah ini. Tapi nampaknya masalah tidak senang jika tak menghampirinya, satu hari saja. "MAS ANDARUUU! MAS AULIAN!" Andaru dan Aulian yang mendengar teriakan Bi Lela dari halaman depan segera bergegas kesana secepat mereka bisa. "Ada apa, Bi?" tanya Aulian yang sampai deluan, di berada diujung tangga ketika mendengar teriakan dari wanita paruh baya itu. "It—itu, Mas!" tunjuk Bi Lela pada sesuatu di dalam bungkus plastik hitam yang nampak sudah terbuka setengah. Aulian yang penasaran, segera menarik benda itu hingga isi di dalamya jatuh dan mengeluarkan bau menyengat. Andaru yang melihat itu membulatkan matanya, degup jantungnya berdetak perlahan saat melihat seeokor kucing yang biasanya selalu ia marahi karena terlalu gendut, kini berada di atas tanah dengan tubuh penuh sayatan. "Mm—motty?" Andaru terjatuh di pinggir dengan tubuh terasa lemas. Itu Motty, kucing yang ia rawat sejak tinggal di rumah ini. Kesedihan langsung memenuhi hatinya ketika ditinggalkan hewan yang sudah seperti sahabatnya. Hanya Motty yang bisa ia ajak bicara ketika merasa kesepian dan tidak ada siapapun. Dan, sekarang kucing itu telah tiada. Motty harusnya berada di dalam rumahnya dengan aman namun memang sesekali dibiarkan keluar untuk bermain. Aulian yang melihat itu adalah kucing kesayangan Motty, segera mengambil kucing itu dengan plastik. "Biar gue kubur di belakang rumah," katanya sebelum meninggalkan Andaru lewat pintu samping. Kesedihannya perlahan menjadi amarah. Andaru mengepalkan tangannya penuh kebencian. Hari ini kucing kesayangannya, besok mungkin dirinya atau orang terdekatnya. Pria itu berdecak marah, merutuki dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa. "Mas Andaru ada apa?" tanya Sabrina yang baru turun, wanita itu meraba-raba jalan untuk mencari Andaru. "Motty dibunuh seseorang, sekarang lagi dikubur sama Aulian," jawab Andaru yang di wajahnya tersisa kesedihan dan kekhawatiran. Sabrina yang mendengar dari suara suaminya sedang ada di sofa segera mendekat kesana. Ia yang mendengar hal itu terkejut dan tidak bisa tak merasa khawatir. "Mas Andaru mau minum? Biar Sabrina ambilin." "Enggak usah, saya enggak papa kok," jawab Andaru dengan wajah sedikit pucat. Ia lalu menatap ke arah isterinya dengan sedikit khawatir. "Untuk beberapa hari ini kamu enggak usah keluar ya. Kalo butuh apa-apa, nanti kita beli." "Iya, Mas," angguk Sabrina yang tahu bahwa suaminya masih shock. Tapi, ada sesuatu yang tidak bisa ditahan Sabrina. "Mas Andaru ngerasa enggak kalo orang jahat itu hari ini semakin berani, padahal beberapa hari yang lalu mereka enggak melakukan apa-apa," ucap wanita itu yang sedang dicerna oleh Andaru. "Maksud lo, gue yang jadi penyebab mereka semakin berani?" tanya Aulian yang memang baru tinggal di rumah ini sejak kemarin, pria itu baru saja selesai mengubur Motty dan mendengar Sabrina mengatakan sesuatu yang tertuju padanya. Sabrina terkejut, ia tidak menyadari Aulian tadi tengah menuju kesini. Wanita itu akhirnya hanya bisa diam, karena tebakan Aulian benar. Ia memang mengira orang jahat itu semakin berani karena kehadiran Aulian. Sabrina berpikir, bahwa Aulian memiliki hubungan dengan orang yang menyakiti suaminya. Namun, Andaru memilih tak mengatakan yang sebenarnya. "Udah, kalian jangan bertengkar," kata Andaru menengahi. Ia lalu menatap ke arah isterinya. "Ini enggak ada hubungannya sama Aulian kok, Sabrina. Ini murni kesalahan saya yang lupa buka pintu malam tadi untuk Motty yang lagi main keluar." "Mas Andaru istirahat aja kalo ngerasa enggak enak badan, Sabrina mau nemenin Bi Lela masak dulu," kata Sabrina pada suaminya yang mendapat anggukan. Setelah Sabrina pergi, Aulian langsung duduk di sofa. Pria itu mendengus sedikit keras, dia masih kesal karena Sabrina sama sekali tidak meminta maaf padanya karena telah menuduh. "Lo tahu apa yang terjadi?" tanya Andaru menebak-nebak, siapa tahu Aulian punya jawabannya. "Oma dan Opa bakal balik bulan depan, katanya mereka udah selesai ngelilingi dunia." Aulian hanya berpikir ke arah sana, tujuan orang tuanya adalah menghilangkan Andaru dari dunia sebelum Oma dan Opa mengetahui bahwa mereka memiliki cucu selain Aulian dan Atha. Andaru memijit kepalanya yang terasa pusing. "Berapa kali harus gue bilang sama orang tua lo, kalo gue nggak bakal mau ngurusin perusahaan. Gue dengan ikhlas ngasih sama lo." "Gue juga enggak mau, kecuali jadi wakil lo," kata Aulian cepat. Ia sudah pernah merasakan menjadi seorang pemimpin dan merasa itu sangat tidak enak. Beban yang dibawa olehnya begitu berat dan harus selalu memikirkan kemajuan perusahaan. Bisa-bisa wajahnya seperti orang tua karena terlalu banyak berpikir. "Mereka enggak akan percaya kalo lo enggak mau harta itu sebelum lo mati." Begitu mengerikan dunia ini, hanya karena harta kekayaan. Tak mengenal apa itu saudara atau orang lain, mereka akan melalukan cara untuk mendapatkannya.  Tapi kekayaan keluarga Kalingga memang bukan main-main, mereka memiliki satu perusahaan besar yang bercabang hingga punya beberapa anak perusahaan. Bayangkan betapa banyak yang yang dihasikan dari itu. Andaru mungkin tidak perlu lagi memasang senyum semangat ketika meeting padahal ia sedang bosan—atau menghabiskan waktunya untuk duduk dan melakukan coding dan menjadi yang error. "Lo harus mulai bergerak, Ru," kata Aulian setelah mereka diam beberapa saat. "Dulu lo mungkin cuman seorang diri, tapi sekarang lo punya isteri, Bi Lela dan gue untuk dilindungi. Lo harus melakukan sesuatu," lanjut Aulian dengan wajah serius. Benar apa yang dikatakan Aulian, Andaru harus melakukan sesuatu. Mungkin ia tidak akan bisa membalas semua yang dilakan Eshan dan Sani tapi ia harus memberikan satu pukulan besar untuk mereka agar berhenti menganggu Andaru beberapa saat. Dan, saat itulah ia berpikir apa yang harus dilakukannya. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan perkataan Aualian. Ia memang harus melindungi Sabrina, Bi Lela yang sudah ia anggap sebagai seorang ibu tapi kenapa harus melindungi Aulian juga?! "Gue enggak sudi ngelindungi lo," kata Andaru cepat membuat Aulian mendengus. "Gue emang anaknya, Ru. Tapi, kemungkinan juga mereka akan ngelenyapin gue kalo ganggu mereka. Toh, mereka masih punya Atha untuk jadi boneka." "Iya-iya. Gue nanti ngeletak lo paling depan kalo mereka datang lagi," ujar Andaru sambil terkekeh membuat Aulian mendengus.  Pria yang lebih tua beberapa bulan itu menghela nafasnya, sedang berpikir apa yang harus ia lakukan agar membuat Eshan dan Sani sibuk untuk beberapa saat dan tidak menganggunya lagi. "Gue punya ide bikin mereka kalang kabut!" kata Aulian sambil tersenyum miring. Lihatlah, ini balasan untuk mereka karena telah membuatnya beberapa hari yang lalu menjadi gembel.  "Lo mau ngelakuin apa?" tanya Andaru penasaran. "Lo tunggu aja di rumah, gue pergi sebentar." Setelah itu Aulian pergi, pria itu sempat meminjam uang pada Andaru karena tidak memiliki ongkos menuju tempat yang hendak ia tuju. Andaru lalu menyanderkan tubuhnya ke sofa ketika tidak ada siapun lagi. Ia terus menarik nafas lalu menghembuskannya secara, begitu terus hingga rasanya bebannya sedikit mengurang. Melihat apa yang terjadi hari ini, nampaknya mereka memberikan tanda untuk bersiap perang. Pria itu sebenarnya tidak ingin seperti ini, salah satu dari mereka pasti akan ada yang terluka. Andaru terlalu takut membahayakan siapapun. "Mas Andaru?" panggil Sabrina yang tanpa disadari sudah berdiri di dekat sofa. "Ini teh hangat, diminum dulu." "Siapa yang buat, Sab?" tanya Andaru curiga, karena jika Bi Lela yang membuatkan ini, bisa saja perempuan paruh baya itu menambahkannya dengan ramuan anehnya lagi seperti malam tadi. Tidak masalah sih sebenarnya tapi Andaru kasihan pada Sabrina. "Sabrina yang bikin, Mas," jawab Sabrina duduk di dekat suaminya. Gadis itu masih tersenyum dengan lembut walau memiliki kekhawatiran pada Andaru. "Harusnya teh ini enggak usah pake gula, ngelihat kamu sambil minum teh ini soalnya udah kemanisan," gombal Andaru yang membuat Sabrina terkekeh dan bersemu mendengarnya, tak menyangka bahwa pria itu bisa juga menggombal. "Terima kasih tehnya," kata Andaru yang merasakan sedikit tenang. "Apa masih sakit yang malam tadi?" tanya Andaru ketika mengingat malam tadi apa yang mereka lakukan hingga Sabrina agak kesusahan berjalan. Pipinya sontak kembali memerah, ikut mengingat kejadian semalam. "Udah enggak terlalu, Mas." "Baguslah, kalo masih terssa sakit, kamu istirahat aja dulu," tutur Andaru membuat Sabrina mengangguk. "Saya ke atas lagi ya, kayaknya tadi Andrea bilang ada kerjaan." Sabrina yang mendengar nama perempuan yang beberapa hari disebutkan kembali, sontak merasakan hatinya tak enak. Ia berusaha untuk tidak berperilaku cemburu, toh, ia yakin Andaru tidak akan melakukannya. Tapi mengingat bahwa Andaru selalu bekerja dengan si Andrea itu membuat hatinya tak nyaman. Oh, Sabrina, andai dia tahu bahwa Andrea yang dimaksud adalan sebuah sistem robot yang bertugas seperti asisten pribada. Bagaimana Andaru bisa berselingkuh jika ia memiliki isteri nyata? ——— Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi, membuat orang-orang mengutuk siapa pemiliknya karena menbahayakan orang lain. Tapi nampaknya si pengemudi tak peduli, ia hanya berpikir bagaimana caranya dunia tahu bahwa ia memiliki mobil baru. Atha mendengus, ingat perjuangan mendapat mobil ini agak sulit daripada mobil-mobil sebelumnya. Setelah berita tentang kecelakaannya heboh, Papanya habis-habisan memerahinya bahkan hendak menyita mobil ini yang telah diberi. Untung saja ada Mamanya, hingga membuat Papanya tak marah lagi. Mobil yang dikendarainya Atha akhirnya sampai di apartemen milik tunangannya yang seorang artis. Hari ini ia memang tidak menghubung sang kasih karena bermaksud ingin memberi kejutan dengan membawakan tas mewah yang diidamkan sang kekasih. Atha lalu masuk ke dalam lift hingga berada di depan pintu apartemen sang kekasih. Karena ia yang membelinya, dia tahu kata sandinya. Ia lalu membuka pintunya dengan perlahan dan berjalan dengan mengendap-ngendap agar bisa memberi kejutan. Namun ternyata sang kekasih lebih dulu memberi kejutan padanya. Tunangannya tengah berciuman mesra dengan orang lain, di depan mata Atha sendiri.  "b******n!" teriak Atha begitu kuat hingga suaranya keluar dari apartemen karena pintu tak tertutup. Atha langsung menghajar selingkuhan kekasihnya itu dengan kuat hingga terjadi adegan berkelahi yang mengundang orang-orang untuk mengintip dan merekam. "Lo bakal menyesal karena selingkuh dari gue," tunjuk Atha marah pada tunangannya yang kini hanya bisa menangisi kebodohannya. "Lo juga akan menyesal karena selingkuh sama dia," tunjuknya pada selingkuhan tunangannya. "Kita resmi putus, gue enggak mau nikah sama lo." Atha lalu keluar dari apartemen itu dan menabrak kerumunan. Lelaki itu memegang pipinya yang memar dan bibirnya yang berdarah. Walau sudah bertingkah seperti orang keren, Atha tetaplah anak manja. Ia langsung menghubungi Mamanya dan merengek untuk membalas pada mantan tunangan dan selingkuhannya. "Tenang aja, Mama akan belas perempuan jalang itu dan selingkuhannya," kata Sani disebrang telepon. "Tapi, Atha, kamu harus pastiin kalo enggak ada yang tahu tentang hal ini atau Papa kamu akan marah besar lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN