Ageron membereskan meja makan lalu menyusul dokter Nima. Dia meletakkan piring kotornya di wastafel. Lalu memeluk dokter Nima dari belakang. “Aku titip piring kotornya ya.” Bisik Ageron di telinga dokter Nima. Dan hal itu sukses membuat dokter Nima merinding. Tengilanga langsung memerah dan dia berusaha menghindar dari Ageron. “Iya, sudah sana. Jangan memelukku seperti ini. Aku sulit bergerak.” Elak dokter Nima. “Aku tidak mau! Aku suka dengan posisi seperti ini.” “Ayolah, Ag. Hentikan bercandamu.” “Aku tidak sedang bercanda. Aku sedang membuju seseorang yang tengah merajuk.” “Dan aku tidak merajuk, asal kamu tahu!” “Bibiir dan gestur tubuhmu tidak sinkron. Bibirmu berkata tidak tapi gestur tubuhmu memberitahu semuanya.” Dokter Nima membilah piring terakhir yang ada di watafel dan

