Chapter 4

1677 Kata
“Mas bangun,” panggil seorang gadis pada laki-laki yang tertidud nyenyak. “Mas Daru bangunnnnnn!” Sabrina menghembuskan nafasnya lelah, tak menyangka bahwa suaminya sangat menyukai tidur. “Hemm, sebentar lagi,” jawab Andaru masih memejamkan kelopak mata. Bukannya bersiap bangun, lelaki itu itu malah mengeratkan tangannya pada bantal guling, seolah tak ingin lepas dari benda empuk itu. “Sebentar lagi udah mau jam 7, Mas,” kata Sabrina membuat kelopak mata Andaru perlahan terbuka. “Dari mana kamu tahu?” tanyanya, mengingat Sabrina tidak bisa melihat. “Alarm Mas Andaru yang ngasih tahu,” jawab Sabrina yang merasa terbantu dengan alarm milik sang suami. Setiap 30 menit sekali, alarm itu akan berbunyi beep kecil. Andaru yang mendengar itu entah mengapa tersenyum kecil, padahal dulu setiap paginya akan ada satu alarm pintar yang hancur dan membuat harinya suram setelahnya. Sekarang, sudah ada Sabrina yang membangunkannya. Gadis itu membangunkannya begitu lembut, hampir membuatnya kembali terlelap jika tidak mengingat bahwa ia harus bekerja. Sabrina merasakan kasur bergerak yang menandakan Andaru telah bangun, gadis itu tersenyum manis karena telah berhasil membangunkan suaminya.  Andaru yang melihat senyum milik Sabrina menghentikan kegiatan perenggangannya, ternyata bangun disambut dengan sebuah senyuman tidak terlalu buruk. Tit! Tit! Tittt—PUK! Andaru tersenyum puas ketika menghentikan alarm pintar itu membangunkannya, kali ini dirinya yang menang. Ketika merasakan sang suami bangkit dari kasur, Sabrina ikut bangkit. “Mas Andaru hari ini kerja?” “Sabrina,” panggil Andaru. “I-iya, Mas?” tanya Sabrina tiba-tiba gugup.  “Hadap ke kiri, kamu berbicara sama dinding,” ujar Andaru membuat Sabrina yang merasakan pipinya memanas. “Iya, hari ini saja kerja tapi dari rumah,” jawab Andaru membuat Sabrina yang mendengar itu merasa tak enak hati, karena dirinya yang tidak bisa melihat pasti sang suami tidak bisa meninggalkannya seorang diri. “Kalo Mas Andaru mau ke kantor, enggak papa kok, Mas. Sabrina bisa sendiri.” “Saya memang kerja dari rumah kok, udah 5 tahun malah,” jawab Andaru membuat Sabrina tertegun. Jadi tentang Andaru yang tidak pernah keluar dari rumah selama lima tahun itu benar? “Mas Andaru mau mandi kan? Sebentar, biar Sab yang ambilin handuknya.” Andaru buru-buru menggeleng ketika gadis itu berjalan namun belum sempat dirinya mencegah, apa yang dikhawatirkan pria itu terjadi. Sabrina menabrak meja yang ia letakan di tengah kamar, membuat puzzle dengan ukuran 70 kali 50 jatuh dan berserakan. BRAKK! Hancur sudah, padahal Andaru sudah menyelesaikan setengah dari puzzle yang memiliki 1000 kepingan itu malam tadi. “Mas, Sabrina udah hancurin apa?” tanya Sabrina itu tersenyum getir. Ia merutiki kebodohannya, hanya karena ingin terlihat menjadi isteri yang berbaik hati, ia melupakan bahwa ia tidak bisa melihat. Andaru menghembuskan nafansya, berpikir dengan hati-hati dan berpandapat bahwa ini bukan salah Sabrina. Harusnya setelah menyusun puzzle, ia metakan kembali meja itu ke pinggir. Namun karena berpikir bahwa hari ini kerjaannya akan senggang, ia bisa menyelesaikannya. “Bukan apa-apa,” jawab Andaru membuat Sabrina makin tak enak hati karena membuar suaminya kesal. Andaru akhirnya berjalan mendekat ke arah meja mecil kayu itu dan dengan cepat mengumpulkan kepingan puzzlenya. Perhatiannya lalu teralihkan ke arah kaki gadis itu yang sepertinya mengenai ujung lancip mejanya. Setelah mengumpulkan kepingan puzzlenya, Andaru meminta gadis itu untuk duduk di kasur membuat keningnya berkerut. Namun mungkin takut sang suami marah, Sabrina langsung mengangguk saja. “Mas Andaru mau ngapain?” tanya Sabrina terkejut ketika merasakan daster semata kakinya, dinaikan hingga ujung lutut. “Kaki kamu berdarah, apa enggak sakit?” tanya Andaru heran. Sabrina sebenarnya merasakan sedikit pedih tapi ia tidak mungkin merengek setelah baru saja melakukan kesalahan. “Di atas meja itu ada puzzle, sudah selesai setengah tapi kayaknya harus mulai dari awal lagi.” “Maafin Sabrina, Mas,” sesal gadis itu menggigit bibir bawahnya ketika merasakan perih saat Andaru mengobatinya. Andaru mendongak, menatap gadis itu yang kini menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Saat melihat Sabrina menahan sakit, pria itu mengobatinya menjadi sedikit lebih perlahan. “Bukan salah kamu, saya juga lupa untuk beresinnya,” kata Andaru membuat Sabrina sedikit lega. “Selesai.” Andaru bangkit, membawa kota obat itu setelah selesai mengobati Sabrina. “Terima kasih, Mas,” ujar Sabrina mengusap kakinya yang diplaster. “Saya mandi dulu, kamu bisa diam disana?” tanya Andaru sedikit jahat, bukan maksudnya membuat Sabrina tidak boleh kemana-mana. Namun, jika gadis itu bergerak maka gakut gadis itu terluka. “Iya, Mas,” angguk Sabrina tak keberatan. Andaru segera mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi. Kali ini ia agak sedikit buru-buru, tak sempat menyalakan musik. Hingga beberapa menit, ia keluar dan mengambil baju. Ketika sedang mengancingi pakaian, Andaru agak terkejut ketika Sabrina sama sekali tak bergerak dari tempatya, padahalkan wanita itu bisa tiduran. Pria itu seketika membayangkan, betapa membosankannya hanya diam. Sabrina yang menyadari bahwa Andaru telah selesai mandi, menundukan kepalanya. Ia seketika merasa bersalah, harusnya ia menyediakan pakaian ganti untuk sang suami, bukan malah hanya diam. Ia ingin bisa membantu Andaru atau setidaknya ia tidak merepotkan sang suami. Tapi bagaimana caranya saat dirinya baru jalan beberapa langkah tapi sudah menabrak benda di kamar? “Sabrina, saya brifieng sebentar. Kamu bisa menunggu lagi enggak?” tanya Andaru membuat Sabrina mengangguk. Itu lebih baik dari dirinya bergerak dan menghancurkan rumah. “Setelah saya selesai briefing, kita sarapan. Dan saya akan bantu kamu untuk hapal denah kamar juga rumah.” Kali ini Sabrina mendongakan kepalanya, ia tidak tahu dimana Andaru berada. Tapi, ia merasa sangat ketika mendengar perkataan pria itu. Sabrina mengangguk dengan semangat. “Selamat pagi semuanya, bagaimana hari ini? Weekend kalian pasti luar biasa kan?” tanya seorang yang memiliki jabatan tinggi di divisi Andaru. Andaru memgangguk, dia jujur. Hari liburnya digunakan untuk menikahi seorang wanita yang baru ditemuinya. Ketika melakukan brifieng, poin utamanya adalah mengenai evaluasi hari-hari kemarin. Pak Tua—begitu sebutan dari Andaru untuk Ketia timnya, beberapa kali menyebutkan hal yang miss di divisi mereka. “.... Mas Andaru salah satu yang terbaik, kalian bisa mencontoh beliau,” kata Pak Tua itu membuat Andaru tersenyum menatap ke arah webcamnya.  Andaru memang terkenal sebagai di kantornya, namun banyak yang menyayangkan pria itu tidak langsung bergabung di kantor. Maksudnya datang setiap pagi dan pulang pada sore—atau malam jika sedang lembur. Katanya, Andaru membuang cuma-cuma bakat hebat yang dimiliki. Briefing memang dilakukan secara sambungan video, ada yang beberapa melakukannya dari rumah dan ada yang di kantor. Semulanya, semua programmer ini bekerja di rumah namun karena perusahaan semakin berkembang, ada yang diminta secara langsung bekerja disana. Mengingat gajinya yang berada di rumah sedikit pas-pasan, Andaru bepikir untuk menambang uang lewat freelance. Ia memiliki satu orang tanggungan sekarang.  “Mas Andaru udah selesai?” tanya Sabrina ketika mendengar suara kursi terdorong. “Sudah,” jawab Andaru sambil berbalik dan kerika melihat Sabrina, ia berpikir untuk memindahkan meja dan seperangkat komputernya ke ruangan di samping agar ruangan ini lebih luas. “Lho kerjannya udah selesai?” tanya Sabrina heran, ia sejak tadi hanya mendengar sapaan-sapaan singkat yang nampaknya adalah bosnya. “Untuk kerjaan hari ini udah selesai, Andrea yang tadi kasih tahu,” jawab Andaru yang tadi melihat asistennya menampilkan to do listnya. Untuk sekarang, pria itu bisa bernafas lega. Sabrina yang mendengar nama seseorang disebutkan suaminya mengerutkan dahi. Andrea? Ia dulu memiliki teman bernama yang sama dan itu perempuan. “Andrea itu perempuan, Mas?” tanya Sabrina. “Iya, dia perempuan.” Andaru aneh saja jika mendengar suara laki-laki yang menjadi asisten robotnya. “Mas Andaru dekat sama Andrea?” tanya Sabrina lagi. Ia sebenarnya mau berhenti bertanya tapi terlalu penasaran. “Dekat, saya sering mengobrol dengan Andrea,” jawab Andaru yang tak menyadari bahwa Sabrina mengira Andrea adalah manusia nyata. Sabrina tak mengatakan lagi, ia sudah merasa tak nyaman mengetahui bahwa Andaru memiliki seorang teman perempuan. “Ayo, kamu mau menghapalkan denah kan?” Sabrina mengangguk, tersenyum lebar dan berusaha untuk melupakannya. Tapi yang membuat gadis itu bingung, bagaimana Andaru membantunya menghapal ruang? “Saya akan memegang tangan kamu dari belakang, boleh?” tanya Andaru membuat Sabrina sedikit terkejut namun ia dengan cepat mengungguk. Andaru meneguk ludahnya susah payah, berjalan dan sekarang berada di belakang Sabrina. Lelaki itu bisa mencium aroma wanita itu sedekat ini, rasanya manis.  “Mas Daru?” panggil Sabrina ketika tak kungjung merasakan tangan suaminya. “Iy—ya, sebentar.” Andaru menatap aneh pada kedua tangannya yang sedikit bergetar.  Astaga, apa ini karena selama lima tahun tidak pernah bertemu seorang perempuan secara langsung dan dan sekarang hendak memegang lengannya? Andaru menarik nafasnya panjang dan berakhir memegang lengan Sabrina dari belakang.  “Kamar ini juga ngerangkam tempat kerja saya tapi mulai besok akan pindah ke samping agar lebih leluasa.” Andaru lupa mengatakan, bahwa saat mereka makam malam kemarin. Pria itu meminta Sabrina untuk tidur bersamanya, ia takut perempuan itu ingin ke kamar mandi saat tengah malam, malah menggelundung cantik di tangga. Beberapa menit kemudian, Sabrina sudah bisa menghapal ruangan kamar mereka. Andaru agak terkejut, gadis itu dengan cepat bisa menghapalnya.  “Kita istirahat dulu, saya baru memesan sarapan dan es buah.” Andaru mengajak Sabrina turun ke lantai bawah, tak lama terdengar motor berhenti di depan rumahnya dan meletakan pesanan itu di truck remote controlnya. “Esnya segar, Mas!” ucap Sabrina sambil tersenyum manis, rasa buahnya manis sekaligus terasa menyegarkan.  Andaru tersenyum melihat Sabrina, biasanya ketika memesan sesuatu. Ia hanya memakannya sendiri dalam kesunyiaan, kadang ditemani Motty si kucing kesayangannya. Dan, sekarang semenjak ada Sabrina, hidupnya tidak lagi sepi. “Ada lelehan es di bibir kamu,” ujar Andaru, ketika melihat itu tangannya segera membersihkan lelehan itu dengan ibu jari. Sabrina membeku, tidak menyangka akan mendapat perlakukan manis seperti ini dari Andaru. Andaru yang melihat wajah Sabrina tersipu, makin tertarik untuk menatapnya lebih lama. Ia juga tidak perlu takut wanita itu mengatainya aneh, karena Sabrina tidak bisa melihat apa yang dilakukannya. Jika dilihat-lihat, Sabrina memiliki wajah yang manis dan cantik. Kulitnya nampak putih dan bersih, tangan bahkan sangat lembut ketika dipegang olehnya. Andaru baru menyadari bahwa isterinya benar-benar cantik. Eh, isteri? Apa sekarang Andaru mulai mengakuinya? Andaru yang awalnya menganggap Sabrina beban, mulai berpikir bahwa keputusannya untuk membawa gadis itu sepertinya tidak salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN