Gadis yang sekarang memakai hoodie biru, celana jeans, sepatu kets warna putih, rambut yang sengaja di ikat asal, dan tas kecil di punggungnya tengah bersiap menuju rumah bibinya, dia kesana menggunakan ojek online. 10 menit menunggu akhirnya ojek pesanan nya datang.
"Permisi, sama teh annasya bukan?" Tanya seseorang dengan jaket khas ojek online.
"Iya bang saya yang tadi pesen ojeknya."
"Ahh iya teh, maaf ini helm nya" Sambil menyodorkan helm pada asya.
"Sesuai aplikasi ya teh."
"Iya bang, perumahan merpati indah blok B" Ucap asya.
30 menit asya sampai di rumah bibinya, dia turun dan memberikan uang pada ojolnya.
"Makasih bang" Ucap asya.
"Sama sama teh" Jawabnya kemudian pergi meninggalkan asya.
Asyaa kemudian melangkah menuju rumah bibinya.
"Assalamualaikum bii" Ucap asya sambil menggetuk pintu.
"Assalamualaikum" Ucapnya sekali lagi. Tapi tetap tidak ada yang menjawab ataupun membukakan pintu.
"Kemana semua orang?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Neng asya" Panggil bu ratmi tetangga bibinya.
"Ehh ibu" Ucapnya sambil tersenyum.
"Nyari mama zia ya? "
"Iya bu, pada kemana ya ko sepi?"
"Ohh kemaren katanya mau piknik cuma gak tau kemana"
"Ohh gitu, pantesan sepi" Ucapnya pelan. "makasih ya bu" .
"Sama sama neng, yaudah ibu pamit dulu mau ke warung"
"Iya bu, silahkan"
"Piknik katanya, bahkan saat ini gak ada satu orang pun yang inget gue" Ucapnya sendu.
"Yaudahlah balik lagi aja, belum tentu juga mereka baliknya kapan"
Saat hendak melangkah, tiba tiba hp asya bergetar, nomor tidak di kenal.
"Hall--"
"Asya dimana? Cepat kesini ida kecelakaan. " Memotong ucapan asya dan terdengar suara panik di sana.
"Ida kecelakaan?? Dimana? Serlok sekarang juga." Asya ikutan panik.
"Gue serlok lewat chat. " Tut... Telepon di matikan sepihak, tidak lama setelah itu asya menerima pesan dimana tempat ida kecelakaan. Asya buru buru memesan ojek online.
"Mana sii ojol, lama banget ... Mudah mudahan ida gak papa." Batinnya khawatir.
15 menit kemudian ojek online pesanan asya pun datang.
"Sesuai aplikasi ya teh" Ucap amang ojol nya sembari memberikan asya helm.
"Iya bang, jalanna cepetan ya bang." Kemudian mereka pun pergi meninggalkan pekarangan rumah bibinya.
Sepanjang perjalanan asya khawatir tentang sahabatnya itu, dia terus berdoa semoga tidak terjadi apa apa sama ida.
***
Dia melihat sekeliling, hanya terdapat bunga yang mengelilingi bangku taman dengan 2lampu taman yang terpasang di belakang bangku.
"Ini bener kan tempatnya? Masa iya kecelakaan di taman kek gini" Tanyanya pada diri sendiri, sambil melihat handphone nya.
"Bener sii orang itu ngirimnya alamat sini tapi ko sepi ya kek gak ada kecelakaan" Bingungnya.
"Apa jangan jangan gue di kerjain? Waaah nyari masalah tuu orang sama gue" Ucapnya kesal.
Asya sebenarnya seorang gadis ceria hanya saja semenjak dia mengerti terhadap masalah kedua orang tua nya dia menjadi pribadi yang dingin dan kalo ngomong panjang pun hanya pada orang orang tertentu saja.
Tiba tiba seseorang menghampiri asya yang sedang ngomel ngomel sendiri.
"Sya." Seseorang menepuk bahu asya.
"Astagfirullah, kaget aing,ida katanya kecelakaan ko lo segar bugar kek gini gak ada tanda tanda nya abis kecelakaan" Heran asya.
"Hehehe sorry sya, sebenarnya gue gak kecelakaan gue sengaja biar lo datang kesini"
"Gue udah panik, udah khawatir banget taunya cuma di prank." Kesal asya.
"Hehehe, iya sorry gue cuma mau ngajak lo keluar kemaren kemaren kan ngajak tapi lo nya gak mau terus mumpung sekarang kita libur yoo kita healing"
"Kemaren kemaren gue cape da boro boro mau keluar ini aja tadinya mau ke rumah bibi tapi mereka gak ada lagi piknik katanya mumpung libur sekolah" Ida hanya manggut manggut saja menanggapi nya.
"Yaudah lupain soal bibi lo itu, kita ke sana dulu sebentar gue lapar belum makan dari orok" Canda ida.
"Gak bakal idup dong lo kalo gak makan dari orok" Ucap asya memutar bola mata malas. Yang di sampingnya hanya ketawa mendengar ucapan asya.
Mereka mampir ke sebuah caffe tempat biasa anak muda nongkrong. Mereka duduk di sebuah meja lesehan yang berada di pojok, sengaja mereka memilih di pojok supaya kalo mereka lagi makan tidak terganggu sama apapun.
"Lihat lihat dulu aja lo mau apa, nanti panggil mbak nya"
Asya hanya mengangguk dan membuka buku menu nya. Ida hanya memperhatikan asya sambil berucap.
"Gue tau lo nyimpen begitu banyak luka sya cuma lo hebat dalam menutupinya" Ucap ida dalam hati.
"Kenapa lo liatin gue kek gitu? Ngeri gue"
"Weeeh siapa juga yang liatin lo gak ada kerjaan banget gue,gue tomboy kek gini juga sukanya masih sama laki lah gue normal" Sewotnya
"Dihh biasa aja dong ngomongnya" Ida pun hanya memutar bola matanya malas. Tidak lama setelah itu ida beranjak.
"Gue ke toilet dulu bentar ya" Izinnya, asyapun hanya mengiyakan.
"Bang, sekarang waktunya" Ucap ida pada seseorang.
Setelah berkata begitu lelaki itupun melangkah menuju meja yang di tempati asya.
Asya mendongak untuk melihat siapa yang mendekatinya ternyata seseorang yang beberapa minggu ini sengaja dihindarinya.
"Kenapa disini bang?" Tanya asya, matanya tetap memperhatikan buku menu di tangannya.
"Abang mau ngomong" Asya hanya mengangguk.
"Kamu ada masalah?" Tanya jhons to the point.
"Masalah apa?" Tanya balik asya menaikan alis mata sebelah.
"Kenapa akhir akhir ini sering melamun? Dan kenapa jauhin abang? Apa abang ada salah sama asya? Abang minta maaf sya, tapi tolong jangan jauhin abang" Mohonnya.
"Ada sesuatu yang harusnya gak abang tau"
"Okey abang gak bakal maksa kamu buat cerita, tapi abang minta tolong jangan sering ngelamun saat kerja sya bahaya, abang minta maaf soal stella kemarin udah bilang seperti itu sama kamu sya, tapi sumpah demi apapun abang gak pernah punya hubungan sama dia sya sebelum kenal sama kamu abang sampe sekarang gak pernah punya pacar disini"
"Berarti di luar ada ya?"
"Ya ngga juga asya, semenjak abang putus sama mantan abang 3tahun lalu sampe sekarang abang gak punya pacar" Ucap jhons frustasi.
"Terus kenapa abang jelasin ke asya, mau dia pacar atau bukan juga asya gak peduli emang asya siapanya abang?" Tanya asya datar padahal hatinya senang karena jhons akhirnya cerita sendiri.
"Abang suka sama kamu sya" Ucap jhons lantang. Hingga membuat pengunjung lainnya mengarah pada mereka berdua.