Chapter 8

2005 Kata
“Pak Eshan, ada Bu Sani mau masuk.” Seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan lembaran-lembaran lapornya, mendongak ketika mendengar perkataan Sekretaris-nya yang baru saja masuk. “Suruh masuk aja.” “Papa!” teriak Sani saat masuk ke dalam ruang suaminya. Wanita paruh baya itu terlihat panik, ia yang beberapa menit yang lalu sedang sibuk memanjakan diri di salon kecantikan bersama teman sosialitanya, luar biasa terkejut ketika mendengar sebuah kabar dari anak buahnya. “Ada apa, Ma?” tanya Eshan yang saat mendengar suara isterinya langsung tidak bisa berkonsentrasi, pria itu memilih merenggangkan ikatan dasinya sebelum menyenderkan tubuh besar itu kursi mewahnya. “Anak haram itu ternyata sudah menikah!” kata Sani terlihat geram. Entah apa yang sudah dilakukan orang yang baru saja disebutnya namun kilatan kebencian terlihat jelas di bola matanya. Eshan yang sudah tahu hal itu lebih awal hanya bisa memasang wajah datar. Ia sama terkejutnya seperti sang isteri ketika mendengar kabar ini. Dirinya sama sekali tak menyangka, pria itu akan menikah begitu cepat, tanpa tanda-tanda sekali. “Papa harus cepat menyingkirkan anak haram itu lagi!” seru Sani yang tak bisa tidur nyenyak sebelum melihat nisan bertuliskan nama orang itu. “Suruh orang yang berpengalaman untuk melakukannya, jangan tukang ojek yang udah tua!” Sani masih tak habis pikir dengan otak suaminya yang meminta seorang pria paruh baya yang sudah sepuh untuk membunuh anak haram itu. Dan apa yang terjadi? Mereka harus mengganti rugi atas kematian pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu dengan uang yang cukup banyak. Eshan juga sebenarnya menyayangi hal itu, bukan karena uang mereka habis, toh keluarga Kalingga rasanya tidak akan kehabisan uang. Kejadian dimana pria itu keluar dari rumahnya setelah bertahun-tahun adalah hal yang terduga, anak buahnya hanya bisa menyiapkan rencana sederhana yaitu menyewa seorang tukang ojek untuk membunuh pria itu. Tapi untunglah pria paruh baya itu telah tiada akibat tertabrak mobil, yah walaupun sebelum itu juga anak buahnya memberikan sesuatu pada pria itu hingga umurnya tak akan panjang. Ia tidak bisa membiarkan rencananya terbongkar. “Kita pokoknya harus segera nikahi Atha sama tunangannya!” kata Sani yang merasa cemas. Bagaimana ia tidak cemas saat semua harta yang ia miliki bisa hilang dalam sekejap jika kedua mertuanya tahu bahwa mereka memiliki seorang cucu? “Dengan begitu, pasti orang tua Mas Eshan akan langsung memberikan hartanya untuk Atha. Papi dan Mami menginginkan cucunya menikah baru memegang perusahaan kan?” Eshan tak yakin apa yang dikatakan oleh isterinya. Atha memang cucu kandung kedua orang tuanya, namun anak bungsunya itu terlalu sibuk menghabiskan uang dan melakukan hal buruk. Anak bungsunya itu juga tidak tahu cara mengurus perusahaan. Jika saja anak pertamanya mau untuk segera menikah, kedua orang tuanya mungkin tidak akan segan memberikan semua aset keluarga pada anaknya. “Kedua orang tua kamu enggak boleh tahu kalo anak haram itu menikah, Mas!” seru Sani lagi. Wajahnya terlihat stres dan ketakutan, sedikit membuatnya panik karena memunculkan kerutan di wajahnya. “Tenang saja, Ma. Papi dan Mami bahkan sampai saat ini tidak tahu bahwa mereka memiliki cucu selain anak-anak kita. Cucu dari anak pertamanya yang telah mati secara mengenaskan.” Ketika mengatakannya, Eshan sama sekali tidak memiliki perasaan. Hanya kebenciaan yang tersisa di hatinya. Padahal orang yang baru disebutnya beberapa detik yang lalu adalah keponakan dan kakak kandungnya sendiri. Tapi menurut Eshan, kakaknya yang sudah tiada itu adalah hal paling baik dalam hidupnya. Dan keluarga Kalingga tidak membutuhkan anak yang tidak tahu jelas siapa Ayahnya, menjadi penurus perusahaan keluarga. “Pak Eshan, Pak Atha mau mas—“ “Apaan sih lo? Ini bokap gue, enggak usah pake lapor.” Seoranga laki-laki berusia 23 tahun masuk, mendorong sekretaris itu hingga terjatuh. Namun wanita muda itu hanya bisa segera bangkit, mengangguk dan segera menuju kembali ke ruangannya. “Pa, Ma, aku mau mobil baru,” pinta Atha sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. “Bukannya bulan kemarin Papa baru beliin mobil, sayang?” tanya Sani sambil mendekat ke arah putra bungsunya, suaranya menjadi lembut dengan senyum diwajahnya. Ia memang begitu memanjakan anak-anaknya, sayang sekali si sulung tidak menyukai sifat kedua orang tuanya. “Malam tadi aku enggak sengaja nabrak ibuk-ibuk,. Dia, sih, yang salah. Aku udah ngelakson tapi ya gitu, akhirnya ketabrak.” Tentu saja Atha tak mengatakan yang sebenarnya, ia yang malam tadi dalam pengaruh alkohol membawa mobil dengan cepat dan menabrak seseorang. “Terus apa yang kamu lakukan?” tanya Eshan dengan wajah serius. “Yah, aku tinggalin.” Eshan yang mendengar itu bukannya marah malah lega, padahal anaknya baru saja melakukan hal yang tak bertanggung jawab. “Baguslah, itu lebih baik.” Jika anaknya membantu wanita paruh baya itu, masalah akan menjadi sulit karena wajah anaknya terlihat. Eshan yang melihat kelakukan putra bungsunya hanya bisa menghela nafas. Tak ada gunanya untuk memarahi, hanya Atha, satu-satunya alat yang bisa ia gunakan untuk mengambil harta kedua orang tuanya. Ia pun segera menelpon orang suruhannya untuk segera menghilangkan barang bukti. “Kamu tenang aja, udah Papa beresin. Sekarang pergi sama Mama untuk membeli mobil baru.” ——— “Kalo Mas Andru enggak mau pergi, biar Sabrina yang pergi, Mas!” Sabrina tidak percaya apa yang baru saja ia dengar dari mulut Andaru, menahannya untuk tidak datang ke Rumah Sakit padahal mereka baru mendapat kabar bahwa Bi Lela malam tadi tertabrak mobil. “Sabrina, Bi Lela baik-baik saja. Saya punya teman Dokter disana, dia mengatakan Bi Lela bisa pulang cepat dari Rumah Sakit,” kata Andaru yang sebentarnya juga cemas dengan keadaan wanita paruh baya itu. “Bi Lela enggak punya siapapun disini, Mas. Siapa yang akan jaganya disana?” tanya Sabrina lagi membuat Andaru terdiam. Hal yang dikhawatirkan Andaru adalah orang yang menabrak Bi Lela memiliki hubungan dengan mereka yang selama ini menganggunya. Ia takut terjadi sesuatu dengannya atau Sabrina jika mereka menampakan diri disana. Bagaimana jika keadaan Bi Lela saat ini hanya umpan untuk Andaru keluar? “Apa sih yang Mas Andaru takutin? Apa Mas Andaru takut capek? Panas? Atau takut ada yang melukai?” tanya Sabrina yang tidak bisa menahan mulutnya. Andaru yang mendengar itu mendongak, hatinya sedikit tergores mendengar perkataan isterinya. Bukan itu yang ia takutkan, lebih dari itu semuanya. Tapi ini salahnya juga yang tidak mengatakan apa yang sebenarnya. “Kalo kamu mau pergi, silahkan. Saya tidak akan ikut.” Sabrina yang mendengar itu merasakan hatinya mencelos, tidak percaya suaminya sama sekali tidak menaruh peduli para Bi Lela. Andaru akhirnya sadar, ia memang tidak seharusnya untuk menikahi seseorang. Dirinya sudah begitu kesulitan menjaga kesalamatannya sendiri tapi sekarang malah harus menjaga kesalamatan orang lain. Itu tidak mungkin baginya. Tapi, Andaru tidak bisa berbohong bahwa dirinya juga ingin melihat keadaan Bi Lela. Namun, ia terlalu takut untuk meninggalkan rumah yang menurutnya aman ini. “Maafin Sabrina yang udah ngomong enggak-enggak, Mas. Sabrina enggak tahu apa terjadi.” Sabrina merasa bahwa ada hal lain yang disembunyikan suaminya ketika melihat kehinangan Andaru. “Tapi Sabrina enggak bisa mengabaikan Bi Lela, Sabrina udah anggapnya sebagai ibu. Mas Andaru enggak usah khawatir, Sabrina akan jaga diri baik-baik.” Ketika mendengar bahwa Sabrina sudah menggap Bi Lela ibu, Andaru merasakan hatinya tambah sesak. Andaru hanya bisa menatap kosong ke arah Sabrina yang perlahan bangkit dan menuju pintu keluar. Sebuah tas selempang sudah dikenakan gadis itu menandakan bahwa dirinya sudah siap. Sabrina masih yakin bahwa suaminya tidak akan membiarkan dirinya pergi sendiri. Ia memperlambat langkahnya namun tak kunjung mendengar suara Andaru yang memanggilnya. Hingga ketika kepercayaannya bahwa Andaru datang sudahmenipis, Sabrina akhirnya memutuskan untuk keluar dari mencari taksi. “Mau ke Rumah Sakit, Mbak?” tanya seorang sopir taksi yang baru berhenti di dekat sana. Sabrina yang mendengar suara mesin mobil berhenti dan mendengar perkataan sopir taksi itu langsung tersenyum. Ia tidak perlu untuk ke ke depan komplek untuk mencari angkutan. “Saya bantuin ya, Mbak,” kata sopir taksi itu keluar dari mobilnya dan hendak membuka pintu untuk Sabrina. Sabrina tiba-tiba tersentak, ia baru menyedaru sesuatu yang aneh, dari mana sopir ini tahu bahwa dirinya hendak ke Rumah Sakit? Bukankah itu terlalu janggal? “Maaf, Pak. Saya enggak jadi,” kata Sabrina berusaha untuk berbalik namun terlambat pria itu langsung memegang tangannya. “Masuk aja, Mbak. Saya antar ke Rumah Sakit benaran kok.” Sabrina merasakan tubuhnya seketika merinding, ia sedikit menyesal untuk pergi sendirian dengan kondisnya yang tidak bisa melihat. “Lepasin isteri saya atau saya berteriak dan kamu akan dihajar!” Andaru tiba-tiba datang, menarik tangan isterinya untuk bersembunyi di belakang. Sopir taksi itu melotot dan segera buru-buru masuk ke dalam mobilnya, tak lama menancapnya dengan kecepatan tinggi. “Kamu baik-baik aja?” tanya Andaru membuat Sabrina yang tahu bahwa orang yang menyelamatkannya adalah sang suami langsung merasa lega. “Sabrina enggak papa, Mas.” Andaru mengangguk, ia mengambil tongkat bantu Sabrina dan sebagai gantinya menggengam tangan gadis itu dengan erat. “Mas Andaru mau ke ikut ke Rumah Sakit?” tanya Sabrina pada suaminya yang datang kesini. Ia sejujurnya masih percaya, bahwa Andaru peduli pada Bi Lela. “Iya, saya enggak mau nanti dicap anak durhaka,” kata Andaru sedikit terkekeh, ia juga sudah menganggap Bi Lea sebagai ibunya. Sabrina yang mendengarnya tak bisa menahan senyum manisnya. Ketika Sabrina telah meninggalkan rumah dan menyisahkan dirinya sendiri. Sebuah ingatan terlintas diotaknya, ketika saat itu l Andaru tengah sakit cukup parah namun menolak untuk tinggal di sakit dan Bi Lela lah yang merawatnya hingga sembuh. Wanita itu benar-benar memperlakukannya seperti anak sendiri. Dan, saat wanita itu tengah berada di Rumah Sakit seorang diri, apakah pantas dirinya tak kesana? Taksi online yang sudah dipesan Andaru muncul. Pria itu langsung mengecek plat, jenis mobil dan orang yang ada di aplikasi taksi onlinenya, mencocokan bahwa mereka sama atau tidak. “Pegang tangan saya!” perintah Andaru membuat Sabrina menengok ke arah pria di sampingnya walau tidak bisa melihat wajah suaminya. Mereka sudah berada di dalam mobil tapi kenapa suaminya meminta pegangan tangan? Sang sopir taksi yang melihat pasangan itu hanya bisa menghela nafas iri. Tak lama mobil itu berjalan dan Andaru sama sekali tidak bisa tenang. Mereka kemudian sampai di pelataran Rumah Sakit dan Andaru terus menggengam tangan isterinya hingga mereka masuk ke ruangan rawat Bi Lela yang sudah dipesan Andaru dengan kamar seorang diri. “Lho Mas Andaru? Mbak Sab?” tanya Bi Lela terkejut, apalagi melihat Andaru yang seperti ninja menengok ke kiri dan kanan sebelum menutup pintu kamar rawatnya. Pria itu tidak disangka mau keluar rumah demi melihatnya. “Bi Lela baik-baik aja, Bi?” tanya Sabrina yang tidak dapat melihat keadaan Bi Lela namun dirinya sangat khawatir. Bi Lela tersenyum haru. “Cuman kaki aja Mbak yang diperban, lainnya cuman luka ringan. Hari ini udah bisa pulang kok.” Andaru yang telah melihat dengan kepala matanya sendiri bahwa Bi Lela baik-baik saja, sedikit lega. Namun ada yang membuatnya penasaran. “Gimana kronologinya, Bi?” Bi Lela lalu menjelaskan bahwa malam tadi ia keluar rumah karena ingin membeli sesuatu ke warung namun sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya. “Kayaknya pengemudi mobil itu lagi mabuk, Mas.” Bi Lela yang hendak menyebrang sudah berhenti, membiarkan mobil itu lewat. Namun mobil itu malah bergerak ke arahnya dan berakhir disempret mobil. “Habis keluar dari rumah sakit, tinggal sama kami ya, Bi,” pinta Sabrina yang sudah diberi tahu oleh Andaru tentang rencana Bi Lela tinggal di rumah mereka. “Iya, Mbak,” jawab Bi Lela yang merasa bahagia melihat Sabrina dan Andaru disini menemaninya. ——— Cucu kedua keluarga Kalingga menabrak orang tak dikenal dan kabur, lihat videonya sekarang! Detik-detik mobil milik cucu ketiga menabrak pejalan kaki, ternyata sedang mabuk! Eshan tak bisa menahan kemarahannya ketika melihat berita tentang Atha yang menjadi pelaku tabrak lari bertebaran di televisi dan media sosial. “Bagaimana bisa? Bukannya kalian sudah mengamankan semua barang buktinya?!” tanya Eshan menatap beberapa anak buahnya. “Kami merasa ada seseorang yang lebih dulu meretas CCTV jalan raya sebelum kami, Pak. Dan menyebarkannya di media sosial.” “Siapa dia? Apa Andaru?” tanya Eshan. “Bukan, Pak. Tampaknya orang ini lebih hebat dari Andaru.” Eshan yang mendengar itu terdiam, apa putra sulungnya kembali ikut campur?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN