Semua yang berada di dalam ruangan itu membeku ketika menyadari Sabrina telah mendengar apa yang Andaru dan Aulian dari balik pintu ruangan. Keheningan tiba-tiba melanda kecuali isak tangis Sabrina yang seperti ditahannya.
“Sabri—-“ Andaru yang hendak meraih wanita itu kepelukannya tertahan ketika perkataan Aulian terlintas di otaknya. Pria itu menurunkan tangannya untuk menggapai sang isteri tapi perasaan ragu itu langsung ditepis oleh ingatannya tentang senyum lembut dan perhatian Sabrina yang rasanya tidak ada kebohongan.
Andaru yakin, Sabrina tidak akan membohonginya. Gadis itu begitu polos dan rapuh seperti seorang bayi ketika Andaru temukan.
“Sabrina tenang,” ujar Adaru menarik tubuh gadis itu dan mendekapnya. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat. Bagaimana seorang anak tak marah saat Ayahnya tengah diperbincangkan dan hal itu berkaitan tentang hal buruk?
Wanita itu dengan cepat menoleh ke arah suaminya. “Apa Mas Andaru percaya bahwa Bapak melakukan itu?” tanya Sabrina. Walau ia merasa begitu banyak keganjilan terhadap kematian Ayahnya, Sabrina begitu mempercayai Sapto.
Sabrina sudah melalui banyak hal bersama Sapto dan ia tahu bahwa pria itu adalah orang yang baik. Ia bahkan menjadikan Bapaknya sebagai sosok yang akan selalu dicontohnya.
Tetangga-tetangganya dulu bahkan begitu menghormati Sapto walau pekerjaannya hanya seorang sopir ojek online, padahal disana ada beberapa tetangga yang memilili pekerjaan dengan gaji banyak dan rumah bagus. Itu semua disebabkan karena Sapto banyak melakukan hal baik pada tetangganya.
Pria paruh baya itu tidak segan memberikan makanan pada tetangganya yang kelaparan walau keadaan di rumah sendiri cukup sulit. Bapaknya selalu berpesan, berbagi tidak akan membuat seorang menjadi miskin.
Dan segitu banyak hal baik yang ingat Sabrina tentang Sapto, dia pasti marah mendengar apa yang dikatakan oleh Aulian.
“Mas Andaru enggak percaya kan?” tanya Sabrina lagi, ia bahkan membalikan tubuhnya. Tangan putihnya mencengkram erat kemeja sang suami yang pagi tadi ia siapkan dengan senyuman. Siapa yang menyangka siangnya ia akan menangis?
Andaru ingin sekali menjawab namun temggorokannya terasa tercekat. Jika dirinya mengatakan apa yang dinginkan Sabrina, itu sama saja membuatnya berbohong. Ia tidak bisa melakukan itu demi membuat Sabrina tak sedih padanya. Hal yang dibangun dengan kebohongan, hasilnya pasti akan buruk.
“Mas Andaru kenapa diam, Mas?” tanya Sabrina menuntut jawaban. Ia yang tadi mengira bawa Andaru tidak akan mempercayai ucapan Aulian, seketika menjadi ragu dengan keterdiaman ini. Apa suaminya mempercayai sepupunya?
“Sabrina, kamu tenang dulu.” Hati Andaru mencelos ketika Sabrina tiba-tiba menjauh darinya.
Sabrina sendiri merasa hatinya begitu perih. Andaru ternyata lebih mempercayai apa yang dikatakan Aulian. Jelas saja, pria itu sepupunya sedangkan Sabrina hanyalah orang asing yang tiba-tiba menjadi isterinya.
Andaikan saja Andaru sempat bersama Sapto lebih lama, Sabrina yakin bahwa suaminya akan mengetahui bahwa Bapaknya orang yang baik dan tidak akan meragukannya.
“Sabrina,” panggil Andaru lagi saat gadis itu mulai berjalan.
“Sabrina mau sendiri dulu, Mas,” ujarnya, wanita itu membutuhkan waktu untuk menelan kekecewaanya pada Andaru.
“Kamu enggak boleh pergi, kamu harus dengar semuanya dulu, Sabrina.” Andaru tidak ingin mereka berpisah sebelum masalah selesai tapi Sabrina nampaknya tidak mau mendengar apapun lagi, semakin mempercepat langkah kakinya keluar dari ruangan itu.
Andaru menghembuskan nafasnya, ia ingin sekali mengejar perempuan itu namun dia merasa Sabrina akan bertambah marah jika ia menemuinya. Bagaimana pun wanita itu terkejut bahwa sang suami tidak mempercayainya?
Pria itu lalu mengalihkan tatapannya pada Aulian yang sekarang menatapnya dengan menyedihkan. “Gue tarik kata-kata gue pengen jadiin perempuan kayak Sabrina sebagai isteri.”
Aulian merasa perempuan seperti Sabrina benar-benar banyak drama. Jika memang wanita itu yakin betul bahwa bapaknya tidak melakukan hal itu, caranya hanya satu, membuktikannya.
Andaru menghela nafasnya, bergerak menuju meja kerjanya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi lalu mendesah panjang. Pria itu lalu mengusap wajahnya, tengah berpikir cara untuk memberi tahu Sabrina yang sebenarnya.
“Apa lo masih mau mempertahan pernikahan sama Sabrina?” tanya Aulia membuat Andaru dengan cepat menatap pria itu. Tentu saja jawabannya iya.
“Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama, Ru,” ingat Aulian mendudukan tubunya di sofa ruangan itu sambi mengingat kejadian lima tahun lalu.
Andaru mau tak mau kembali mengingat memori itu, salah satu kenangan buruk yang tidak bisa ia lupakan juga seorang perempuan yang tak akan pernah bisa ia hapus sosoknya dari kepala.
Sosok cinta pertamanya juga patah hati pertamanya.
“Lo mau kemana?” tanya Andaru ketika melihat Aulian bangkit.
“Gue udah enggak betah tinggal disini, gue pergi dulu. Kalo ada apa-apa, hubungi gue,” ujar Aulian yang membuat Andaru baru sadar pria itu terlihat seperti Kakak daripada seorang adik.
“Lo juga,” balas Andaru mengingat bahwa Aulian sudah dibuang sebagai anak.
Pria itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan Andaru hingga tersisa keheningan. Tidak ada yang bisa dilakukannya, pria itu akhirnya memilih fokus untuk mengerjakan kerjaannya yang ternyata lumayan menumpuk.
Hingga tak sadar bahwa hari yang awalnya tadi terang sekarang berubah menjadi gelap. Andaru mendesah, ia kembali ke kebiasaan buruknya. Lupa waktu jika sudah bekerja, padahal beberapa hari ini ia tidak pernah tahan untuk melakukannya karena ingin menganggui Sabrina.
Andaru menghembuskan nafasnya, menatap lurus ke arah depan. Dimana kamarnya bersama Sabrina. Ia sebenarnya ingin cepat memberikan apa yang sebenarnya pada isterinya tapi itu semua saja dengan memberikan hal yang menyakitkan pada sang isteri begitu cepat.
Pria itu mengusap wajahnya, selain makan dan sholat, ia sama sekali tidak meninggalkan ruang kerjanya.
Andaru akhirnya keluar dari ruangan kerja dan menemukan suasana menjadi sepi. Ia pikir Bi Lela dan Sabrina mungkin sudah masuk ke dalam kamar, pasalnya jam tadi sudah menujukan pukul sembilan ketika ia keluar.
Ketika melewati pintu kamarnya, Andaru berhenti sebentar, berharap bahwa Sabrina sudah tidur dengan nyenyak di dalam sana sehingga mereka tidak perlu berbicara apapun.
Pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah, untuk mengambil makanan kebetulan perutnya terasa lapar.
“Lho Mas Daru? Ngapain kayak orang maling gitu?” tanya Bi Lela yang belum tidur, ia menatap ke arah majikannya itu yang mengendap-endap membuka kulkas.
“Saya lagi cara makanan ringan, Bi. Laper,” ucap Andaru melihat isi kulkas. Tangan besarnya segera mengambil buah apel untuk dimakan.
“Mas, itu belun dicuci!” kata Bi Lela segera mengambil apel yang sudah digigit itu ke wastafel lalu mencucinya. Wanita paruh baya itu juga memotongnya menjadi beberapa bagian.
“Makasih, Bi,” jawab Andaru memakan apel itu.
“Mas Andaru sama Mbak Sab lagi marahan ya?” tanya Bi Lela yang merasa tak nyaman dengan suasana ini.
“Iya, Bi,” angguk Andaru jujur sambil menghela nafasnya.
“Enggak papa, Mas. Namanya juga rumah tangga, jadi wajar kalo ada berantem-berantem kecilnya. Tapi saran, Bibi, jangan dibiarkan lama-lama. Takutnya nanti kalo abaikan akan timbul pikiran-pikiran buruk yang lain,” saran Bi Lela membuat Andaru mengangguk-angguk.
“Makasih sarannya, Bi. Saya mau nemuin Sabrina dulu,” jawab Andaru sambil memasukan potongan apel terakhir ke mulutnya dan langsung bergegas meninggalkan Bi Lela.
Lelaki itu sekarang berada di depan pintu, ingin mengetuk tapi merasa aneh. Andaru akhirnya memutuskan untuk masuk, menemukan suasana sepi yang lain ketika di dalamnya.
Andaru perlahan berjalan mendekati Sabrina dan menemukan bahwa perempuan itu telah memejamkan mata, telah tidur.
Helaan nafas terdengar lagi, Andaru perlahan membaringkan tubuhnya menatap ke arah Sabrina yang masih tidur mengarahnya. Kelopak mata yang terlihat sembab, tidak bisa ditutupi. Wanita itu sepertinya baru saja menangis atau masih menangis.
“Maafkan saya Sabrina, saya tidak mau berbohong sama kamu,” ujar Andaru mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah isterinya. “Saya akan berkata jujur, maaf jika itu membuat kamu terluka.”
Kelopak mata itu perlahan terbuka, bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh. Sabrina yang tidak tidur dan mendengar kalimat lembut dari suaminya merasa hatinya begitu sesak.
“Apa benar Mas jika Bapak mau melakukan hal itu?” tanya Sabrina lagi membuat Andaru memeluknya, membiarkan wanita itu menangis puas.
“Saya juga akan melakukan hal itu jika nyawa anak saya terancam, tapi Bapak sebenarnya menyelamatkan saya, Sabrina.”
Sabrina mendongak, merasa bingung dengan perkataan Andaru. Apa maksudnya?
“Bapak mungkin terpaksa melakukannya jika tidak kamu akan disakit oleh mereka, Bapak terancam, Sabrina.” Hanya itu yang terpikir oleh Andaru tentang Ayah mertuanya. Bagaimana pun, ia sempat berbincang dengan Sapto dan bisa merasakan kabaikan pria itu.
“Di detik-detik terakhirnya, Bapak sadar lalu mendorong saya dari motor sebelum—“ Andaru tidak bisa mengatakanya, beruntung ketika jatuh ia langsung kehilangan kesadaran atau mungkin ia akan melupakan segalanya.
“Setelah Bapak tiada, mungkin mereka sudah tidak peduli lagi dengan kamu. Bagi mereka, itu sudah cukup untuk memberi peringatan,” jelas Andaru sambil mengusap rambut isterinya yang begitu indah. Rasanya, semua yang ada di tubuh isterinya adalah hal yang indah.
“Sayalah yang membuat Bapak tiada, jika mereka tidak membenci saya, mungkin kamu masih bisa bersama Bapak.” Andaru tersenyum getir, ialah orang yang pantas disalahkan atas kejadian ini. Ia membuat orang yang tidak bersalah, ikut terkena kesedihannya.
“Maafkan saya Sabrina. Kamu pasti membenci saya,” kata Andaru sudah siap menerima pukulan seperti Aulian siang tadi. Tamparan bahkan terdengar lebik baik daripada kata pisah.
GREP!
Andaru terkejut ketika Sabrina memeluk lehernya dengan erat, membuat wanita itu sedikit berada diatas tubuhnya. Punggung isterinya tiba-tiba bergetar namun teredam karena d**a Andaru.
“Ini semua bukan salah Mas Andaru. Apa yang sudah ditakdirkan, akan terjadi. Apa yang menjadi miliknya, akan tetap datang padanya.”
Andaru merasakan hatinya bergetar, bahkan membuatnya tak sanggup menahan air mata lebih lama. Hingga cairan sebening kristal itu leleh di pipinya. Ia pun memeluk isterinya lebih erat. “Terima kasih, terima kasih, Sabrina.”
Detik berikutnya, hujan tiba-tiba turun diluar seolah ikut menangis bersama Andaru dan Sabrina malam ini yang merasakan kesedihan. Mereka berharap ketika tangis keduanya saling mengenal, air mata mereka tidak perlu bertemu lagi di hari lainnya.