Ageron masih tertegun, dia merenungkan setiap kata yang baru saja di ucapkan oleh kakaknya. Semuanya benar, bahkan tidak ada yang salah sama sekali. Saat sedang mencerna semua perkataan kakaknya, ponselnya berdering kembali dan membuat Ageron terkejut. Di lihatnya siapa yang menelepon, ternyata dokter Nima. “Ya.” Jawab Ageron. “Aku sudah memutuskan. Sepertinya kita tidak perlu berlibur. Jika kamu ingin mengajak Sahid jalan-jalan di Lombok silahkan saja. Aku tidak ikut.” Ucap dokter Nima. “Kenapa kamu tidak mau ikut? Akan ada banyak rumor yang beredar jika aku dan Sahid saja yang pergi.” “Aku sedang tidak ingin jalan-jalan. Lagi pula aku baru ingat jika aku memiliki janji dengan salah satu pasienku.” Dokter Nima pun mulai mencari-cari alasan. “Kamu marah? Atau masih kesal? kecewa? Atau

