Saat ini Ageron berdiri di depan ruangan administrasi. Di dinding ruangan ini terdapat beberapa nama tokoh yang mengharumkan nama kampus ini. Matanya memicing saat melihat nama ayahnya tertera di sana. Dia berpikir bagaimana bisa ayahnya bisa menjadi salah satu dari dua puluh orang berpengaruh di kampus ini. Sehebat dan sepandai apa seorang Reno Baskara? Dari sini dia bertekad jika dia akan mengahalahkan ayahnya. Dia akan membuktikan jika dia bisa lebih baik dari seorang Reno Baskara. “Halo… permisi!” Suara yang terdengar lembut namun tegas itu membuyarkan lamunan Ageron. Dia menatap orang yang menyapanya itu, dan langsung memicingkan matanya tak suka. Wajah dinginnya langsung terlihat tak bersahabat. “Ya?” Tanya Ageron dingin. “Permisi! Anda menghalangi saya untuk menempelkan pengumuma

