Anya berjalan memasuki ruang aula yang sangat megah, banyak wanita-wanita dengan pakaian sexy disana saat dia berdiri diambang pintu matanya melihat ke arah dominic yang sedang bersama seorang wanita tetapi matanya lurus menatap pada dirinya, anya merasa tidak nyaman sebenarnya karena tatapan dominic seperti menelanjanginya.
"Lisa. Itu pacar sang Lord ?" tanya anya pada lisa.
"Hem entahlah nona saya tidak tau" kata lisa sedikit berfikir karena banyak sekali wanita yang mencoba untuk menggoda lord pikir lisa.
Anya diajak oleh lucas untuk lebih masuk dan menikmati pesta anya benar-benar takjub sekaligus ngeri, saat melihat beberapa wanita duduk dipangku pria pria itu dengan senang hati memberikan tubuhnya untuk dihisap darahnya dan mereka itu tampan, benar ya semua itu vampire tampan eh tidak ! ada yang biasa juga tetapi tukang mabuk anya membalikan tubuhnya dan menabrak d**a bidang yang begitu keras.
"Aduhhhh ! Hidung ku" anya mengelus hidungnya yang sakit.
"Ahh maafkan aku, coba kulihat apa ada yang terluka ?" pria itu menangkup pipi anya dan melihatnya intens, anya begitu terpanah saat mata coklat itu menatapnya dan rambut berwarna merah Jantungnya berdetak cepat saat netra mereka bertemu, dia benar-benar tampan dan ceria.
"Mau berdansa dengan ku ?"anya tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya mulutnya seperti terkunci untuk menjawab si tampan itu dan dia tidak tau caranya berdansaaaa !.
"Izinkan aku berdansa denganmu" pria itu membungkuk dan meminta dengan sangat sopan pada anya.
"B-bukan aku tidak mau tapi aku tidak bisa berdansa" ahh anya benar-benar malu dan menundukan kepala dia sangat malu dan benar-benar tidak tau harus apa.
"Tenanglah" pria itu mulai menarik tubuh anya agar semakin tidak ada jarak diantara mereka, tangannya merengkuh pinggang ramping anya alunan lagu yang merdu terasa menggoda dirinya untuk mencoba berdansa bersama pria yang belum da ketahui namanya itu.
"Injak sepatuku"
"Apa ?"
"Injak saja" sambil tersenyum manis pada anya.
Anya merasa ragu tapi pria itu terus meyakinkan nya, anya mulai menginjakan kaki diatas sepatu pria itu lalu menatap kearahnya, saat kedua kakinya menginjak sempurna anya melihat ke arahnya lagi takut pria itu keberatan.
"Apa kakimu sakit ?" tanya anya polos
"Tidak ayo ikuti lagunya, kalungkan tanganmu di leherku" anya tersentak kaget mendengar penuturan pria bernama castielo itu.
"Ahh aku malu, aku tidak mau"
"Tidak apa-apa sungguh"
Pria itu menarik tangan anya dan menaruh tangan wanita itu dileher nya, mereka menari mengikuti alunan lagu mereka berdua benar-benar membuat semua pasang mata tertuju kepada mereka. Tak terkecuali sang Lord dominic dia menatap tak suka dari atas singgasana nya dia tak suka miliknya disentuh orang lain.
"Buka mulutmu my lord" kata satu wanita itu yang akan menyuapi dominic satu buah anggur namun ditepis begitu saja olehnya.
Alunan lagu yang romantis mengiringi orang-orang dilantai dansa anya begitu senang bisa bersama dengan pria tampan ini yang dia ketahui bernama castielo, namanya seperti seorang bangsawan yang berada di cerita manhwa dan film para bangsawan dia sangat senang, jujur saja pria ini berbeda dengan pria yang sedang duduk disinggasana bersama parawanita itu.
"Anya, kau cantik" katanya sambil menatap pada netra hitam anya itu membuatanya bersemu merah dan menunduk sedikit, disaat suasana romantis itu sebuah tangan menarik paksa anya dari castielo dan membuyarkan suasana.
"Ahhh!! L-lord"
Dominic menarik anya secara paksa, dia benar-benar panas dan tidak suka saat wajah anya bersemu gara-gara anak dari duke di wilayah Domithz itu, dia menarik tangan gadis ittu dan merengkuhnya dengan paksa dan sedikit berbisik.
'Aku tidak suka kantung darahku berdekatan dengan pria lain'
Castielo yang kaget dengan kedatangan lord dari Rheinsberg itu langsung memberikan salam hormatnya sambil membungkuk, namun tak di gubris sama sekali oleh dominic dia malah melewatinya begitu saja dan menarik paksa anya untuk berjalan bersama denganya.
"Sebenarnya siapa wanita itu ?" kata pria paruh baya mendekat pada castielo dia adalah ayahnya.
"Entahlah ayah. Yang jelas aku tidak suka dia mengambil gadis yang kusukai" castielo mencoba meredam amarahnya.
"Hei Jangan seperti itu, carilah gadis lain kau lupa dia adalah dominic putra elios"
"Aku tidak perduli !" castielo pergi meninggalkan aula istana dengan amarah yang membara bayangan wajah ketakutan anya terekam jelas di ingatannya.
Dominic menarik lembut tangan anya, tangan dominic memberikan kode pada pemain musik untuk mengiringinya berdansa.
"Aku tidak bisa berdansa" kata anya sedikit berbisik
"Lantas apa yang kau lakukan dengan pria itu ? Kau mau berbohong ?" nada suaranya begitu rendah
"Bukan sep- ahhh..." belum saja dia menjelaskan tubuhnya sudah dibawa menari oleh dominic, tangan kanannya digenggam erat oleh dominic, tangan satunya berada di pundak sang lord orang-orang yang berada disana seketika terdiam dan melihat lord mereka berdansa dengan begitu indah ini adalah kali pertama mereka melihat Dominic berdansa, biasa dominic akan menolak siapapun wanita yang menggodanya namun apa sekarang ? anya membuat sebagian wanita di aula istana itu membenci dirinya.
Krak
"Ma-maaf,maaf aku menginjak kakimu" kata anya tubuhnya tiba-tiba gemetar dia takut dihukum dan digantung saat ini juga.
Dominic menghentikan dansanya dan menarik anya untuk mengikutinya ke singgasana, setelah dominic menyuruh yang lain untuk menikmati pestanya kembali dan menarik anya untuk duduk di pangkuannya. Anya benar-benar malu dan hanya bisa menatap kebelakang dia tidak mau melihat ke depan, tatapan mata para wanita itu benar-benar tatapan ingin membunuh diri nya saat itu juga.
"Anggur anda your highness"dominic mengambil segelas anggur untuk dia minum, gadis itu hanya melihatnya saja dia sedikit haus dan ingin minum dia terus menatap pada dominic.
"Kau mau ?" anya mengangguk dan detik itu juga dia meratapi perbuatannya.
"Minumlah"
Anya mengambil gelas yang diberikan oleh dominic dan meninumnya rasanya enak manis dan mempunyai sensasi tersendiri, dan memang sekarang dia sedang benar-benar haus anya butuh air untuk minum namun yang anya temui hanyalah minuman dengan campuran yang anya tidak suka.
"Aku mau segelas lagi"Maid yang berada di sebelah dominic menuangkan lagi anggur merah untuk anya dan di minum habis sampai tandas.
"Ahh Kepala ku" anya merasakan pusing dan sedikit mual
"Kau tidak kuat ?"
"Apa yang anda katakan lord dominic" kata anya sambil mengelus wajah dominic.
Dominic hanya meresapi tiap jengkal perbuatan kantung darahnya itu semakin meracau, dominic bangkit dan meninggalkan singgasananya anya di pangku ala bridal style oleh dominic dia dibawa ke kamar milik sang Lord itu pintu besar itu tiba-tiba terbuka dan tertutup sendiri, dominic menaruh tubuh anya perlahan di ranjang ukuran king sizenya.
"Kau mau kemana " tangan anya menangkup wajah dominic dalam keadaan mabuk begini dia begitu berani dan dominic suka itu.
"Wajahmu memerah mulai detik ini aku tidak akan membiarkan mu minum"
dominic membuka jubahnya dan menaruhnya ke shofa lalu membenarkan tidur anya dan mencium bibir gadisitu perlahan, tangan anya mengalung indah di leher sang lord dominic benar-benar berada di atas tubuh anya dengan satu tangan menopang tubuhnya. Dominic terus mencium bibir anya ciuman itu semakin menuntut, mulut anya terbuka dan tak tinggal diam dominic mengabsen gigi anya mereka saling bertukar saliva sampai dititik anya memukul-mukul d**a dominic karena kehabisan nafas. Dominic menarik wajahnya tangannya mengelus bibir gadis itu dan tersenyum wajah anya masih bersemu tangan dominic menyingkirkan rambut-rambut itu dari leher putih anya dia mulai menciumi area itu mengendusnya.
Craak
"AAAHHH!! "dominic menghisap darah anya dengan nikmat ini adalah darah kesuakaannya dia tidak akan pernah melepaskan gadis ini apapun yang terjadi, rengkuhan tangan anya di tubuh dominic semakin melemah dan anya tak sadarkan diri setelah dominic selesai dia mengecup pucuk rambut anya mencium bibirnya sekilas dan menutup tubuh anya dengan selimut tebal miliknya.
"Uuughhhhhh......." anya mengeliatkan tubuhnya saat cahaya masuk ke sela-sela jendela dia merasa ada sesuatu yang membuat perutnya berat ketika dia melihat ke arah kiri ternyata
"DOMINIC!! "
Tunggu !!! Kamar ini ? Ranjang ini.. Semuanya bukan kamar yang ku tempati astaga apa yang kulakukan semalam !!!!!!
"Kau sudah bangun ? Keluarlah"
Anya kaget saat dominic menyuruhnya untuk keluar bisa-bisanya dia seperti itu menyebalkan. Saat anya hendak beranjak dari kasur, dominic menariknya membuat anya berada di atas d**a bidang dominic yang polos itu. Membuat wajah anya bersemu merah jantungnya berdegup kencang jika dia berada dalam sebuah manhwa mungkin sekarang hidungnya sudah berdarah.
"Tunggu.. Aku ingin sarapan ku " kata dominic dengan wajah setengah tidurnya yang baru pertama kali anya lihat dia seperti seekor anak anjing rambutnya begitu fluffy namun tindakannya seperti seekor serigala yang setiap saat bisa menerkam.
.
Anya merasa bosan didalam kamar pria menyebalkan itu benar-benar tidak mengizinkannya untuk keluar dari ruangan ini lisa berkata bahwa ada beberapa tamu yang sedang datang ke kastil ini, anya mengetahui bahwa dominic dan semua yang berada disini adalah vampire anya semakin protektif terhadap dirinya sendiri, dia juga berusaha tidak berdarah atau terluka karena yang anya tau vampire itu sangat menyukai darah. Anya membuka jendela dan melihat ke bawah ternyata disana banyak sekali orang dengan pakaian rapih.
Anya memperhatikan mereka memiliki style yang tak kalah bagus dan ternyata mobil mereka mobil mahal, senyum anya mengembang ketika melihat kesana memang benar cerita di novel dan manhwa yang menceritakan bahwa vampire itu tampan memang benar-benar tampan, namun wajahnya seketika berubah ketika tatapannya bersibobrok dengan tatapan pria menyebalkan yang tak lain adalah dominic, anya segera beranjak dari jendela dan duduk di shofa.
"Itu hanya perasaanku kan ?"
"Perasaan mu ?" Suara bariton itu membuat anya terkejut dan sejak kapan dominic ada di ruangannya.
Dominic berjalan dan berdiri tepat didepan anya tangannya menarik dagu dan mengunci tubuh anya dengan sebelah kakinya yang berada di shofa, anya semakin merasa terpojok pria itu tak melapaskan tatapannya.
"apa yang kau lihat ? Apa kau melihat pria diluar sana ?"
"Bukan urusan mu" jawab anya berusaha memberanikan diri
"Katakan sekali lagi ! Ingat dan simpan ini di otak cantik mu, mata mu adalah milik ku !" Dominic mencium bibir anya tanganya mendorong kepala gadis itu agar semakin memperdalam ciumannya, sial ini sangat manis dan dia menyukainya.