BAGAIMANAPUN keadaannya, rasa kecewanya, marahnya, emosinya, dan seluruh rasa sakitnya—tetap tak akan mempengaruhi rasa sayangnya pada Isabela. Arkana mungkin kesal ketika Isabela mengatakan bahwa dirinya egois; membuat adiknya hidup dalam sangkar dan membiarkannya selalu bersama dengan Arkana. Tapi, segala hal yang dilakukan Arkana adalah bukti bahwa dia sangat peduli dan sayang kepada Isabela. Karena bagi Arkana sendiri, tidak akan pernah ada manusia lain yang peduli kepada Isabela selain dirinya.
Arkana tahu bahwa perlakuannya membuat Isabela lelah, kesal, marah, dan terkadang merasa tidak normal. Tetapi pernahkan Isabela bertanya kepada Arkana; apakah Arkana baik-baik saja? Kadangkala, kita seringkali menghakimi tindakan seseorang karena merasa tidak bisa hidup dengan bebas. Namun dibalik itu semua, apakah pernah bertukar posisi dengannya? Selalu merasakan kekhawatiran dan tuntutan untuk terus melindungi? Arkana hanya mempunyai Isabela, satu-satunya orang yang masih mempunyai ikatan darah dengannya.
Mungkin bagi Isabela, ucapan dan tindakan Arkana selama ini sangat berlebihan. Namun bagaimana jika Isabela dihadapkan pada situasi di mana dirinya adalah seorang Kakak yang harus melindungi, memberikan segala kebutuhan adiknya, bahkan mempertaruhkan segalanya untuk sang adik? Apakah Isabela pernah berpikir bahwa mungkin Arkana melakukan hal buruk hanya untuk tetap membuatnya hidup sampai sekarang?
Walaupun begitu, Arkana paham bahwa mencintai seseorang sudah barang tentu terjadi. Apalagi Isabela sudah memasuki waktunya. Waktu di mana dia menyukai seseorang dan disukai orang lain. Tetapi, mengapa harus Gala? Bahkan Arkana pun tidak tahu harus berbuat seperti apa. Dia berteman dengan Gala sebelum dia tahu bahwa laki-laki itu adalah anak dari orang yang telah membuat kedua orang tuanya meninggal. Dia ingin sekali mengatakan kepada Isabela bahwa Gala tetap saja anak dari Prada. Kenyataan itu tidak bisa dihapus meskipun dirinya lah yang telah membunuh Prada juga.
Hubungan diantara mereka adalah hubungan yang menyakiti satu sama lain. Isabela pun tidak tahu bahwa Arkana berusaha melindunginya dari rasa kecewa. Isabela juga tidak tahu bahwa Gala memanfaatkannya untuk melukai Arkana. Tapi, ... apakah itu semua salah Isabela? Belum tentu! Tidak ada yang bisa menghalangi perasaan suka terhadap orang lain. Tidak ada yang bisa!
Gala mengirimkannya sebuah pesan dan semua itu membuat Arkana tak fokus dengan jalanan. Dia berusaha untuk segera sampai di rumah sakit yang disebutkan Gala untuk sesegera mungkin menemui Isabela. Dia tidak tahu mengapa Isabela sampai masuk rumah sakit. Ketika dirinya pergi dari rumah, semuanya baik-baik saja. Dia tidak melihat Isabela di luar. Arkana mengira Isabela sudah tidur sehingga dirinya memutuskan untuk pergi ke club' dan akhirnya bertemu dengan perempuan disampingnya itu, masih tertidur dan sesekali menggeliat pelan. Mungkin karena badannya pegal!
Setelah beberapa menit di jalanan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah sakit. Arkana tidak tahu harus bagaimana sekarang; meninggalkan perempuan itu begitu saja di dalam mobil atau membawanya! Namun akhirnya opsi kedua yang dirinya pilih. Arkana menepuk kedua pipi perempuan itu dengan pelan.
"Hai, ... bangun!" Tandas Arkana dengan mengguncangkan tubuh si perempuan yang hanya bisa terkulai lemas di dalam mobil. Namun tidak lama kemudian, kedua matanya pun terbuka dengan perlahan.
Perempuan itu memberikan senyum tipis ke arah Arkana, "apa kita sampai di apartemen? Ayo keluar sekarang! Aku akan membuatkan minuman enak di sana."
Arkana menghela napas panjang! Bagaimana bisa dirinya terjebak dengan perempuan yang baru saja dikenalnya. Ralat, ditemuinya. Tetapi dalam keadaan genting seperti ini, dia tidak punya pilihan lain. Setidaknya Arkana masih mempunyai sedikit hati nurani untuk membantu orang lain. Laki-laki itu melepaskan jaketnya—memberikan kepada perempuan itu agar tubuhnya tidak terekspos di ruang publik seperti ini.
"Pakai jaket itu! Dan ayo keluar!" Ucap Arkana yang memilih untuk keluar lebih dulu.
Perempuan itu keluar dari mobil, mengabaikan perintah Arkana untuk mengenakan jaket milik laki-laki itu. Sampai dirinya sadar bahwa sedang berada di rumah sakit, bukan depan apartement- nya. Sontak perempuan itu hendak protes, namun tangannya sudah ditarik Arkana. Mereka pun terlibat aksi lari-larian di koridor rumah sakit bersama. Membuat beberapa mata menatap ke arah perempuan itu karena menggunakan pakaian minim dan seksi.
"Aish, ... sialan! Kamu membuatku malu di depan semua orang!" Kesal perempuan itu sambil menggunakan jaket Arkana dan menutupnya rapat. Sedangkan Arkana sendiri berjalan dengan lambat, melepas genggaman tangannya dari perempuan itu.
Terlihat Gala tengah duduk di depan sebuah ruangan sendirian. Arkana langsung mendekat ke arah Gala—meminta penjelasan dari semua ini. Bagaimana adiknya bisa berada di dalam?
"Apa yang terjadi?" Tanya Arkana dengan tatapan tajamnya.
Gala beranjak dari duduknya dan menggeleng pelan, "aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku melihat Isabela pingsan tidak sadarkan diri di depan rumah kalian dengan luka-luka. Aku datang ke rumah kalian karena aku merasa sangat khawatir dan malah menemukannya seperti ini. Maaf, ... seharusnya aku datang lebih awal. Aku benar-benar minta maaf! Kata dokter, luka yang dia dapat karena dipukuli. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya."
Arkana mendudukkan dirinya di kursi tunggu, berusaha mencerna apa yang dikatakan Gala. Isabela dipukuli oleh orang yang tidak dikenal, bahkan sampai membuatnya masuk rumah sakit. Apakah itu artinya, dunianya sedang tidak aman? Mengapa Isabela? Mengapa bukan yang lainnya? Apa yang terjadi sebenarnya?
Tatapan Gala beralih kepada seorang perempuan yang dibawa Arkana tadi. Terlihat bahwa keduanya kaget saat bertemu tatap. Namun, perempuan itu hanya tersenyum miring sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, menyandarkan punggungnya pada tembok.
"Aku akan masuk ke dalam!" Tandas Arkana yang menatap keduanya—Gala dan perempuan itu.
Setelah Arkana masuk ke dalam, perempuan itu mendekati Gala yang duduk termenung sendirian. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya duduk bersebelahan dengan suara deru napas yang masih bisa mereka dengarkan.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Dengan pakaian seperti ini lagi? Apa kamu suka sekali berpakaian terbuka ketika berada di luar seperti ini? Apa tidak takut dengan tatapan laki-laki ketika melihatmu?" Tandas Gala tanpa melihat perempuan itu.
Perempuan itu tersenyum, "memang ada larangan berpakaian seksi atau terbuka di muka umum? Apakah itu salahku ketika banyak laki-laki yang melihat ke arahku? Bukankah yang harusnya menutup mata itu mereka? Kenapa terus memojokkan caraku berpakaian dengan tatapan kotor laki-laki yang seharusnya bisa mengendalikan diri juga."
Gala tidak menjawab. Laki-laki itu hanya memilih untuk diam. Sudah seharusnya dia tidak terpancing dan bicara dengan orang yang tidak dia kenal. Tapi, bagaimana Arkana bisa mengenal perempuan itu?
"Kamu mengenal Arkana?" Tanya Gala penasaran.
Perempuan itu melirik ke arah Gala dan memberikan anggukan kecilnya.
"Dari mana kamu mengenalnya?" Tanya Gala dengan penasaran.
Perempuan itu mengangkat kedua bahunya, "hm, ... kenapa aku harus mengatakannya kepadamu? Semua itu bukanlah urusanmu."
"Kita bertemu tiga kali di tempat yang berbeda secara kebetulan. Ah, ... tapi apakah benar-benar kebetulan? Aku sendiri tidak percaya dengan kata kebetulan itu sendiri." Sambungnya lagi.
Perempuan itu hanya bisa memberi senyumannya kembali, "jika kamu tidak percaya dengan kata kebetulan, maka sebaliknya. Aku sangat percaya dengan yang namanya kebetulan. Dan terkadang, kebetulan itu seperti cara yang unik untuk memberikan makna dari suatu pertemuan. Kira-kira, apa yang membuatnya bermakna?"
Belum sempat Gala menjawab ucapan perempuan itu, Arkana sudah keluar dari ruangan rawat Isabela. Arkana langsung menarik lengan perempuan itu dan menjauhkannya dari Gala—mereka berada di ujung lorong dan berdiri berhadapan di sana.
"Lebih baik kamu pulang sekarang." Ucap Arkana yang memintanya untuk meninggalkan rumah sakit.
Perempuan itu menyodorkan tangan kanannya, "kalau begitu, mari saling berkenalan. Kita belum berkenalan sebelumnya. Itu tidak sulit, 'kan? Setidaknya beri tahu namamu, meskipun aku sudah tahu siapa namamu."
Arkana menghela napas panjang dengan tatapan lelahnya, "pergilah! Kamu sudah lebih baik, bukan? Aku sedang ingin mengurus adikku yang sakit. Kita bisa bicarakan hal tidak penting ini lain kali."
"Apa yang tidak penting?" Cerocos perempuan itu dengan nada kesal sambil berkacak pinggang. "Kamu sudah membawaku kesini dan dengan seenaknya memintaku untuk pergi. Memangnya rumah sakit ini milikmu?" Sambungnya lagi.
Arkana mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meminta perempuan itu pergi sekarang. Dia tidak mau melibatkan perempuan itu. Mereka bahkan tidak saling kenal. Arkana hanya tidak mau Isabela melihatnya bersama dengan perempuan. Itu saja!
"Pergilah! Aku mohon!" Kali ini terlihat wajah putus asa dari Arkana.
"Tidak! Aku akan di sini bersama denganmu. Memangnya kenapa sih? Bukankah yang di dalam itu adikmu? Mengapa kamu khawatir sekali? Aku masih sangat lemas, tidak bisa pulang sendiri." Tandas perempuan itu sambil memasang wajah melasnya.
Arkana ingin sekali menertawakan ucapan perempuan itu tentang kata lemas yang diselipkan perempuan itu pada kata-katanya.
"Apakah keadaanmu yang sekarang bisa dikatakan sebagai lemas? Kamu bahkan terlihat baik-baik saja setelah bangun. Apakah itu tadi mabuk? Atau jangan-jangan kamu memang sengaja menjebakku? Kamu perempuan yang seperti itu? Yang pura-pura dilec—" ucapan Arkana terpotong begitu saja ketika perempuan itu menamparnya dengan cukup keras, membuat Gala dan beberapa orang yang melihat ke arah mereka kaget.
"Ah, ... maafkan aku! Aku reflek—" ucap perempuan itu sambil menutup mulutnya sendiri. Dia tidak percaya dengan kinerja tangannya karena memukul Arkana dengan keras.
Arkana memegang pipinya yang baru saja mendapatkan tamparan gratis dari seorang perempuan yang baru dikenalnya. Ah, bahan belum dia kenal sama sekali.
"Maaf," ucap perempuan itu dengan tatapan bersalah. "Apakah sangat sakit? Maaf, semua terjadi dengan begitu saja. Tanganku langsung bergerak tanpa diminta. Lagipula, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Memangnya aku terlihat miskin sehingga melakukan hal sekotor itu?" Sambung perempuan itu tidak terima.
"Tapi, kamu mengajakku bermalam. Apa artinya?" Tandas Arkana dengan nada kesal.
Perempuan itu tersenyum, "memang apa salahnya mengajakmu bermalam. Lagipula aku tertarik kepadamu dan kamu sendirian. Jadi, tidak masalah, bukan?"
Arkana ingin sekali tertawa dengan jawaban perempuan itu.
"Dasar perempuan gila!"
"Apa kamu bilang?" Teriak perempuan itu lagi. "Aku hanya berusaha memberikan penawaran. Apakah itu salah?" Sambungnya lagi dengan kembali berteriak.
Semua orang menatapnya, tapi dia tidak peduli. Memang perempuan gila.
~~~~~~~~~~