Chapter 14

1803 Kata
“Mas Andaru mau tidur lagi?” tanya Sabrina yang tengah melipat mukenanya. Andaru yang baru saja selesai berdoa, membalikan tubuhnya sambil menatap seorang wanita yang membuat perasaannya menjadi adem. Biasanya, setelah ibadah subuh, Andaru akan memilih tidur kembali agar tak mengantuk saat meeting online. Tapi karena malam tadi mereka berdua menangis dan kelalahan hingga membuatnya tidur lebih cepat. Alhasil, sekarang dia sama sekali tidak mengantuk. Andaru sedikit malu ketika mengingat malam tadi, dimana dirinya ikut menangis bersama Sabrina. Tapi rasanya begitu lega ketika ia mengeluarkan semua isi hatinya pada sang isteri. Selama ini, Andaru pasti menyimpam masalahnya sendiri. Ia tidak bisa menceritakannya ke siapapun karena tidak memilikinya. Dan, sekarang ia memiliki sosok seorang isteri yang bisa menjadi tempat Andaru bercerita. “Karena malam tadi tidur cepat, saya jadi enggak ngantuk,” jawab Andaru sambil memamerkan senyumnya tapi ketika merasakan udara masih begitu dingin, Andaru tak tahan ingin kembali berbaring. Pria itu meletakan kepalanya di paha Sabrina dan mendongak menatap wanita itu. “Katanya enggak ngantuk,” kata Sabrina terkekeh, merasakan kepala Andaru tidur di pahanya. Ia pun mengelus rambut pelan suaminya. “Diluar masih dingin, enak banget ngelakuin yang anget-anget,” tutur Andaru dengan senyum begitu lebar. Laki-laki itu lalu membalikan tubuhnya dan seketika membenamkan wajahnya di perut Sabrina. Sabrina yang terlalu polos, tentu tidak mengerti arah pembicaraan suaminya. Ia pun memikirkan kegiatan yang bermanfaat. “Mas Andaru, gimana kita olahraga aja?” Andaru yang mendengar itu langsung bangkit dengan semangat, di pikirannya sekarang olahraga yang dimaksud isterinya adalah olahraga ranjang. Tentu saja dengan semangat ia mau. “Ayo kita turun ke bawah, Mas,” ajak Sabrina membuat Andaru mengerutkan kepalanya bingung. “Lho enggak disini?” tanya Andaru heran, ia pun mengangguk, mungkin Sabrina ingin mencari suasana baru dengan menggunakan kamar tamu. “Enggak enak olahraga di kamar, Mas. Susah nanti geraknya. Sabrina juga mau jalan-jalan di luar, udaranya masih segar.” “Hah?” Andaru tercengang. Detik berikutnya, ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu m***m. Sabrina ternyata mengajaknya berolahraga, benar-benar olahraga. Bukan yang di atas ranjang. Tapi mengingat beberapa minggu ini ia sudah tidak berolahraga. Andaru akhirnya mengangguk, mengenggam tangan isteri untuk turun ke lantai bawah yang masih sepi. Bi Lela mungkin masih bersiap-siap. Andaru membuka pintu rumahnya, angin sejuk langsung menyapu kulitnya membuat sedikit merinding. Tapi ini benar-benar menyejukan. “Jangan keluar dari pagar, olaraganya di depan teras aja,” ujar Andaru ketika Sabrina keluar dari rumah begitu bersemangat, gadis itu bahkan membawa sepatu olahraganya keluar. Semangatnya seketika luntur ketika mendengar perkataan Andaru. Ia baru ingat bahwa suaminya tidak akan mungkin keluar sejangkal pun dari pagar rumah jika bukan karena hal mendesak. Sabrina pun tak ingin memaksa, jika hal itu membuat Andaru tidak nyaman maka seberusaha mungkin dirinya akan menjauhi. Andaru yang menyadari bahwa ekspresi wajah isterinya berubah tidak bersamangat, merasa bersalah. Ia yakin jika Sabrina ingin sekali berjalan-jalan mengelilingi komplek, merasakan udara segara mengenai kulit wajahnya dan pulang membawa sarapan pagi yang enak. Pria itu menghembuskan nafasnya, menatap ke arah jalanan yang masih nampak sepi. Andai ia memiliki keberanian, mungkin ia bisa mengajak isterinya keluar dari rumah. Tapi kenapa Andaru harus beradai jika ia bisa melakukan itu untuk isterinya? Mereka hanya akan mengelilingi komplek, tidak sampai keluar. Pengamanan komplek pun cukup ketat, walau beberapa dari orang suruhan Eshan bisa masuk. “Ayo,” ajak Andaru tiba-tiba Sabrina yang hendak mengembalikan sepatu terdiam. “Ayo kemana, Mas?” tanya Sabrina bingung. “Ayo kita jalan-jalan pagi,” ajak Andaru sambil tersenyum. Yah, walaupun Sabrina tidak akan bisa melihatnya. “Tapi di dalam komplek saja, enggak papa kan?” “Iya, Mas!” Sabrina langsung mengangguk bersemangat, wanita itu perlahan duduk di kursi untuk memakai sepatunya. Andaru yang melihat itu segera mendekat dan membantu untuk memasangkannya. “Eh, enggak usah, Mas,” tolak Sabrina yang merasa tak enakan. “Enggak papa, saya nanti juga akan kayak gini waktu kamu hamil besar,” tutur Andaru membuat pipi Sabrina yang mendengar itu bersemu merah mendapatkan perlakuan ini, apalagi ketika suaminya mengatakan akan melakukan hal seperti ini ketika dirinya hamil. Apa Andaru ingin segera menginginkannya hamil anak mereka? “Sudah selesai.” Andaru kembali bangkit lalu menarik tangan wanita itu untuk diajak keluar dari pagar. Sabrina mengerutkan dahinya bingung ketika mereka tiba-tiba berhenti, mereka sepertinya sudah berada di depan pagar. Apa Andaru merasa ragu? “Enggak papa, Mas. Semuanya baik-baik aja,” ujar Sabrina sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Andaru.  “Iya, semuanya akan baik-baik aja.” Andaru menghembuskan nafasnya, pria itu lalu membalas genggaman tangan itu dan melangkahkan kakinya ke jalan. Andaru menatap kakinya yang berjalan di jalan, melihat ke kanan dan kiri, merasa tidak percaya bahwa ia akan keluar dari rumah hanya untuk jalan-jalan lagi. Selama lima tahun, ia baru dua kali keluar dari rumah. Pertama, tipuan tentang Panti Asuhan dan kedua saat Bi Lela masuk rumah sakit.  Ia tidak menyangka yang ketiga hanya karena jalan-jalan pagi. Andaru tidak bisa merasa tenang, ia seketika menjadi gugup dan takut. “Mas Andaru kalo olahraga dimana?” tanya Sabrina yang merasa bahwa suaminya agak gugup lalu berusaha memberikan pertanyaan agar Andaru bisa sedikit santai. Ia ingin suaminya bisa menikmati hal ini sebentar saja. Andaru menoleh, ke arah sang isteri. “Eh, biasanya saya olahraga di lantai dua atau halaman belakang.” Sabrina yang mendengar itu menebak bahwa suaminya cukup rajin, dari mana memangnya Andaru bisa mendapatkan tubuh yang bagus itu? Jika diberi kesempatan untuk melihat walau beberapa detik, Sabrina ingun sekali melihat suaminya. Andaru mengalahkan keinginannya sejak kecil yang menginginkan melihat matahari terbit dan tenggelam. “Ini Mas Andaru kan?” tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga Andaru, baru saja membuang sampah. “Iya, Buk,” jawab Andaru sambil mengangguk sopan. “Wah, saya udah lama banget enggak lihat Mas Andaru,” kata ibu itu lagi sambil tersenyum ramah. Andaru tersenyum mendengar, wanita paruh baya ini merupakan tetangga yang cukup ia kenal karena beberapa kali datang ke rumah membawakan kue. Dan, sering menceritakan anak perempuannya yang membuat Andaru berpikir ini unsur perjodohan. “Kebetulan anak gadis saya juga lagi di rumah, Mas. Berkat rekomendasi Mas Andaru, sekarang anak saya udah kerja di perusahaan besar. Tapi, saya jadi susah Mas karena anak saya itu juga belum menikah, sibuk banget sama kerjaannya.” Bu Zubaidah jelas bangga dengan anaknya yang bekerja di perusahaan besar. Ia sering menceritakannya pada tetangga yang lewat atau pun orang asing ketika bertemu. Berkat anak perempuannya itu juga mereka bisa tetap melanjutkan kredit rumah di komplek ini. Jelas harganya tak murah karena dekat dengan perkotaan, belum lagi fasilitas di perumahan ini cukup lengkap. “Gimana Mas Andaru masuk dulu?” ajak Bu Zubaidah membuat Andaru menggeleng ramah. “Enggak usah, terima kasih, Bu. Ini saya mau nemenin isteri saya jalan-jalan dulu,” kata Andaru yang melihat wajah Sabrina yang terlihat cemberut, karena diabaikan kehadirannya. “Ini isterinya? Saya pikir adiknya, Mas Andaru,” ujar Bu Zubaidah terkejut. “Iya, Bu. Maaf enggak mengundang, soalnya kemarin nikahnya hanya di KUA,” cerita Andaru jujur, kadang ia merasa bersalah pada Sabrina kerena tidak bisa membuat pesta pernikahan yang besar. “Iya, enggak papalah. Terpenting itu Mas Andaru udah punya rumah dan mapan,” kata Bu Zubaidah. “Isterinya kerja dimana, Mas?” Andaru tidak tahu apa maksud Bu Zubaidah bertanya seperti itu. Entah bertanya jujur padahal ia bisa melihat kondisi Sabrina yang tidak bisa melihat atau ingin meremehkan isterinya. “Saya guru ngaji Al-Qur’an braile, Buk,” jawab Sabrina membuat Bu Zubaidah terdiam hingga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan Andaru yang mendengar itu perlahan melebarkan senyumannya. Setelah itu Sabrina dan Andaru pamit, mereka kembali berjalan santai dan menikmati udara segara. Tapi, Andaru terus memandangi isterinya. Ia seketika merasa bangga. Wanita itu bisa menggunakan kekurangannya untuk berbagi. “Saya enggak tahu kalo kamu seorang guru ngaji,” kata Andaru yang tidak bisa menahan diri untuk berkata kagum. Sabrina tersenyum kecil. “Awalnya Sabrina membaca untuk dirinya sendiri aja, Mas. Tapi ternyata ada banyak orang yang seperti Sabrina dan mereka pengen juga membaca Al-Qur’an. Jadi kenapa enggak Sabrina ajarin aja.” “Kamu hebat,” puji Andaru lagi. Sabrina yang mendengar jadi tersenyum lebar. Ia sebenarnya merasa sedikit tak percaya diri, dirinya tidak lebih hebat dari anak Ibu tadi yang bekerja di perusahaan besar dan pasti setiap hari terlihat cantik. Namun, Andaru ternyata tidak memikirkan itu dan malah memujinya. Sungguh ia sangat beruntung. Mereka lalu mampir untuk membeli sarapan berupa bubur ayam dan membawanya kembali. Sabrina sangat senang hari ini karena Andaru perlahan sudah berani untuk keluar dari rumah.  “Lho Mas Andaru dan Mbak Sab darimana?” tanya Bi Lela yang menyapu teras terkejut melihat pasangan suami isteri itu. “Dari jalan pagi, Bi. Ayo kita sarapan dulu, ini bubur ayam.” Bi Lela yang mendengar bahwa Andaru sudah berani keluar walau hanya jalan-jalan di komplek ikut merasa senang. Ia ingin pria yang sudah dianggapnya sebagai anak itu bisa keluar dan beraktivitas tanpa rasa takut lagi. Bi Lela tidak sabar melihat Andaru nanti benar-benar bisa keluar dari rumah seperti orang normal, membawa isteri dan calon anak-anaknya berjalan bersama. Sungguh, dia tak sabar. Setelah selesai sarapan, Bi Lela tiba-tiba mengajak Andaru dan Sabrina untuk membuat ikan bakar. Kebetulan sudah lama tidak memakannya, Andaru pun setuju. Mereka pun berbagi tugas untuk membuatnya menjadi lebih mudah. Bi Lela dan Sabrina bertugas untuk membersihkan ikan dan menyiapkan bumbu, sedangkan tugas membakar diserahkan kepada Andaru yang sudah siap di halaman belakang. “Harumnya aja enak. Apalagi ikannya,” kata Andaru ketika mengipas-ngipas ikan dan tak lupa membalikannya. Pria itu jadi kasihan pada tetangganya yang mungkin akan mengiler karena mencium asapnya. Tiga ikan itu selesai dibakar saat hampir memasuki makan siang. Andaru lalu membawa ke ruang makan. Sebenarnya mereka ingin makan dihalaman belakang agar sekaligus merasakan angin sepoi-sepoi, sayangnya saat ini terlalu panas. Andaru seketika menginginkan rumah besar dengan halaman yang besar pula agar bisa menanam pohon yang rindang, jadi walaupun matahari begitu terik. Mereka duduk di bawah pohon tanpa takut panas. “Tambah sambal lagi, Mas Andaru?” tanya Bi Lela ketika melihat Andaru begitu nafsu makan, bahkan keringat kecil-kecil sudah memenuhi dahi lelaki itu. “Udah cukup, Bi. Sambalnya pedas,” kata Andaru lalu melirik ke arah isterinya. Ia mengerutkan bingung ketika melihat Sabrina tak menyentuh ikan bakarnya dan seketika menebak penyebanya, wanita itu takut tersedak duri ikan karena tidak bisa melihatnya. Walau sedang dalam keadaan semangat makan, Andaru memilih untuk berhenti makan. Rasanya tidak adil ketika ia menikmati enaknya ikan namun Sabrina tidak, meraka adalah suami isteri. Andaru akhirnya mengambil alih piring ikan milik Sabrina dan mencubit-cubit daging ikan untuk diletakan di piring isterinya. “Enggak ada tulangnya, kamu bisa makan.” Sabrina yang mendengar itu segera tersenyum lebar. Ia sebenarnya tidak masalah jika tidak bisa makan ikan, terpenting suaminya bisa makan dengan lahap. Ia sama sekali tak menduga, Andaru rela berhenti makan agar membisahkan ikan dan tulang untuknya. “Makasih Mas Andaru.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN