Seorang laki-laki dewasa memasuki sebuah warteg yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Penampilannya yang mengenakan kaos dan celana selutut, sontak menjadi perhatian disana. Bukan karena pakaiannya, namun tubuh tinggi yang tegap dan wajah yang tampan.
Orang-orang yang disana seketika memandang heran, orang itu agak mencolok di warteg seperti ini sehingga rasanya lebih cocok berada di restoran mewah.
"Mbak, saya pesan nasi, tahu tempe, ayam goreng sama telur dadar, disiram kuah ya, Mbak," pesan Aulian pada penjual warteg yang sudah menjadi langganannya sejak tingal di sebuah kos tak jauh dari sini. Ia pun mengambil tempat duduk untuk makan disini.
"Siap, Mas Aulian yang tampan," kata penjual itu sambil tersenyum manis. Kebetulan yang menjual seorang gadis, siapa tahu Aulian suka padanya sehingga dirinya tidak hanya menyiapkan makanan pria itu di warteg tapi di rumah mereka bersama nanti.
"Saya kasih bonus sambal terong, Mas," kata Lila memberikan pesanan Aulian plus segelas air dingin.
"Kok saya enggak dikasih sih, Mbak?" protes pelanggan lain.
"Mas Aulian udah jadi pelanggan tetap disini, kalo mau dapat bonus ya sering-sering kesini," kata Lila lalu menatap ke arah Aulian dengan senyum lebar. "Plus harus tampan juga hehehe." Pelangan yang lain sontak menyoraki penjual itu.
Aulian yang mendengar terkekeh, padahal ia baru makan empat kali disini tapi sudah disebut pelanggan tetap. Tapi, tidak apalah, dirinya mendapatkan bonus, lumayan.
Ia tinggal tak jauh dari sini, sebuah kos dengan kamar mandi di dalam dan kamar cukup besar. Andaru sebenarnya masih menyuruhnya tinggal di rumahnya namun Aulian menolak. Pertama, ia tidak bisa tidak berpikiran buruk pada Sabrina dan kedua, ia tidak ingin melihat Andaru pamer kemesraan dengannya membuatnya kesal.
Lihat saja, jika ia sudah punya pasangan. Ia akan pamer yang lebih mesra pada Andaru.
Aulian baru mengakhiri makan siangnya dengan satu suapan ketika orang-orang di warteg menjadi ramai saat seorang laki-laki dengan gaya luar biasa mewah masuk ke dalam warteg. Belum lagi mobil dua pintunya yang berada di depan warteg, menjadi sorotan.
"Kak, gue mau ngomong sama lo," ucap Atha tanpa basa-basi membuat Aulian yang mendengarnga sama sekali tidak merespon.
Aulian tidak perlu repot-repot untuk mengetahui apa yang adiknya ingin bicarakan. Paling itu permintaan dari Eshan agar ia kembali ke rumah, masalah kantor dan hal yang tidak penting lainnya.
Atha tahu, Aulian sama sekali tidak memperdulikannya. Ia sudah sering mengajak sang kakak untuk pulang dan selalu tidak berhasil. Lelaki itu pun duduk di samping Kakaknya dan seorang gadis muda bertanya padanya. "Mas, mau pesan apa?" tanya Lila.
Pria muda itu ingin menolak, makanan apa yang bisa dimakan di tempat seperti ini? Tapi ketika melihat siapa yang menawarkan, Atha membeku. Bola matanya seketika membulat cerah, mulutnya sedikit menganga ketika melihat sosok Lila yang menurutnya cantik.
Aulian mendengus, adiknya benar-benar tidak bisa melihat yang cantik sedikit pun.
"Pesan kamu untuk jadi pasangan aku boleh?" tanya Atha membuat Lila yang mendengar itu terkejut lalu terkekeh. Gadis itu benar-benar terlihat manis.
"Ya, enggak bisa, Mas. Saya udah kecantol sama Mas Aulian deluan," ucap Lila tanpa malu-malu membuat Atha menatap sang kakak dengan wajah masam.
"Lila, buatin es teh aja," kata Aulian lalu berpaling pada adiknya dengan wajah bosan. "Lo mau apa kesini?"
"Jemput lo, Kak," jawab Atha cepat.
"Enggak, terima kasih," balas Aulian tak kalah cepat.
"Oke," kata Atha membuat Aulian tercengang. Biasanya pria itu akan berceloteh panjang membuatnya pusing, tapi sekarang malah terlihat santai. Ketika ia meliht Atha, tatapan adiknya itu ternyata jatuh pada Lila yang tengah membuat teh dan berbicara pada pelanggan. Gadis itu lalu mengantarkanya ke meja sang kakak dan adik.
"Es teh manisnya, Mas," kata Lila meletakan pesannnya.
"Enggak pake gula kan? Soalnya kamu udah manis," gombal Atha membuat Lila tertawa. Ia memang terhibur dengan adik dari Aulian namun ia lebih suka pada sosok pria yang dewasa.
"Kak, lo beneran harus pulang. Papa beberapa hari ini marah-marah terus," ujar Atha yang baru sadar tujuannya kesini. Dan yang menjadi penyabab masalahnya tak lain dan tak bukan dirinya sendiri. Maka dari itu, ia harus berusaha untuk membuat sang kakak kembali agar Ayahnya tak marah lagi.
"Lo kenapa bela Andaru banget, sih, Kak? Dilihat dari mana pun, Andaru bahkan kalah sama Papa yang punya uang untuk melakukan apapun yang dia mau.”
Aulian yang mendengar itu seketika wajahnya menggelap penuh emosi, ia tahu apa yang dikatakan adiknya benar. Andaru bukan apa-apa dibanding Eshan. Seketika ia menjadi menyesal saat dulu menjadi pemimpin, tidak menjalin relasi dengan banyak orang untuk bisa memperkuatannya.
"Gue tahu kalian baik tapi gue bakal tetap berdiri sama orang yang pada akhirnya menang, Kak." Atha mengerti jika Aulian dan Andaru merupakan orang baik tapi jika ia mengikuti mereka, bagaimana dengan nasibnya? Ia pasti akan menjadi gelandangan.
"Papa punya banyak cara untuk menang dari Andaru. Kalo perlu, dia bisa sekarang melenyapkan Andaru. Tapi, Papa kayaknya benar-benar mau mempermainkan keponakannya dulu."
Bagaimana pun dulu Andaru tidak memiliki siapa-siapa, jika dia tiba-tiba menghilang. Orang-orang mungkin akan mencarinya sebentar lalu beberapa hari kemudian, orang akan sibuk dengan kegiatannya lain.
Atha meneguk es tehnya hingga tak tersisa. “Lo pikirin aja lagi, Kak. Apa untung yang lo dapat kalo bantu Andaru.” Pria muda itu menghela nafasnya, Andaru memang sepupu mereka. Tapi mereka baru mengenalnya lima tahun yang lalu, mereka tak sedekat itu. “Apa jangan-jangan lo masih merasa bersalah karena perempuan itu?”
Aulian tak mengatakan apa, tapi seluruh wajahnya sekarang menujukan penuh kebencian dan kemarahan. Ekpresinya benar-benar terlihat buruk. Karena wanita itu, ia sulit untuk menyukai seorang wanita lagi.
“Kalo lo masih suka sama perempuan itu, pulang ke rumah, Kak. Dia masih jadi anak buah Papa kok.”
“Gue enggak sudi,” balas Aulian.
————
“Bi, biar Sabrina aja yang bawain buahnya untuk Mas Andaru.”
“Hati-hati ya, Mbak Sab.”
Sabrina mengangguk, membawa mangkok berisi potongan buah segara untuk menemani suaminya yang tengah rapat atau sedang mengerjakan pekerjaannya. Andaru pasti merasa lelah dan isterinya itu berharap ketika memakan buah segar, semangat suaminya kembali terisi.
CLEKK!
“Mas Andaru,” panggil Sabrina.
Andaru yang tengah mencoret-coret di sebuah kertas langsung segara menyembunyikannya agar tak dilihat sang Isteri. Tapi, beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa Sabrina tidak akan bisa melihat.
“Sabrina ganggu enggak, Mas? Ini ada buah,” kata Sabrina masih berdiri di depan pintu.
“Enggak kok, masuk aja,” kata Andaru membuat Sabrina masuk. Pria itu langsung tersenyum ketika melihat potongan buah segar dibawa sang isteri, cocok sekali dengan suasana siang ini.
Karena Andaru telah mengerjakan pekerjannya, laki-laki itu mengajak Sabrina untuk duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu. Di ruangan kerjanya memang tidak ada sofa untuk duduk, tapi itu tak masalah.
“Mas Andaru lagi ngapain?” tanya Sabrina, duduk di sebelah suaminya.
Andaru yang sedari tadi tengah membuat list perusahaan yang akan ia lamar, terdiam sebentar. “Oh, lagi ngelihat tugas dari Andrea.”
Jika ia menjawab jujur dengan alasannya, Sabrina pasti akan merasa khawatir. Mungkin juga wanita itu merasa bersalah karena hanya menbebani Andaru, padahal hal itu sama sekali tidak.
Andaru hanya memikirkan tentang kehidupan yang lebih baik. Pria itu menginginkan isterinya agar bisa melihat, untuk melakukan itu ia harus menyiapkan uang yang cukup banyak. Ia belum tahu jumlahnya, karena belum mencari tahu lebih banyak. Tapi, Andaru benar-benar ingin membuat Sabrina bisa melihat.
Lalu selain itu, Andaru juga mengingunkan anak yang banyak. Sejak kecil, ia begitu merasa kesepiaan saat di rumah. Mamanya memang selalu ada keculia jika sedang bekerja tapi rasanya pasti menyenangkan jika memiliki empat atau lima anak. Tapi, setelah dipikir-pikir, Andaru harus mendiskusikannya dengan Sabrina.
Jika wanita itu tidak setuju, Andaru tak akan memaksa. Karena proses membersarkan anak nanti, harus dengan bantuan mereka berdua.
Lain dipikiran Andaru, lain pula di Sabrina yang sekarang wajahnya nampak tak nyaman. Suaminya lagi-lagi menyebutkan nama seorang wanita yang sama, membuatnya sungguh resah dan khawatir.
Mungkin, ia harus menanyakan ini kepada suaminya. Sabrina takut berpikir terlalu jauh.
“Mas, Sabri—-“
“Sabrina, kamu mau punya anak berapa?” tanya Andaru tiba-tiba membuat Sabrina mengerutkan dahinya. Pertanyaan yang ingin ia tanyakan, seketika menghilang dan digantikan dengan hal baru.
“Sedikasihnya aja, Mas,” jawab Sabrina tesenyum kecil.
“Kalo dikasih 15 gimana?” tanya Andaru membuat Sabrina terkejut. Apa ia bisa melahirkan sebanyak itu?
“Kalo Mas Andaru emangnya mau berapa?” tanya Sabrina penasaran. Tanpa sadar ia meletakan tangannya di perut, berharap ada sesuatu yang tumbuh disana.
“Saya pengen 4 atau 5 tapi itu kembali ke kamu lagi. Saya enggak akan maksa, kamu itu kan isteri saya bukan mesin pencetak anak.”
Sabrina tanpa sadar terkekeh mendengarnya. “Memangnya kenapa Mas Andaru pengen punya lima anak?”
“Biar mereka nanti enggak kesepian saat kita udah enggak ada,” ujar Andaru sendu. Ia tanpa sadar kembali memikirkan hal yang terlalu jauh. Tapi, ia tidak ingin anaknya merasakan apa yang dulu dirasakannya.
Sabrina mengangguk mendengarnya, ia pun sebagai anak tunggal merasakan yang sama. “Semoga ya, Mas. Sabrina juga dulu ngerasain rasanya kesepian karena enggak punya saudara, apalagi waktu di tinggal Ibu. Sabrina cuman sama Bapak tapi sekarang pun sudah pergi.”
“Kamu punya saya sekarang, punya Bi Lela juga,” kata Andaru cepat sambil menggengam tangan isterinya yang begitu lembut. Sabrina mengangguk, ia pun merasa bahagia kini bersama Andaru.
Andaru lalu meminta wanita itu untuk membuka mulutnya karena akan ada sepotong semangka manis yang akan disuapkanya. “Terima kasih, Mas.”
“Sama-sama, isteriku,” kata Andaru agar terlihar romantis.
Sabrina yang mendengarnya tersipu, ia merasa senang ketika mendengar panggilan Andaru. Ia pun secara tidak lamgsung berterima kasih pada Bapaknya untuk meminta Andaru menikahinya. Tapi, Sabrina selalu penasaran apa yang dikatakan Bapaknya untuk Andaru.
“Mas Andaru, bisa ceritain enggak waktu Bapak minta Mas Andaru untuk nikahin Sabrina?” tanya wanita itu membuat gerakan tangan Andaru yang hendak kembali menyuapkan isterinya terhenti.
Bagaimana ini, apa yang harus Andaru katakan? Apa ia harus jujur bahwa Sapto sama sekali tidak meminta Andaru untuk menikahi Sabrina melainkan hanya sekedar menjaganya.
Apa Sabrina bisa menerimanya jika Andaru mengatakan yang jujur. Tapi, pria itu terlalu takut jika Sabrina ketika mendengarnya akan merasa ditipu dan paling buruk, meminta pisah.
Andaru takut dan tidak siap.