“Oke, baiklah kita akhiri saja rapat sore hari ini. Terima kasih atas kerja kerasnya, selamat liburan!”
“Selamat liburan juga, Pak!” balas anggota rapat lain sebelum akhirnya panggilan video rapat diakhiri.
Andaru menghela nafasnya lega sambil menjatuhkan tubuhnya yang telah letih ke kursi. Akhirnya, besok dan lusa ia tidak perlu berada di depan layar berjam-jam untuk mengerjakan pekerjaan dan rapat. Pria itu bisa melalukan apapun yang ia mau.
Hari terakhir berkerja memang hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Andaru, biasanya ia akan menghabiskan waktunya bermain game sampai larut malam, streaming film terbaru dari malam hingga malam lagi atau yang paling produktif melatih kekuatan ototnya dengan olahraga, tapi satu hal yang paling pasti. Pria itu akan menghabiskan banyak waktunya berada di atas kasur untuk tidur.
Tapi, itu adalah dulu. Semenjak berubah status menjadi seorang suami dari perempuan bernama Sabrina Azahra. Andaru tidak yakin bisa menikmati itu semua namunia juga tak merasa kesal karena harus melewatinya.
Andaru malah penasaran weakend seperti apa yang ia jalani setelah menikah?
“Mas Andaru, udah selesai kerjanya?” tanya sesosok perempuan yang masuk ke ruang kerjanya.
Andaru tersenyum melihat kedatangan Sabrina. “Udah selesai kok.”
“Ayo turun, Mas. Sabrina sama Bi Lela tadi nyiapin sesuatu yang enak untuk Mas Andaru,” ajak Sabrina membuat Andaru yang telah bosan duduk di kursi kerjanya segera bangkit menuju isterinya.
“Mas Andaru tunggu di halaman belakang aja,” suruh Sabrina ketika mereka sudah di lantai bawah. Andaru mengerutkan dahi bingung. Namun ia menuruti saja permintaan sang isteri untuk menuju halaman belakang.
Halaman belakang rumah Andaru tidaklah terlalu besar, hanya tanah berumput yang dikelilingi tembok bata tetangga. Maklum rumah perumahan.
Jika kebanyakan tetangganya membuat halaman belakang menjadi bagian rumah lain, Andaru malah tak ingin melakukan hal itu. Ia hanya berpikir, jika semua dijadikan bangunan, dimana tempat bermain anaknya nanti?
Andaru mungkin sudah terlalu jauh berpikir namun ia merasa harus memikirkannya sekarang. Anak-anak itu cenderung memiliki keinginan tahuan yang besar, ia ingin anaknya bermain apapun yang disuka. Entah itu bermain tanah, hujan-hujanan dan hal lainnya. Tentu semua itu perlu diawasi.
Tapi sayangnya, halaman belakang rumahnya terlalu kosong. Hanya ada sepetak tanah yang dipenuhi rumput, selebihnya kosong. Sebenarnya ada beberapa pot tanaman disisi kiri namun itu nampaknya sudah mati karena tak pernah ia siram.
Andaru rasanya ingin membuat ayunan atau rumah-rumahan tapi saat ia memiliki banyak yang, ia rasanya hendak membangun kolam berenang. Pria itu berdecak, terlalu banyak yang dia inginkan di tanah sepetak ini. Andaikan ia memiliki halaman yang luas dan uang yang banyak, semua akan ia buat.
Ketika mendengar langkah kaki, Andaru yang duduk dipinggiran rumah pintu yang menghubungkan ke halaman langsung menoleh. Lelaki itu bergerak cepat ketika melihat Sabrina membawa piring besar yang entah apa isinya.
“Kenapa enggak panggil saya?” tanya Andaru sambil berdecak dan mengambil alih piring tersebut.
“Mas Andaru udah capek kerja, ini enggak berat kok.” Sabrina memanyunkan bibirnya, ia tidak suka berkeja di depan Andaru karena pria itu akan selalu mengambil alih pekerjaannya.
Bi Lela kemudian datang membawa nampan berisi teko yang di dalamnya ada es sirup dan beberapa gelas. “Duh, Mbak Sab, biar Bibi aja yang bawa tadi,” kata wanita paruh baya itu yang sebenarnya juga cemas tapi apa daya gadis itu sungguh keras kepala.
“Ketok aja kepalanya kalo besok-besok enggak nurut lagi, Bi,” sahut Andaru kejam yang semakin membuat Sabrina manyun.
Andaru membentang sebuah karpet di depan pintu rumahnya, meletakan piring yang ia baru sadar ternyata berisi potongan buah yang membuatnya mengecap lidah dan sambal yang terlihat pedas. Ini terlihat seperti rujak. Tunggu, siapa yang hamil?
“Rujak? Siapa yang hamil?” tanya Andaru sambil menatap Bi Lela dan Sabrina yang telah duduk di karpet.
“Jangan lihat Bibi atuh, Mas. Udah tua terus suaminya mana pula?” tanya Bi Lela sambil terkekeh. “Mbak Sabrina yang kepengen, Mas. Jangan-jangan udah ada bayi di perutnya,” celetuk Bi Lela.
Kapan mereka membuatnya? Batin Andaru.
“Kepengen rujak bukan berarti hamil kok,” kata Sabrina yang merasa malu sendiri. Bagaimana dia bisa hamil jika belum melakukan apa-apa dengan suaminya?
“Owalah cuman kepengan aja tapi Bibi doain biar cepat punya bayi. Duh, Bibi kangen gendong bayi.”
“Minta sama anaknya, Bi,” sahut Andaru.
“Jauh, Mas. Harus nyebrang pulau kalo mau ketemu cucu,” jawab Bi Lela yang memang seorang diri di Pulau Jawa. Semua anaknya sudah tidak ada yang disini lagi.
“Bi Lela sama Mas Andaru udah bicaranya, makan rujak aja dulu,” ajak Sabrina polos, gadis itu nampaknya sudah tidak sabar merasakan asam manis dan pedas di lidahnya.
“Ini,” kata Andaru memberikan potongan buah para isterinya.
Sabrina mengambilnya tanpa tahu buah apa yang diberikan, ketika menggigitnya. Kelopak mata gadis itu langsung memejam dengan bibirnya yang mengerut. “Asam,” ucapnya.
Bi Lela dan Andaru yang melihat itu sontak tertawa. Jelas saja tertawa, suaminya memberikan potongan nanas.
“Mas Daru jahat,” ujar Sabrina dengan ekpresi ngambek membuat Andaru makin tergelak.
“Maaf, maaf,” kata Andaru lalu memberikan buah lain yang terasa manis.
Andaru ikut mencicipinya, tubuh pria itu langsung merinding ketika merasakan nanas itu masuk ke dalam mulutnya namun terasa enak dan menagih, apalagi sambal yang dibuat untuk menemaninya.
“Sabrina jangan terlalu banyak makan sambal,” kata Andaru ketika pria itu sedang menuangkan teko yang berisi sirup es ke tiga gelas.
“Iya, Mas,” angguk gadis itu namun tetap mencolek sambal dan memasukan ke dalam mulutnya. Keringat sudah penuh membanjiri dahi dan kerudungnya, ia beberapa kali mendesis pedas namun tetap tidak berhenti.
“Udah, jangan lagi.” Andaru yang merasa perkataannya tidak dengar langsung menarik piring berisi sambal itu menjauh dari isterinya.
“Bi Lelaaa,” ujar Sabrina yang seperti tengah mengaduh pada ibunya bahwa mainnya telah diambil oleh anak nakal.
“Aduh, Mbak Sab. Udahan aja ya makan sambalnya, ini keringatan lho. Sakit perut nanti kalo kebanyakan.”
Sabrina mengerucutkan bibirnya, bukannya mendapat pembelaan. Bi Lela malah setuju dengan apa yang dilakukan oleh Andaru.
Tapi tahu bahwa kedua orang itu melarangnya karena hal yang baik, Sabrina langsung dengan cepat menurut. Ia tidak mau mengabaikan saran dari orang-orang yang menyayanginya.
“Ini minum dulu,” kata Andaru memberikan segelas es sirup yang diterima Sabrina dengan senyuman. “Makasih, Mas.”
Andaru terkekeh melihat perubahan wajah Sabrina yang begitu cepat kembali ceria.
“Mau kemana?” tanya Andaru ketika melihat Sabrina hendak berdiri.
“Sabrina mau ke kamar kecil dulu, Mas. Sebentar doang, kok.”
Ketika gadis itu berdiri, tersisa Bi Lela dan Andaru di halaman belakang. “Makan lagi, Bi,” kata Andaru sambil mengembalikan piring berisi sambal yang tadi ia jauhkan agar tak dicolek Sabrina.
“Mas Andaru,” kata Bi Lela ketika hanya ada mereka. Wajah wanita paruh baya itu terlihat khawatir dan ketakutan.
“Ada apa, Bi? Apa Bibi lihat orang itu lagi?” tanya Andaru yang langsung tepat sasaran.
Bi Lela dengan cepat mengangguk, ia sebenarnya ingin segera mengatakan hal ini pada Andaru namun tak mau Sabrina mengetahui hal ini sehingga harus mencari waktu yang tepat. Bi Lela tidak mau Sabrina menjadi cemas dan takut.
“Setiap pagi waktu mau kesini, Bi Lela selalu ngelihat dua orang mencurigakan ngelihatin rumah ini, Mas.”
“Kendaraan apa yang mereka pake, Bi?” tanya Andaru penasaran, karena beberapa hari yang lalu ia pernah melihat mereka. Tepat ketika satu hari Sabrina tinggal bersamanya.
“Setiap hari ganti, Mas. Kadang motor atau mobil dan selalu beda.”
Andaru mengangguk, mereka yang menyuruh orang-orang untuk mengintai rumahnya pasti penasaran dengan sosok Sabrina yang tinggal di rumah ini.
Tapi melihat siapa mereka, Andaru yakin status Sabrina sudah mereka ketahui.
“Mas, Bibi takut terjadi sesuatu sama Mbak Sabrina,” ujar Bi Lela, karena telah mengenal cukup lama Andaru. Ia tahu seberapa mengerikannya mereka.
“Tenang aja, Bi. Saya yang akan jaga Sabrina dan Bibi biar tetap aman,” kata Andaru membuat Bi Lela sedikit terharu mendengarnya. “Bi, gimana kalo Bibi tinggal sama kami?”
“Tinggal sama Mas Andaru dan Mbak Sabrina?” tanya Bi Lela terkejut juga merasa senang.
“Bi Lela mau, Mas. Tapi kemungkinan minggu depan Bibi bisa pindah, karena ada hal yang harus dilakuin.”
Andaru mengangguk, tak lama Sabrina kembali. Gadis itu hanya bisa pasrah memakan potongan buah tanpa sambal, benar-benar ada yang kurang. Tapi ia juga takut Andaru akan memerahinya.
Saat hari semakin sore, Bi Lela akhirnya pamit untuk pulang ke rumahnya. Andaru dan Sabrina pun bersiap untuk masuk dan mandi sore.
“Pakaiannya udah Sabrina siapin, Mas,” ujar Sabrina yang memang mandi lebih dulu daripada suaminya.
“Terima kasih,” kata Andaru yang baru saja selesai mandi. Gadis itu ternyata mengerti cara untuk mengurus Andaru.
Waktu bergerak dengan cepat hingga saat ini hari telah berubah menjadi gelap, kecuali untuk Bumi bagian lain yang mungkin baru terang.
“Mas Andaru mau main game?” tanya Sabrina ketika ia hendak bersiap untuk tidur.
“Iya, kamu tidur aja dulu,” kata Andaru yang duduk di sofa kamar sambil memegang ponselnya.
Sabrina mengangguk, ia hendak memejamkan kelopak matanya namun tidak bisa karena sejak tadi perutnya semakin terasa pedih. Ia tidak tahu apa yang salah namun ketika mengingat apa yang dimakannya sore tadi, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Gadis itu sebenarnya hendak mengatakan pada Andaru tapi terlalu takut. Ini semua salahnya, ia terlalu keras kepala dan tidak mendengarkan peringatan suaminya untuk tidak makan sambal terlalu banyak. Sabrina juga tidak mau menganggu Andaru yang tengah bermain game. Pria itu pasti lelah dengan pekerjaanya dan butuh hal lain untuk menghilangkan stressnya.
“Hiks—-“ Sabrina sontak menutup mulutnya. Karena tidak bisa menahan rasa sakit ini, ia malah menangis.
“Kamu kenapa?” benar saja, Andaru yang mendengar isakan isterinya segera mendekat dan mengecek keadaan.
“Perut Sabrina sakit, Mas,” jawab jujur gadis itu yang sudah pasrah jika akan dimarahi oleh Andaru.
“Jangan tidur seperti itu, coba berbaring,” ujar Andaru meminta Sabrina mengubah posisinya menjadi lebih baik. Pria itu segera turun ke bawah untuk mengambil air dan baskom berisi air hangat.
“Kenapa bisa sakit?” tanya Andaru perlahan membuka atasan piyama isterinya. Lalu meletakan handuk hangat di perut isterinya.
“Sabrina kayaknya mau datang bulan, Mas, tapi rasanya makin sakit karena makan sambal tadi.” Gadis itu baru ingat, ini jadwalnya hendak masuk datang bulan.
“Sudah jangan menangis, kalo masih sakit... eum.. kita pergi ke dokter,” ujar Andaru yang tak yakin untuk keluar. Apa ia sewa taksi saja dan membiarkan Sabrina pergi sendiri? Setelah berpikir seperti itu, pria itu langsung menyumpahi dirinya sendiri.
Andaru terus menemani Sabrina dan berulang gali meletakan handuk hangat di perut isterinya, ia berharap gadis itu tidak kesakitan lagi untuk malam ini. Barulah besok pagi ia meminta Bi Lela menemaninya ke Dokter.
“Gimana? Masih sakit?” tanya Andaru khawatir.
“Udah agak mendingan kok, Mas. Kita di rumah aja,” jawab Sabrina yang tak terlalu merasakan sakit lagi. Andaru yang mendengar itu langsung menghela nafasnya lega.
“Tidur saja, biar saya yang mengompresnya,” ujar Andaru dengan suara pelanya.
“Mas Andaru juga tidur, pasti capek kan?” tanya Sabrina. Gadis itu menahan tangan suaminya, membuat Andaru menghela nafasnya. Pria itu meletakan handuk ke dalam baskom.
“Mas Andaru enggak lanjut main game?” tanya Sabrina ketika merasakan Andaru berbaring disisinya.
“Gimana saya mau main game kalo isteri saya sakit.” Andaru mengubah posisinya menjadi menghadap Sabrina yang terlihat bersemu pipinya.
“Terima kasih ya, Mas.” Sabrina merasa beruntung, ia pikir setelah kepergiaan sang Bapak untuk selamanya. Ia tidak akan bisa merasakan kasih sayang siapapun lagi. Tapi ternyata pikirannya salah, Andaru memberikan kasih sayang yang tulus untuknya.
Sabrina ingin bersama Andaru selamanya saat ini namun apakah ia masih berpikir seperti itu ketika tahu bahwa ada bahaya yang akan sebentar lagi datang padanya.