Nomor Asing

1002 Kata
Sudah pukul enam sore tapi tak kulihat kehadiran lelaki itu, Bryan. Seharusnya aku sudah pulang sekitar setengah jam lalu bersamaan dengan Pak Remy. Karena sudah jam pulang aku mulai bersantai di Rooftop sambil menikmati udara kala itu. Semakin malam keadaan Cafe semakin stabil karena besok sudah mulai memasuki hari kerja. Aku yang sedang duduk di sana tiba- tiba terlintas mengingat wajah Gerald yang sedang tersenyum. Beberapa kenangan antara aku dan dia pun terus muncul. Hingga aku ingin mengetahui kabar tentangnya. “Dis.” Panggil Arya dengan membawa dua cangkir minuman. “Oh Arya, sini duduk.” Seruku sambil menepuk kursi yang ada di sebelahku. Ia pun duduk sambil meletakkan cangkir tersebut. “Teh hangat manis, Dis.” Tawarnya dan aku mengangguk. “Kenapa belum pulang? Lagi bosan di Vila atau lagi tunggu ojek online?” tanyanya membuka obrolan di antara kami. “Belum lagi tunggu teman katanya mau jemput tapi lagi sibuk sebentar.” Jawabku sambil mengambil cangkir di meja dan meletakkan di tanganku karena dingin. “Dis, sekali lagi aku minta maaf ya.” Seru Arya yang membuat aku menoleh ke arahnya. “Iya, sudah aku maaf in kok.” Seruku sambil tersenyum. “Aku juga minta maaf karena nggak bisa bersikap profesional dengan mengajukan pengunduran diri.” Tambahnya yang kini menunduk karena merasa malu. “Iya, Arya. Enggak apa- apa asal ke depannya jangan di ulang lagi ya, tapi kamu masih tetap kerja di sini kan?” tanyaku sambil menyeruput minuman yang ada di cangkir. “Kalau masih diizinkan, aku masih mau bekerja di sini.” Jawabnya sambil mengangkat wajahnya. “Masih kok, Arya.” Seruku. Ponselku berbunyi, aku melirik ke layar ponselku kalau Bryan yang menghubungi. Aku pun meraih ponselku dan menjawab panggilan tersebut. “Halo, Bryan.” “Halo, Dis. Aku sudah sampai di parkiran ya.” Ucapnya. “Oke sebentar, aku turun ke bawah sekarang.” Jawabku cepat yang tak ingin ia menunggu. “Arya, aku pamit ya.” Pamitku kepadanya. “Iya hati- hati ya, Dis.” Ucapnya saat aku meraih tasku yang ada di sisi kursi yang lain. “Oke terima kasih ya Arya, sudah kamu jangan pikirkan hal yang akan berlalu fokus bekerja karena sebentar lagi akan diadakan struktur organisasi antara kamu dan karyawan lainnya.” Ucapku sambil menepuk bahunya dan aku meninggalkannya untuk segera menghampiri Bryan. “Maaf ya lama, soalnya ada yang harus kuurus.” Katanya yang merasa tidak enak. Aku tersenyum ke arahnya. “Enggak apa- apa kok. Malah kalau kamu sibuk banget aku enggak mau ganggu kok.” Seruku. “Enggak sibuk banget sih Cuma ada beberapa hal yang benar- benar harus aku tangani. Tapi sudah selesai kok jadi aku bisa antar kamu. Bryan pun akhirnya mengantar aku pulang ke Vila namun sebelum pulang kami sempat mampir untuk membelikan makan malam untuknya di makanan pinggir jalan yang memang terkenal enak dan bikin nagih itu. Sesampainya di Vila aku mengajaknya untuk menikmati makanan yang kami beli barusan di tambah beberapa masakan yang di masak oleh Bibi. Kami pun melahapnya dengan nikmat sekali entah itu karena lapar atau mungkin rasanya enak. Setelah selesai makan Bryan memutuskan untuk istirahat sejenak lalu kembali ke Vila miliknya karena hari semakin larut. Setelah Bryan pulang seperti biasa aku membersihkan diri dan memeriksa beberapa data yang harus di cocokkan. Tak lama aku juga mendapat telepon dari Tania kalau ia meminta restu untukku agar besok saat berbicara dengan kedua orang tuaku diberi kelancaran. Ia pun juga bercerita kalau saat ini ia sedang gugup untuk menghadapi hari esok. Tapi katanya Kak Dimas tak henti- hentinya menyemangati. Ia juga masih meminta aku untuk segera pulang ke Jakarta. Tapi aku lagi- lagi kembali menjelaskan keadaanku dan hanya bisa menyemangatinya dari balik telepon. Setelah selesai berbicara dengan Tania, aku memutuskan untuk segera tidur. Namun ada nomor asing yang memang selalu menghubungiku sejak siang tapi tak terangkat olehku. Mungkin karena siang tadi aku sibuk bekerja dan meninggalkan ponselku di ruang kerja Cafe karena tadi daya baterai ponselku habis. Saat makan siang pun aku hanya mengirimi nomor tersebut sebuah pesan singkat yang bertuliskan “Maaf, Nomor siapa ini?” tapi tak ada balasan melainkan ia kembali menghubungiku. Aku pun berusaha menjawab panggilan tersebut tapi saat aku berkata “Halo.” Untuk beberapa detik ia mematikan panggilan tersebut. Hal itu terjadi beberapa kali sampai aku merasa kesal dan aku memblokir nomor tersebut. Jika memang dia tidak ingin bermain- main ia bisa saja kan langsung mengatakan tujuannya. Bukan hanya mendengarkan suaraku dan memutuskan telepon tersebut. Setelah merasa kesal, aku kembali tidur namun ponselku kali ini aku letakkan di nakas yang berada di dekat tempat tidur dalam keadaan mati. Hari- hari pun berjalan masih sama seperti biasanya. Aku selalu di antar jemput oleh Bryan, dan sebagai gantinya ia selalu minta di temani pergi setiap aku libur atau ketika aku masuk pagi dan pulang sore. Entah hanya untuk sekedar berjalan- jalan mengelilingi Bali dengan mobilnya sampai ia Bosan. Atau jalan- jalan di mal dan menonton film di bioskop. Perlahan- lahan aku juga sudah bisa meninggalkan Cafe dan memantaunya dari Vila atau saat aku menemani Bryan bertemu dengan Kliennya. Aku merasa senang dengan kinerja Galuh yang memuaskan dan bisa aku andalkan. Dengan begini aku juga berpikir bisa meninggalkan Cafe jika sewaktu- waktu aku ingin pulang ke Jakarta. Tapi lagi- lagi nomor asing yang selalu bergantian aku blokir tersebut sering menghubungiku dengan cara yang sama. Hingga entah ada berapa nomor yang sudah aku blokir. Sampai ketika kesal aku meminta tolong ke nomor tersebut untuk tidak mengganggu hari- hariku atau kalau tidak aku akan melacaknya keberadaannya dan melaporkannya ke kantor polisi. Tapi syukurlah setelah aku benar- benar mengancamnya, tak pernah lagi kudapati nomor asing yang kembali menghubungiku. Aku pun bisa bernafas lega karena tidak akan ada yang kembali menggangguku. Jujur saja aku juga merasa was- was jika orang yang sering menghubungiku akan datang ke Vila untuk melakukan hal yang buruk. Tapi untunglah selama ini aku merasa aman dan baik- baik saja. Oh ya aku juga mendapat kabar baik kalau Kak Dimas dan Tania berhasil mendapat restu Papa dan Mama. Dan akan melangsungkan hari pertunangan dalam waktu seminggu lagi. Aku turut senang mendapat kabat bahagia tersebut. Aku juga bisa merasakan hal tersebut karena dulu aku dan Gerald pernah ada di masa- masa seperti itu. Entah sampai kapan ingatanku selalu terpaut dengan kenangan tentang lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN