Sabrina memang gadis yang manis dan cantik namun sayangnya Andaru baru tahu bahwa gadis itu luar biasa keras kepala.
“Enggak papa, Mas. Sabrina udah hapal dapur kok, pasti enggak papa.”
“Saya tahu kamu udah hapal, tapi lebih baik kita pesan makan saja,” kata Andaru yang tengah mengenakan kemejanya, walau saat ini pria itu bekerja dari rumah namun tetap harus mengenakan pakaian yang rapi.
“Uangnya nanti habis kalo dipake pesan makanan terus, Mas,” ujar Sabrina yang baru tahu selama ini suaminya selalu memasan makanan. Andaru beralasan tidak sempat untuk membuatnya sendiri.
Sekarang karena telah ada dirinya, Sabrina tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Ia akan selalu menyediakan masakan rumah untuk sang suami. Itu tugasnya sekarang.
“Saya selalu memasan makanan tapi uangnya enggak habis, tuh,” balas Andaru sontak membuat Sabrina mengecurutkan bibirnya.
“Pokoknya Sabrina mau masak,” putus Sabrina kembali keras kepala membuat Andaru menghela nafasnya.
Andaru sebenarnya bisa mengawasi Sabrina untuk memasak di dapur namun karena hari ini dia memiliki meeting yang cukup penting, ia tidak bisa meninggalkannya. Tapi, membayangkan wanita terkena pecahan piring atau hal lainnya membuat pria itu tidak tenang.
“Oke, seterah kamu,” balas Andaru akhirnya membuat Sabrina mengembangkan senyum manisnya.
“Mas Andaru yang semangat kerjanya!” Sabrina memberi semangat, membuat Andaru mau tak mau ikut terkekeh kecil melihatnya. Kapan terakhir kali ia mendapat ucapan semangat secara langsung? Sudah lama kali nampaknya.
Sabrina akhir keluar dari kamar, gadis itu menggunakan tongkatnya dengan baik. Tak terjatuh atau menabrak sesuatu lagi. Namun, Andaru yang masih sedikit cemas, diam-diam mengikutinya dari belakang dan melihat gadis itu turun dari tangga.
Andaru nampaknya bisa sedikit bernafas lega karena wanita itu menuruni tangga dengan baik, ia akhirnya memutuskan untuk ke ruang kerjanya yang berada di samping kamar.
“Selamat pagi semuanya! Apa kabar? Bagaimana kondisi kalian hari ini?” tanya Pak Tua ketika melihat semua karyawan divisinya sudah masuk ke dalam saluran video.
Selama meeting berlangsung, Andaru sedikit tak bisa berkosentrasi karena memikirkan apa yang dikakukan Sabrina di dapur. Hal itu juga membuatnya tak nyaman duduk di kursinya, beberapa kali bergerak untuk mengubah posisi duduk.
“Mas Andaru baik-baik saja? Apa sedang tidak enak badan?” tanya Pak Tua—alias Pak Joko yang memang menjadikan Andaru sebagai karyawan terbaiknya.
“Saya baik-baik saj—“ PRANG!
“Maaf, Pak. Saya keluar sebentar.” Andaru mematikan kamera dan micnya, lalu bergegas menuju lantai bawah dengan sedikit cepat. Beberapa kali ia melompati dua atau tiga tangga agar bisa dengan cepat sampai.
“Saya udah bilang untuk pesan makanan saja tapi kamu keras kepala!” omel Andaru ketika masuk ke dalam dapur.
“Sabrina enggak ngelakuin apa-apa, Mas,” tutur gadis itu sontak membuat Andaru mengedarkan pandangannya. Lalu tatapannya tertuju pada sesuatu yang berbulu, sedang diatas meja dan dibawanya terdapat pecahan gelas.
“Meong! Meongggg!”
“Motty?!” geram Andaru rasanya ingin sekali mencubiti perut kucing gendut itu yang sudah membuatnya khawatir. Ia pikir terjadi sesuatu pada Sabrina.
Sabrina malah tertawa mendengarnya, pelakunya ternyata seorang makhluk berbulu yang menggemaskan.
Andaru akhirnya membawa kucing itu ke dalam kandangnya dan membersihkan pecahan kaca. Lalu kembali mendekati Sabrina yang tengah mencuci sesuatu di wastafel.
“Kamu mau masak apa?” tanya Andaru sambil mendongakan kepalanya melihat apa yang dicuci. Sekumpulan sayur bayam.
“Sabrina mau buat tempe dan tahu sambal sama sayur bayam, Mas,” jawab gadis itu tersenyum, berusaha menggerakan kepalanya menghadap ke asal suara milik Andaru.
“Kamu bisa?” tanya Andaru yang jujur ragu. Itu mungkin terdengar seperti masakan sederhana tapi saat melihat Sabrina yang memasaknya, itu pasti cukup sulit.
“Mas Daru tenang aja, Sabrina udah sering masak kok dulu saat masih ada bapak,” jawabnya terdengar sendu namun cepat kembali tersenyum.
“Beneran?” tanya Andaru lagi.
“Iya, lebih baik sekarang Mas kembali kerja,” ujar Sabrina mendorong pelan tangan Andaru untuk menjauh darinya.
“Saya balik ke atas dulu,” pamit Andaru membuat Sabrina mengangguk.
Setelah memastikan Andaru telah tidak ada lagi di dapur, Sabrina kembali melanjutkan mencuci bersih sayur bayamnya. Lalu memotong tahu dan tempe menjadi potongan yang lebih kecil.
Sabrina tahu bahwa Andaru mengkhawatirkannya tapi ia tidak bisa lantas hanya diam. Ia harus melakukan sesuatu agar setidaknya beban milik Andaru sedikit berkurang. Kehadirannya disini, bukan sebagai beban namun membantu sang suami.
Gadis itu juga sangat terbantu dengan alat-alat di dapur Andaru yang menurutnya canggih. Seperti kompor yang memiliki pengaturan waktu dan akan mati sendiri dan hal lain yang bisa digunakan lewat suara.
Sabrina lalu menggorang tempe lebih dahulu, walau ia tidak bisa melihat namun beberapa indera lain di tubuhnya malah menguat. Seperti hidungnya, akan mencium aroma yang berbeda ketika tempenya telah berubah menjadi kecoklatan dan matang.
Semuanya dikerjakan dengan hati-hati dan pelan, selain itu ia juga berharap bahwa masakannya dapat disukai oleh Andaru yang tengah bekerja di atas sana.
“Hatcim!”
“Mas Andaru?” panggil Sabrina ketika mendengar suara bersin yang menggelagar. Itu sudah pasti bukan Motty kan?
“Heheh, iya,” jawab Andaru sambil menggaruk leher belakangnya dan menyengir.
“Mas Andaru tadi tadi disini?” tebak Sabrina namun tak ada jawaban. Gadis itu menghela nafasnya kecil, Andaru ternyata ternyata hanya pura-pura naik ke lantai atas dan sedari tadi di dapur untuk memperhatikannya.
Apa itu karena Andaru benar-benar tidak percaya padanya?
“Kalo Mas Andaru enggak mau Sabrina di dapur, Sabrina enggak akan kesini lagi kok,” tutur gadis itu dengan suara pelan membuat Andaru sontak dihantam rasa bersalah.
“Tapi biarin Sabrina selesain dulu masakannya. Mas Andaru boleh ngawasin kok.”
Andaru yang sejak tadi memperhatikan gadis itu masak dengan semangat tinggi dan sekarang melihat semangat itu menghilang, kembali merasa bersalah. Bukan maksudnya ia tidak mempercayai Sabrina namun setidaknya, ia harus melihat sekali sebelum bisa melepas gadis itu untuk benar-benar memasak.
“Sabrina—“
“Mas Andaru mau makan sekarang?” tanya Sabrina hendak membawa masakannya namun Andaru dengan cepat mengambil alihnya. Lagi-lagi, gadis itu merasa kecewa, bukan pada Andaru tapi pada dirinya.
“Saya enggak mau makan—eh, maksudnya nanti. Saya mau bicara sebentar sama kamu,” pinta Andaru dengan mimik serius membuat Sabrina mengangguk.
“Mas Andaru mau bilang, Sabrina enggak usah masak lagi?” tanya Sabrina ketika mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.
“Bukan begitu tapi saya benar-benar masih khawatir sama kamu melakukannya dengan kondisi seperti itu. Lagi pula, bukan seharusnya kamu mengerjakan hal itu.”
“Apa Mas Andaru enggak anggap Sabrina sebagai isteri?” tanya Sabrina dengan setelah mengumpulkan keberanian.
“Kenapa kamu ngomong begitu?” tanya Andaru sedikit meninggikan suarannya. Ia tiba-tiba saja sedikit kesal mendengarnya, padahal sejak mereka meghapal denah rumah ini, Andaru telah menganggapnya.
“Mas Andaru enggak ngebolehin Sabrina untuk beresin rumah, masak atau ngelakuin apapun,” tutur Sabrina yang tiba-tiba terisak, ia merasa tidak berguna menjadi seorang isteri.
“Sabrina, kamu isteri saya atau asisten rumah tangga?” tanya Andaru kaget.
Andaru pernah mendengar dari Mamanya, bahwa kodrat wanita itu hanya menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Masalah urusan rumah tangga, bukan menjadi tanggung jawab mereka.
Mungkin, di sebagain keluarga, wanita itu mengerjakan urusan rumah tangga dan sang suami mencari nafkah. Tapi, tidak di keluarga seorang Andaru Prasmana K, untuk apa selama ini ia bekerja keras dan menyimpan uang dengan banyak?
“Kamu lucu, menangis cuman karena tidak diboleh masak,” ujar Andaru sedikit tersenyum, pria itu kini duduk di samping sang isteri.
Andaru malah pernah mengingat sebuah keluarga besar yang kaya, dimana para wanita yang berasal dari keluarga itu ataupun yang menjadi mantunya, sangat tidak suka melakukan pekerjaan rumah.
“Saya udah menyewa seorang Asisten Rumah Tangga untuk datang kesini tiap hari.” Andaru tidak bisa menemani Sabrina seperti tadi setiap hari, jadi ia memutuskan untuk menyewa ART untuk membantu pekerjaan rumah dan menemani gadis itu.
Sabrina yang mendengar apa dilakukan Andaru malah makin terisak, pekerjannya akan digantikan seorang ART. Apa yang nanti dilakukannya?
“Hikss— nanti apa yang Sabrina bantu?” tanyanya dengan berlinang air mata.
“Tentu saja kamu harus mengurusi saya,” kata Andaru melebarkan senyumnya.
“Mengurusi Mas Andaru?” tanya Sabrina bingung, suaminya itu bukan lagi anak kecil kan?
Sedangkan Andaru sudah memikirkan banyak rencana untuk gadis yang ada di depannya. Pria itu jadi tak sabar menunggu asisten rumah tangganya datang.
“Tapi kamu masih boleh masak kok, tentunya dengan bantuan ART.”
“Beneran, Mas?” tanya Sabrina dengan wajah antuasias.
Andaru mengangguk, tak percaya bahwa memasak yang membuat gadis itu bahagia daripada mengurusi suaminya yang luar biasa tampan ini.
“Sudah jangan menangis lagi, kamu jelek tahu,” kata Andaru mengambil kesempatan untuk mengusap air mata yang ada di pipi isterinya. Ternyata lebih halus dan lembut dari tangannya.
“Terima kasih, Mas Andaru.”
Andaru mengangguk, ia berancana untuk melupakan apa yang dikakukan Pak Sapto padanya. Ia sebenarnya ingin menyelidiki lebih dalam, bagaimana Pak Sapto bisa berhubungan dengan keluarga itu? Tapi, mengingat bahwa pria itu adalah mertuanya, menutup dan melupakannya adalah hal yang lebih baik.
“Mas Andaru dari tadi nemenin Sabrina, emangnya enggak kerja?”
Andaru memelototkan matanya, ia baru ingat tadi sedang rapat namun karena mendengar suara piring pecah jadi meninggalkannya. Astaga, pasti sekarang Pak Tua itu marah padanya?
“Saya ke atas dulu,” kata Andaru lalu berlari menuju lantai atas. Hal baik terjadi padanya, meeting nampaknya tidak terlalu penting sehingga Pak Joko tak memerahinya.
Saat hendak kembali ke lantai bawah menemani Sabrina sambil membawa ponsel, sebuah notifikasi dari portal berita yang ia ikuti berbunyi. Perhatiannya sepenuh teralih ketika melihat nama yang selalu ia ingat, muncul disana.
Cucu ketiga keluarga Kalingga resmi bertunangan dengan seorang artis, yuk intip siapa artisnya?
Andaru mendengus, ia tidak peduli siapa yang dinikahi oleh si cucu ketiga ini namun ia berharap yang paling terburuk untuknya. Tapi tetap saja itu tidak sebanding dengan kematian Mamanya.
Mereka harus lebih menderita.