"Lo masih enggak percaya sama gue?" tanya Aulian pada Andaru. Mereka kini tengah duduk di kursi teras rumah.
Andaru yang mendengar itu sontak berdecih. "Gimana gue percaya sama lo kalo keluarga lo pengen banget gue mati?" tanya pria sarkas.
Aulian yang mendengar itu mengangguk santai, tidak ada sedikit pun raut ketegangan di wajahnya padahal Andaru melihatnya seperti tengah melihat setan. "Tapi itu keluarga gue, bukan gue,” jawabnya atas perkataan Andaru.
"Dan jangan lupain juga kalo lo bagian dari keluarga Kalingga, cucu pertama pula.”
"Cucu pertama yang enggak pernah dianggap," balas Andaru sambil tersenyum pahit. Dunia hanya tahu bahwa cucu pertama keluarga Kalingga yang terkenal sebagai keluarga terkaya di negeri ini adalah Aulian Basira Kalingga. Bukan Andaru Prasmana Kalingga.
"Lo kelamaan sembunyi di dalam rumah, sih," ejek Aulian sambil mengambil jajanan pasar yang disajikan dengan teh hangat. Ia tidak menyia-nyiakan apa yang disajikan Bi Lela.
Andaru sebenarnya ingin membalas, bahwa alasan ia bersembunyi selama ini karena terlalu takut dengan ancamanan yang diberikan oleh kedua orang tua Aulian. Ia sebenarnya juga ingin menyalahkan pria itu namun hingga saat ini, ia masih belum bisa membuktikan bahwa Aulian ikut terlibat.
Atau, memang selama ini Aulian tidak pernah ikut campur dan prasangka Andaru padanya murni karena takut.
"Lo mendingan pergi sekarang," usir Andaru ikut mengambil risol dan mengunyahnya. Jajanan pasar ini dibawakan khusus oleh Sabrina untuknya, bukan untuk pria itu yang sudah menghabiskan empat.
Aulian memolototkan matanya dengan mulut penuh, namun ia mengunyahnya terlebih dahulu atau Andaru akan marah karena terkena semburan makannya. "Gue jadi gembel sekarang," balas pria setelah menelan makannya, ia langsung meneguk teh hangat dan terlihat santai sekali.
Andaru kembali berdecih, tidak percaya bahwa seorang Aulian akan menjadi gembel. Tapi mendengar apa yang dikatakan Bi Lela dan melihat kondisi pria itu pertama kali bertemu, membuatnya ragu. Bagaimana pun, Andaru tahu bahww Aulian telah keluar dari rumah orang tuanya.
"Lo tahu kan gue udah melepaskan diri dari rantai pengikat bokap gue?” tanya Aulian berhenti makan karena jajajan di pasar di piring itu tinggal satu. Entah percaya atau tidak, siapa yang memakan itu pasti akan dianggap kelaparan.
“Setelah itu, Papa mengambil semua fasiltasnya yang diberikan sama gue, gue coba untuk cari kerja tapi kayaknya Papa bikin gue susah untuk dapat kerja. Bahkan gue berpikir kalo pencurian ini ada hubungannya dengan keluarga gue." Aulian yang baru pulang dari luar negeri hasil uang tabungannya, tiba-tiba mengalami pencopetan yang menghabiskan seluruh uang di tangannya. Tapi ada yang aneh, pencuri itu sama sekali tidak melukainya.
Andaru terdiam sebentar, mencerna cerita dari Aulian. Ia pun mengambil jajanana pasar terakhir itu bertepata saat Bi Lela keluar dari rumah dengan membawa air putih, karena walaupun sudah ada teh, siapa tahu kedua lelaki itu masih haus?
“Wah, Mas Andaru lapar juga? Habis jajanan pasarnya!” Bi Lela menyangka bahwa Andaru yang menghabiskan jajanan pasarnya membuat pria itu melotot ke arah Aulian yang tergelak.
"Iya, nih, Bi Lela. Andaru lapar banget," kata Aulian membuat Andaru mendengus. Bi Lela akhirnya memutuskan untuk masuk karena ingin membuat makan siang.
"Eh, perempuan yang pergi ke pasar sama Bi Lela itu siapa? Anaknya Bi Lela? Cantik juga, kenalin gue dong. Jomblo nih." Aulian mengedip-ngedipka matanya membuat Andaru berkata najis, pria itu sambil melebarkan senyumnya. Jika yang diberikan senyum itu adalah gadis muda, mungkin akan terpesona.
"Itu isteri gue."
"Uhuk! Uhuk!" Aulian yang meneguk air putih langsung tersedak ketika mendengar perkataan yang diucapkan Andaru. Ia lalu terkekeh, merasa bahwa pria itu pasti bercanda.
"Kebanyakan bergaul sama robot, garing banget candaan lo," balas Aulian yang tahu bahwa Andaru menyukai alat eletronik yang sudah canggih, bisa menjawab apa yang dipinta.
"Siapa yang bercanda? Itu emang isteri gue," balas Andaru sambil tersenyum sombong. Wajahnya kali ini terlihat tengil, jika tidak ada yang tahu bahwa pria itu sudah 25 tahun. Mereka akan menganggap Andaru baru saja tamat SMA.
"Lo ketemu dimana? Dating apps? Enggak mungkin sih cewek alim kayak gitu main dating apps." Mengingat sepupunya itu tidak pernah keluar rumah, hanya lewat dating apps rasanya pria itu bisa bertemu dengan isterinya. Tapi melihat penampilan perempuan itu yang alim dan kondisinya, tidak mungkinkan?
"Tuh, lo tahu. Isteri gue itu sholeha, cocok sama gue yang sholeh." Aulian yang mendengar itu memegang dagunya, sedikit berpikir. Apa karena Andaru yang ia tahu rajin beribadah bisa mendapatkan isteri seperti itu?
"Jadi lo sekarang mau gimana? Apa yang mau lo lakuin?" tanya Andaru kembali ke permasalahan awal.
Aulian yang lahir beberapa bulan setelah Andaru tiba-tiba memasang wajah memelas. “Kak Andaru, tolong adekmu ini dong. Gue mau numpang di rumah lo beberapa hari aja."
Andaru yang mendengar itu merasakan tubuhnya merinding, tubuh besar san tampang Aulian benar-benar tidak cocok berbicara seperti itu. Andaru akhirnya terdiam sebentar sebelum mengangguk.
"Gitu dong.” Aulian tersenyum lagi dan bangkit. “Bi Lela udah selesai masak belum? Gue mau makan nih." Aulian lalu langsung bergerak masuk ke dalam rumah.
“Eh, Ru. Lo kok belum bilang sama gue ‘anggap aja rumah sendiri’. Tapi enggak apa, sih, lo enggak usah ngomong kayak gitu, gue udah anggap rumah sendiri.” Setelah mengatakan hal itu, Aulian langsung menghilang dari balik pintu rumah.
Andaru mendengus, lalu segera membawa piring dan beberapa gelas untuk dibawa ke dapur. Pria itu juga ingin melihat isterinya, sekalian memberi petuah untuk menjauhi Aulian yang kadang bertingkah seperti buaya.
"Sabrina dimana, Bi?" tanya Andaru krtika tak melihat tak keberadaan isterinya di dapur.
"Mbak Sabrina di kamar, Mas. Katanya enggak enak badan." Andaru mengangguk, meletakan piring dan beberapa gelas itu ke wastafel lalu langsung menuju keluar dapur.
"Bucin banget, tahu isterinya sakit langsung dicari," cibir Aulian yang tengah duduk di kursi makan sambil menunggu Bi Lela yang masak. "Saya bantuin ya, Bi,” ujarnya ketika merasa bosan.
Kembali ke Andaru yang sekarang sedikit mempercepat langkah kakinya untuk sampai di kamar. Pria itu membuka pintu dengan perlahan, siapa tahu bahwa isterinya tengah tertidur namun malah terbangun karena suara pintu.
Setelah beberapa kali tidur bersama, Andaru merasa isterinya itu mudah sekali terbangun. Contohnya ketika ia hendak ke toilet, Sabrina terbangun karena kasur bergerak.
Saat sudah berada di dalam kamar, Andaru menemukan isterinya tengah berbaring memunggungi di atas kasur. Andaru yang biasanya melihat Sabrina begitu ceria dan tidak bisa diam, merasa ada yang hilang ketika melihat gadis itu sakit.
"Agak anget, kamu sakit?" tanya Andaru ketika menempelkan telapak tangannya di dahi sang isteri membuat Sabrina menoleh.
"Enggak kok, Mas," jawab Sabrina sambil mengubah posisi tidurnya menjadi lurus sedangkan Andaru duduk di pinggiran kasur.
"Terus kenapa enggak ke bawah?" tanya Andaru heran, biasanya gadis itu semangat sekali saat memasak tapi sekarang malah memilih di dalam kamar. Andaru sebenarnya tidak apa-apa tentanh itu, ia membebaskan apa yang mau dilakukan oleh isterinya. Tapi, ia takut gadis itu sedang dalam kondisi tubuh tidak baik.
Sabrina mengerutkan dahinya, ia ingin mengatakan sesuatu namun takut menyingung Andaru. Bagaimana pun pria itu adalah sepupunya.
"Apa karena ada Aulian?" tanya Andaru yang dijawab anggukan pelan Sabrina.
"Geseran sedikit," kata Andaru membuat Sabrina menggeser posisinya agak ke tengah. Pria itu lalu langsung membaringkan tubuhnya hingga bersebelahan dengan sang isteri. "Aulian enggak jahat kok. Yah, walapun kalo dia ketawa suaranya ngeri, mirip genderuwo mau makan mangsa.”
Sabrina entah kenapa tidak bisa tersenyum ketika mendengar candaan suaminya. Hatinya kini tengah risau. “Apa Mas Aulian ada hubungan sama orang jahat yang ingin menyakiti Mas Andaru?" tanya Sabrina membuat suami terdiam sebentar dan berpikir.
Andaru sebenarnya ingin mengatakan semuanya, ia ingin Sabrina mengetahui semua tentang dirinya. Tapi, apakah jika isterinya itu tahu bahwa banyak bahaya yang mengancam Andaru, Sabrina masih mau berada disisinya?
“Mas Andaru?” panggil Sabrina membuat Andaru tersentak. Pria itu lalu menghela nafasnya dan sedikif tersenyum.
“Aulian enggak ada hubungannya dengan orang jahat itu kok,” terang Andaru.
“Kamu jangan khawatir, kalo Aulian macam-macam. Saya yang akan penggal kepalanya sendiri," kata Andaru sambil menyelipkan rambut yang ke luar ke dalam jilbab isterinya.
Sabrina tersenyum, ia sedikit lega. Ia yakin jika Andaru akan menjaganya. Gadis itu seketika merasa beruntung memiliki suami seperti Andaru, pria itu pekerja keras, lembut dan baik padanya. Andaru mungkin juga sangat tampan, dari suaranya yang jernih, Andaru mungkin terkenal jika jadi artis.
"Kenapa?" tanya Andaru ketika melihat wajah Sabrina tiba-tiba berkerut.
"Apa Mas Andaru tampan?" tanya Sabrina membuat Andaru yang mendengar itu tergelak. Gadis itu harus tahu bahwa ia sangat tampan.
Andaru lalu mengambil tangan Sabrina lalu menempelkan di wajahnya. Tangan lembut gadis itu menelusuri wajah suaminya, alis yang nampak lembat, hidung mancung dan wajahnya yang terasa mulus.
"Mas Andaru tampan,” tutur Sabrina sambil tersenyum manis. Andaikan ia bisa melihat wajah suaminya, ia pasti sangat bahagia.
"Darimana kamu tahu?" tanya Andaru terkekeh.
"Sabrina bisa ngerasainnya. Anak kita pasti nanti juga ganteng,” tutur Sabrina sedikit merasa keceplosan. Ia lalu menggigit bibir bawahnya karena merasa malu.
“Jangan digigit, bibir kamu nanti luka,” kata Andaru. “Anak kita nanti pasti juga sangat cantik kalo perempuan.”
“Sabrina,” panggil Andaru membuat gadis itu menjawab, “iya, Mas?”
“Apa kamu siap malam ini jika saya memintak hak saya?” tanya Andaru dengan raut wajah agak serius, ia merasa sudah waktunya untuk menjadi Sabrina utuh miliknya.
“Siap, Mas,” angguk Sabrina yang merasakan detak jantungnya berdebar.
“Malam nanti, kita buat Sabrina atau Andaru kecil,” bisik Andaru di telinga isterinya, membuat Sabrina merasakan pipinya memanas.
——-
Malam pun tiba, mereka segera makan malam bersama di meja makan. Kali ini suasana agak berbeda, menjadi lebih ramai dengan kehadiran Aulian yang ternyata senang sekali berbicara. Tidak buruk juga sih, sebenarnya.
"Sabrina beneran kemarin sadar waktu nikah sama Andaru?" tanya Aulia sambil menatap penasaran, bagaimana Andaru bisa mendapatkan wanita sencatik dan alim seperti Sabrina?
“Lebih tampan saya lho daripada Andaru,” kata Aulian membuat Andaru yang mendengarnya mendengus.
Sabrina menampakan wajah tak nyamanya ketika mendengar perkataan Aulian yang segera membuat Andaru sadar. “Udah lo makan aja, jangan ganggu isteri gue.”
Aulian yang mendengarnya hanya manyun, isteri Andaru ternyata tidak asik. Ia bisa melihat wajah tak nyaman perempuan itu.
Setelah selesai makan, Sabrina ingin mencuci piring karena siang tadi tak ikut membantu Bi Lela memasak. Tapi, wanita paruh baya itu mengatakan tidak apa-apa dan pada akhirnya, mereka mencuci piring bersama.
“Mas Andaru sebelum masuk kamar, minum ini dulu ya,” kata Bi Lela memberikan segelas cangkir minuman yang ia telah buat khusus untuk Andaru.
"Itu apa, Bi? Saya juga mau dong.” Bi Lela dengan cepat menggeleng, Aulian belum punya pasangan. Kasihan nanti pria itu jika meminum ini dan merasakan khasiatnnya.
“Itu obat untuk sakit pinggang, Mas. Mas Dari kan kerjaannya duduk terus di depan komputer.” Aulian mengangguk-angguk, membiarkan Andaru meminumnya. Wajah pria itu mengerinyit ketika menghabiskan segelas.
“Lo tidur aja di kamar tamu,” ujar Andaru pada Aulian yang masih menonton televisi sebelum dirinya menuju ke kamar dengan perasaan gerah dan sesuatu yang perlu dituntaskan.
“Udah musim kemarau apa? Panas!”
———
Besok paginya, Andaru membuka pintu kamarnya dengan senyuman yang begitu lebar. Seolah ingin mengatakan pada dunia, bahwa dirinya bahagia. Pria itu merentangkan kedua tangannya, merasa segar dan bahagia karena kegiatannya malam tadi. Bahkan setelah beribadah subuh, mereka sempat melakukannya sekali lagi.
Aulian tiba-tiba keluar dari kamar sebelah yang merupakan tempat bekerja Andaru dengan muka kusam.
“Ngapain lo disana? Enggak tidur di kamar tamu?” tanya Andaru masih tersenyum bahagia kontras dengan wajah masam Aulian.
“Kamar tamu belum dibersihin, jadi gue numpang tidur di tempat kerja lo,” jawab Aulian lalu melewati Andaru menuju ke bawah.
Andaru mengerutkan dahinya sedikit berpikir., jika Aulian berada di samping kamarnya. Apa pria itu mendengarnya?
“Lo sama isteri lo heboh banget, gue jadi enggak bisa tidur!” seru Aulian yang membuat Andaru malu, jadi pria itu mendengarnya.
Kasihan sekali Aulian.