Chapter 9

1534 Kata
"Apa? Mau ke pasar sama Bi Lela?" tanya Andaru memasang wajah kaget, menatap ke arah Sabrina yang sekarang hanya berjarak beberapa centi dari darinya. Sabrina yang tengah membantu memasang kancing di kemeja suaminya mengangguk. "Bahan-bahan udah habis, Mas. Jadi kami mau ke pasar." Andaru membiarkan Sabrina untuk menyelesaikan kegiatan memasang kancing dan dasinya terlebih dahulu, barulah nanti lebih banyak. Mereka kini tengah duduk berdampingan di sofa kamar mereka. Tangan Sabrina dengan cekatan memasang kancing dan mengikat dasi di leher suaminya.  Pria itu tidak ingin menyia-nyiakan kegiatan ‘mengurus suami’ dengan berbicara. Andaru ingin menikmatinya, ppalagi ketika gadis itu meraba-raba bagian d**a Andaru untuk mencari kancing yang belum terpasang, seperti ada geli-gelinya. Sedangkan Sabrina begitu menyukai kegiatan mengurus suaminya ini karena bisa dekat dengan Andaru. "Kenapa enggak pesan online aja? Bi Lela bukannya masih sakit?" tanya Andaru setelah ia berpakai rapi. Zaman sekarang sudah semakin canggih, jika tidak salah ada aplikasi yang menjual kebutuhan pangan seperti sayur-sayur. Mereka hanya tinggal memilih dan pesanan akan langsung diantar dalam keadaan segar. "Saya pernah kok beliin sayur-sayuran untuk Bi Lela secara online." Andaru pernah melakukannya, walapun setelah itu Bi Lela mengomelinya karena harga sayur bayam yang ia beli terlalu mahal. Sabrina menghela nafasnya, ia menarik tangan Andaru untuk melipat lengan kemeja suaminya hingga ke siku. Pria itu tidak menyukai kemaja bagian lengannya dibiarkan panjang saja. Lagi pula Andaru itu sedikit ceroboh, ia pernah tak menyadari mejanya kotor dan membuat lengannya kemejanya ikut kotor sehingga susah dicuci. "Bi Lela bilang sayur-sayur yang Mas Andaru beli kemahalan, enggak bisa ditawar. Emang sih kualiatasnya bagus, tapi tetap aja mahal," ucap Sabrina dengan jiwa ibu-ibunya.  "Bi Lela udah baik-baik aja kok, Mas. Ini kan udah seminggu, perbannya udah dilepas tiga hari yang lalu," lanjut Sabrina. "Bi Lela juga yang ngajak, jadi enggak papa ya, Mas?"  Andaru sebenarnya tidak setuju tapi melihat Sabrina yang begitu menginginkannya membuat pria itu menyetujuinya. Isterinya itu mungkin bosan karena selalu berada di rumah, sedangkan Andaru mungkin tidak akan bisa mengajak isterinya jalan-jalan seperti suami lain pada umunya. "Mas Andaru mau makan apa hari ini? Biar nanti dicari dan dimasak!" kata Sabrina riang ketika Andaru membolehkannya pergi. "Makan kamu, boleh?" tanya Andaru sambil tersenyum lebar. "Makan Sabrina? Emang Sabrina bisa dimakan ya, Mas?" tanya gadis itu polos membuat Andaru menghela nafanya. "Enggak usak dipikirin, pokoknya hati-hati. Jangan pernah pergi tanpa Bi Lela." Sabrina mengangguk dengan cepat atas perintah dari suaminya. Gadis itu lalu turun ke lantai bawah karena Andaru sebentar lagi akan brefieng. "Dibolehin Mbak Sab?" tanya Bi Lela ketika melihat Sabrina turun.  "Boleh, Bi!" jawab Sabrina sambil tersenyum manis. "Kalo gitu sekarang kita pergi aja gimana?" ajak Bi Lela membuat Sabrina mengangguk. "Bi," panggil Sabrina ketika baru saja keluar dari halaman rumah. "Sabrina kan tadi nanya sama Mas Andaru mau dimasakin apa, Mas Andarunya malah bilang mau makan Sabrina. Emang bisa ya, Bi?" Bi Lela yang mendengar itu sontak membulatkan matanya, tidak menyangka bahwa majikan prianya begitu agresif. Wanita paruh baya itu kemudian menatap ke arah lantai dua, dimana Andaru berada. Ia lalu menggeleng-geleng sambil tersenyum penuh makna. "Ehem, itu artinya Mas Andaru mau membuat bayi sama Mbak Sab!" jelas Bi Lela yang langsung membuat Sabrina terkejut. Gadis itu merasakan pipinya memanas, apa benar yang diberi tahu Bi Lela? "Mas Andaru kayaknya lagi bercanda aja, Bi," jawab Sabrina langsung membuat Bi Lela menatap curiga. "Jangan-jangan, Mbak Sab sama Mas Andaru belom pernah buat bayi?" tanya Bi Lela yang langsung mendapat anggukan polos dari Sabrina. "Jadi ngapain aja di kamar, Mbak?"  "Tidur, Bi," jawab Sabrina. Bi Lela yang mendengar itu geleng-geleng kepala, ini tidak bisa dibiarkan. Kapan dirinya bisa menggendong bayi dari Andaru dan Sabrina jika mereka belum melakukan apapun? Nampaknya, Bi Lela harus mengeluarkan jurus rahasianya. "Tenang aja, Mbak. Bi Lela yang baik hati akan membantu." Angkutan umum berhenti di depan mereka setelah berjalan cukup lama dari rumah hingga ke depan pintu perumahaan. Bi Lela membantu Sabrina untuk masuk lebih dulu, barulah ia duduk di sampingnya.  Sabrina yang merasakan angin sepoi-sepoi dari jendala angkot tersenyum manis, ia sudah lama sekali tidak ke pasar. Saat disana, telinga wanita itu rasanya tak pernah mendengar keheningan, selalu ada orang yang menjual dagangannya atau sedang tawar-menawar. Namun sejak sang ibu telah tiada, Sabrina tidak pernah lagi kesana. Ayahnya terlalu khawatir untuk membiarkan dirinya pergi ke pasar seorang diri sehingga mereka membeli kebutuhan dapur dari tukang sayur yang lewat. Sabrina sebenarnya juga ingin mengajak Andaru. Pria itu pasti sudah melupakan bagaimana bentuk pasar dan sensasinya setelah mengurung diri begitu lama di dalam rumah. Namun, rasanya itu akan menjadi hal yang sulit. "Mbak Sab, kita udah sampai. Ayo turun," ajak Bi Lela pada Sabrina ketika angkot mereka telah sampai di depan pasar. Wanita paruh baya itu lalu mengenggam tangan Sabrina saat memasuki pasar. Ia takut gadis itu tersesat dan membuat Andaru kecewa kepadanya karena tidak bisa menjaga Sabrina.  Setelah mereka membeli apapun yang dibutuhkan, tentu saja dengan sedikit tawar-menawar hingga mendapatkan harga yang pas. Sabrina terkejut dengan ilmu tawar milik Bi Lela yang menurutnya mengangumkan. Wanita itu bisa mendapatkan apa yang ia mau dengan harganya. "Bi Lela keren banget!" ucap Sabrina ketika mereka hendak keluar dari area pasar. Bi Lela ternyata bisa malu-malu juga, wanita paruh baya itu tersenyum dan bilang bahwa itu bukan apa-apa. "Mbak Sab, mau beli jajanan pasar dulu enggak?" tawar Bi Lela ketika menuju keluar pintu pasar banyak pedagang jajanan yang berbaris. "Mas Andaru suka enggak, Bi?" tanya Sabrina yang selalu mengingat suaminya. "Suka, Mbak. Coba aja kasih jajanan pasar, enggak sampai lima menit udah habis." Sabrina lalu mengangguk, mereka lalu memilih jajanan pasar untuk di bawa pulang. Mereka akhirnya tinggal menunggu angkot, Bi Lela meminta Sabrina untuk meneduh dulu karena matahari sudah naik. Namun wanita itu menolak karena takut nanti angkotnya datang.  "Bi Lela?!" seru seorang pria dewasa saat melihat Bi Lela dengan seorang gadis sedang menunggu di pinggiran trotoar. Sabrina yang mendengar suara bass pria itu agak mundur, mengingat kejadian beberapa hari lalu saat ada sopir taksi yang hendak membawanya kabur membuat ia jadi sedikit trauma. "Siapa, Bi?" "Mas Aulian? Ini beneran Mas Aulian? Tapi kok kayak gembel?" tanya Bi Lela ketika melihat pria dewasa itu lebih jelas. Aulian yang mendengar itu memasang wajah sedih, memang penampilannya sekarang terlihat seperti gembel. Dengan celana selutut, kaos tipis dan sandal biasa. Belum lagi ia yang belum mandi selama dua hari. Tapi, mana ada gembel dengan tubuh yang tinggi serta tegap, wajah tampan dan kulit bersih? "Ini beneran Aulian, Bi. Tiga hari yang lalu, waktu tiba di Indonesia. Semua barang dan pakaian saya dicuri, Bi." Aulian benar-benar malanh, saat naik kendaraan sebuah taksi ia malah diberikan obat tidur dan ketika bangun, beginilah keadaannya. "Ayo ikut ke rumah aja, Mas," ajak Bi Lela yang tidak tega melihat keadaan Aulian. "Saya lapar, Bi," kata Aulian dengan tatapan tertuju ke arah bungkusan jajanan pasar di tangan Sabrina. Seoalah memiliki sensor, Sabrina yang merasakan jajajan pasar untuk Andaru terancam segera memegangnya dengan erat. "Ini Mas, beli dulu makanan. Biar Bibi sama Mbak Sab nunggu sini untuk cari angkot." Aulian yang mendengar itu mengambil uangnya dengan gembira. Pria itu lalu membeli batagor yang dibungkus dengan plastik bening agar bisa dimakan di angkot. "Itu siapa, Bi?" tanya Sabrina yang sedari tadi penasaran. "Itu Mas Aulian, Mbak. Sepupunya Mas Daru." Sabrina yang tahu bahwa pria itu adalah sepupu suaminya seketika merasa bersalah, harusnya ia memberikan saja jajanan pasarnya. Aulian tak lama kembali, pria itu dengan tak bersalahnya makan sambil berjalan dengan gaya santainya. Angkot pun tiba, mereka bertiga masuk ke dalam sana dan tak lama berjalan. "Karena perut udah kenyang, sini biar saya aja yang bawain semuanya, Bi!" kata Aulian membuat Bi Lela merasa lega. "Enggak usah, biar saya aja," tolak Sabrina mengengam belajaannya. "Biar saya aja, ini sebagai ucapan terima kasih," kata Aulian memegang belajaan Sabrina namun gadis itu masih menahannya. Ketika pria itu menariknya, Sabrina semakin menguatkannya. Hingga terjadilah adegan tarik-menarik yang membuat Bi Lela gemas. "Yasudah," kata Aulian akhirnya menyerah. Namun ia masih penasaran dengan sosok wanita yang bersama Bi Lela? Apa anaknya? Kalo iya, Aulian tak keberatan punya mertua seperti Bi Lela. Mereka bertiga akhirnya sampai di depan rumah, Aulian yang melihat tidak ada perubahan pada rumah bertingkat dua ini mendengus. "Bi, si Daru-daru itu belum juga keluar dari rumah juga ya?" "Iya, Mas, tapi udah beberapa kali Mas Andaru keluar dari rumah." Aulian yang mendengar itu mengerutkan dahinya bingung, ia tahu apa penyebab Andaru tidak pernah keluar dari rumah sejak kematian Mamanya. Ia sudah berusaha untuk mengajak pria itu keluar dari rumah namun perlakuan Andaru padanya selalu buruk. CLEK! Andaru yang mengetahu bahwa Sabrina dan Bi Lela pulang dari pasar segera membukakan pintu dan ingin membawa barang belanjaan mereka.  "Ini aja?" tanya Andaru mengambil belajaan dari Sabrina, ia belum menyadari bahwa ada orang lain selain dua wanita itu. "Ada sama Mas Aulian, Mas," kata Sabrina membuat Andaru yang mendengar itu membulatkan matanya, tidak ada waktu untuk terkejut. Pria itu langsung menjatuhi belanjaannya dan menatap tajam ke ke arah Aulian. "Lo mau ngapain kesini?!" teriak Andaru membuat Sabrina terkejut. Ia pikir suaminya memiliki hubungan yang baik dengan sepupunya namun ketika melihat bagaimana sapaan Andaru, ada yang aneh di hubungan mereka. "Dar, lo tenang dulu—" "Pergi lo dari sini!" teriak Andaru dengan wajah menggelap. Bagaimana bisa ia menerima orang yang hendak mencelakainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN