Chapter 6

1680 Kata
“Ini namanya Bibi Lela, mulai hari ini akan bantu-bantu di rumah kita,” ujar Andaru memperkenalkan Bibi Lela ke arah Sabrina yang kini tersenyum lembut. “Duh, ini isterinya Mas Daru? Cantik banget kayak Bibi masih mudah dulu hihihi,” kekeh Bibi Lela membuat Andaru yang mendengarnya sontak ikut terkekeh.  “Bibi bisa aja,” ujar Sabrina ikut tersenyum malu. Bibi Lela yang melihat Sabrina sama sekali tak menatapnya, mengerutkan dahi heran. Namun ketika melihat sebuah tongkat batu di genggaman wanita itu membuatnya langsung paham, bahwa gadis cantik ini memiliki kekurangan. Bi Lela rasanya tidak perlu bertanya mengenai kondisi Nyonya. Omong-omong, Andaru telah kenal lama dengan wanita paruh baya itu yang memang sering membantu rumahnya, dua kali seminggu wanita itu akan datang. Tapi sekarang, ia ingin menjadikan Bi Lela sebagai ART tetap di rumahnya. “Udah jam setengah delapan, saya ke atas dulu,” kata Andaru ketika melihat jam di dinding ruang tamu, pasti sebentar lagi mereka akan brifieng. “Iya, Mas Andaru semangat ya kerjanya!” seru Sabrina yang diangguki Andaru dengan senyuman kecil. “Bi, saya kerja dulu. Titip isteri saya.” “Eh, Nyonya Sabrina kayak telor aja dititip-titip,” kata Bibi Lela tertawa. Sabrina yang mendengar pria itu menyebutnya sebagai isteri, langsung merasakan pipinya memanas. Apa Andaru telah menyukainya? “Nyonya Sabrina mau saya temenin masak?” tanya Bibi Lela. “Bi Lela, enggak panggil Nyonya, Bi. Saya enggak enak dengarnya,” ujar Sabrina buru-buru. Ia merasa tak nyaman, toh yang menggaji Bi Lela bukan dirinya, melainkan Andaru. Suaminya itu saja dipanggil dengan sebutan Mas. “Bi Lela panggil Mbak aja, mau? Bibi ingat anak yang tua tapi sekarang udah nikah terus ikut suaminya ke Kalimantan.”  “Iya, enggak papa, Bi.” Mbak? Itu panggilan yang cocok untuk Mas kan? Jika iya, Sabrina mau. Bi Lela tersenyum, ia sebenarnya sedikit merasa sedih melihat kondisi Sabrina. Baru pertama kali bertemu saja, ia sudah tahu bahwa gadis yang ada di depannya sekadang adalah gadis yang baik sama seperti Mas Andaru.  Sayangnya, Sabrina tak bisa melihat dunia yang begitu indah.  Tapi, bukan berarti itu hidup juga harus berakhir. Bi Lela yang melihat Sabrina yang selalu tersenyum, entah kenapa ikut merasa bersemangat untuk menjalani hidupnya. “Bi Lela udah kenal lama sama Mas Andaru?” tanya Sabrina. “Kita ngobrol aja dulu ya, Bi. Oh, iya, Bibi udah sarapan belum? Mau Sabrina bikin roti?” Ia dan Andaru baru saja selesai sarapan ketika Bi Lela datang. “Lho kok Mbak Sabrina yang bikinin sih, enggak usah Mbak. Bibi tadi udah sarapan kok di rumah,” tolak Bi Lela. “Bibi udah kenal cukup lama sama Mas Andaru, Mbak. Rumah saya enggak jauh dari komplek perumahan ini,” cerita Bi Lela yang ketika mengingatnya, selalu merasa bahwa Mas Andaru sering sekali membantunya.  “Bibi pertama kali ketemu Mas Andaru waktu cari kerja dari rumah ke rumah di komplek ini, saya mau kerja jadi apa aja waktu itu, Mbak. Anak saya sakit, butuh biaya untuk berobat.” “Dari sekian banyak rumah, Mas Andaru akhirnya mau nerima Bibi untuk kerja, Mbak. Bibi ingat sekali waktu itu, padahal belum cerita tapi Mas Andaru langsung kasih uang di muka. Bisa aja Bibi waktu itu enggak balik lagi, tapi Mas Andaru tetap ngasih uangnya.” Tak hanya itu, Mas Andaru juga kadang memberikan uang tambahan untuknya. Dan, saat Andaru memintanya untuk bekerja di rumah lagi tanpa menunggu, Bi Lela langsung setuju. “Mas Andaru orangnya baik banget Mbak tapi,” kata Bi Lela menggantungkan ucapannya, merasa sungkan. “Tapi apa, Bi?” tanya Sabrina penasaran. “Waktu pertama kali kerja, Bibi dengar-dengar kalo Mas Andaru enggak pernah keluar dari rumah. Bibi takut kalo Mas Andaru itu vampir terus gigit Bibi hihhhhh!” Sabrina tertawa mendengarnya, Bi Lela pun tertawa karena merasa dulu ia sangat bodoh. Itu semua akibat menonton sintron, katanya seorang vampir tidak bisa terkena sinar matahari. Setelah bekerja di rumah ini, wanita paruh baya itu melihat Andaru berjemur di halaman belakang rumah membuatnya lega. “Bibi tahu enggak kenapa Mas Andaru enggak pernah keluar dari rumah?” tanya Sabrina penasaran. Bi Lela menggigit bibir bawahnya, terdiam cukup lama. “Mbak Sabrina, maafin Bibi ya karena enggak bisa jawab. Lebih baik Mbak tanya langsung sama Mas Andaru.” Sabrina mengangguk paham. Ini pertanyaan yang paling sangat ingin dia tanyakan, selain tentang Andrea. Namun, apakah Andaru akan menjawab pertanyaannya? Mereka mengobrol lebih banyak, tentang Bi Lela yang memilili 4 orang anak. Semua anaknya sudah menikah, tinggal wanita itu seoranh diri di rumah karena suaminya telah tiada. Anak-anak Bi Lela sebenarnya selalu mengirimkan uang setiap bulan dan itu cukup untuknya tapi karena merasa bosan dan kebetulan Andaru memintanya bekerja, wanita paruh itu setuju saja. “Bi Lela kita masak, yuk?” ajak Sabrina ketika mendengar bunyi jam di ruang tamu. Andaru membeli jam itu sebanyak dua lagi, meletakannya di ruang tamu dan di dapur hanya untuk Sabrina. “Hayuuk, Mbak Sabrina!” angguk Bi Lela. Mereka berdua lalu menuju dapur untuk membuat makan siang.  Bi Lela bukan main terkejutnya ketika melihat Sabrina memasak. Wanita itu seperti tidak memiliki kekurangan, mengerjakan semuanya dengan lancar. Tahu kapan harus mengangkat ayam goreng yang telah diungkap bumbu kuning sebelumnya. “Mbak Sabrina hebat banget! Kok bisa sih, Mbak?” tanya Bi Lela yang sebenarnya tidak banyak membantu, kecuali hal-hal yang penting. “Sabrina udah hapal denah dapurnya, Bi. Jadi mudah.”  “Kalo kayak gitu, Mbak Sabrina harusnya enggak perlu bantuin Bibi.” “Mas Andaru bilang kalo tugas Sabrina itu ngurusin Mas Andaru tapi katanya boleh masak-masak sedikit kok,” jelas Sabrina. Bibi Lela yang mendengarnya tergelak. “Mas Andaru mirip suami Bibi dulu, Mbak.” “Sabrina harus ngapain, Bi?” tanya gadis itu polos membuat Bi Lela melancarkan senyum jahilnya. Ia akan memberi jurus-jurus agar membuat Mas Andaru senang. Sabrina sontak merasakan pipinya memanas ketika mendengar apa yang diucapkan Bi Lela. Awalnya seperti biasa, Sabrina menyiapkan keperluan Andaru kerja hingga akhirnya menyerempet ke urusuan ranjang. “Bibiiii!” Sabrina seketika merasa malu. “Lho enggak papa, Mbak. Ini tips dari Bibi biar bikin suami senang!” Bibi Lela tersenyum dengan lebar. ——— Malamnya, Andaru dan Sabrina makan bersama. Bi Lela sudah pulang saat sore hari, tak lupa dibawakan masakan agar wanita paruh baya itu tak perlu repot-repot lagi untuk masak di rumahnya setelah seharian bekerja. “Mas Andaru mau ngapain?” tanya Sabrina ketika mereka sudah di kamar. Andaru berpikir sebelum menjawab, “kayaknya mau main game. Kenapa?” tanya pria itu balik. Sabrina menggeleng, ia sebenarnya ingin mengajak Andaru mengobrol ringan, rasanya banyak hal yang tidak diketahu olehnya tentang suaminya sendiri. Tapi, nampaknya Andaru lelah bekerja seharian dan butuh hiburan. Gadis itu lalu menuju kasur, duduk dan menyandarkna kepalanya di kepala kasur. Ia ingin tidur namun mau menunggu Andaru tidur juga. Ketika merasakan kasur bergerak dan merasa Andaru kini tidur di sampingnya. Sabrina menjadi bingung. “Mas Andaru enggak jadi main game?” “Enggak, bosan,” jawab Andaru, melihat Sabrina yang sepertinya ingin berbicara membuatnya seketika merasa jenuh dengan gamenya. “Mas Andaru capek?” tanya Sabrina yang menggerakan tangannya perlahan dan dengan keberanian yang dikumpulkannya, gadis itu mengusap rambut Andaru. Bi Lela bilang, bahwa laki-laki dewasa itu kadang seperti anak kecil. Jadi seringlah untuk memanjakannya. “Hemm, capek tapi dikit,” tutur Andaru memejamkan matanya merasa lembutnya usapan tangan Sabrina di kepalanya. “Kamu mau nanya apa?” tanya Andaru perlahan membuka kelopak matanya. Sabrina yang mendengarnya terkejut, ia pikir Andaru tertidur setelah beberapa lama hening. Wajah gadis itu sekarang terlihat resah, ia ingin bertanya tapi merasa ragu. Karena terlalu penasaran, Sabrina akhirnya memutuskan untuk bertanya. “Mas Andaru kenapa enggak pernah keluar dari rumah?” “Karena apa yang saya butuhkan bisa di dapat dari rumah,” jawab Andaru cepat membuat Sabrina terkejut. Ia pikir pria itu akan sedikit lama untuk menjawab tapi ternyata ini bukan pertanyaan yang sulit. Tapi, tunggu? Apa Andaru benar-benar tak pernah keluar dengan alasan seperti itu? “Di luar itu terlalu mengerikan Sabrina, enggak aman. Kamu bisa kehilangan terluka atau kehilangan nyawa. Lagi pula sekarang kan udah canggih, bisa meeting tanpa harus ketemu.” “Mas Andaru enggak pernah ketemu teman?” tanya Sabrina. “Pernah, lewat vid call group atau mereka yang kesini.” “Apa Mas Andaru enggak kesepian?” tanya Sabrina. Ia sering merasakannya, karena kondisinya yang seperti itu membuatnya jarang untuk keluar dari rumah. Tak aman untuk orang sepertinya. “Enggak, ada Motty yang nemenin saya. Kadang-kadang aja Bi Lela dan sekarang ada kamu. Saya enggak kesepian,” jawab Andaru mendongak menatap wajah Sabrina yang nampaknya sedang berpikir, bahkan tangannya berhenti bergerak mengelus kepalanya. “Kesepian itu obatnya bukan seberapa banyak orang yang menemani kamu,” kata Andaru kembali menarik tangan wanita itu untuk mengelus kepalanya. “Kamu enggak perlu banyak orang untuk ngehilangin kesepian, cuman satu orang—enggak, satu makhluk aja yang tulus mau nemenin kamu. Itu udah cukup untuk enggak merasa kesepian.” “Kadang kan walau pun kita punya banyak teman, kita tetap ngerasa sendiri kan?” tanya Andaru menbuat Sabrina spontan mengangguk. “Mas Andaru hebat,” ucap Sabrina tiba-tiba membuat Andaru tergelak. “Andaru gitu lho,” sombong Andaru yang kali ini menciptakan tawa di bibir Sabrina. Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya dengan menghadap ke arah Andaru. “Dekatan lagi,” pinta Andaru agar Sabrina semakin dekat dengannya. Pria itu itu menarik tangan isterinya untuk di letakan di atas perut. “Mas Andaru, selamat tidur, jangan lupa baca doa,” kata Sabrina yang sudah mengantuk, gadis itu perlahan menutup kelopak matanya dan tak lama terlelap. Andaru mengangguk, ia kembali menatap ke arah langit-langit kamar. Ia memang terlihat baik-baik saja tapi sebenarnha, pikirin di otaknya tengah ketakutan saat mendengar pertanyaan Sabrina. “Maaf saya yang udah bohong, Sabrina,” lirih Andaru mengubah posisinya menghadap ke arah Sabrina, masih dengan menggengam tangannya. Andaru telah memutuskan, Sabrina akan menjadi orang yang berharga untuknya. “Saya pastiin kamu akan aman saja dari orang-orang itu.” Andaru tak ingin kehilangan lagi, ia akan menjaga Sabrina dengan seluruh kekuatannya. Apapun yang terjadi, ia akan melindung isterinya walaupun itu taruhannya nyawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN