Nima melempar kesal tas kerjanya begitu saja ke atas meja yang ada di ruang tamu rumah ini. Rumah ini dia beli dengan harga yang sangat murah. Rumah yang awalnya ingin dia jadikan klinik namun tidak jadi dan dia lebih memilih menjadi relawan di rumah sakit kecil yang kekurangan tenaga medis. Dia benar-benar kesal, bisa-bisanya dia bertemu dengan orang yang dia hindari selama ini. Jika melihat wajah Ageron dia akan teringat kembali malam yang sangat mengesalkan itu. Malam di mana dia menyerahkan mahkota yang paling berharga untuk perempuan dengan sukarela dan dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol! “Aaaarrrrggghhh!!!! SIAL…. SIAL…. SIAL….” Teriakan Nima menggema di rumah ini. Untuk menghilangkan rasa kesalnya Nima pun memutuskan untuk mandi. Mungkin berdiri di bawah sh

