Dokter Nima mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia masih berusaha menyadarkan dirinya dari pesona Ageron dan memahami kejadian yang baru saja terjadi. Dia menatap Ageron masih dengan tatapan penuh damba dan juga memuja. Tanpa sadar tangannya terangkat dan menyentuh wajah tampan Ageron. “Kenapa? Kamu menginginkan lebih?” Tanya Ageron sambil mengangkat satu alisnya. “Hah? ah… tidak!" Jawab dokter Nima sambil menarik tangannya dan langsung berdiri menjauh. ‘Sial! Bisa-bisanya gue terpedaya sama pesona nih orang. Dan apa itu tadi? Otak gue sama tubuh gue nggak sejalan! Apa malem itu gue juga begini? Ya Tuhaaaaan!!! malunyaaa.’ Umpat dokter Nima dalam hati. “So, kamu masih amu mengelak dan menolak pernikahan ini? Apakah aku harus melakukan hal semacam ini lagi bahkan lebih untuk membuatmu

