Makan Malam Bersama Bryan

1014 Kata
Tanpa sadar tiga bulan pun berlalu, malam ini aku dan Bryan berjanjian untuk makan malam bersama di salah satu restoran mewah di Bali. Namun ada hal yang berbeda dengan makan malam hari ini. Ia ingin aku mengenakan pakaian yang telah ia siapkan. Sebuah Dress pendek berwarna merah dan ia meminta agar rambutku kali ini di biarkan tergerai. Seperti biasa saat menuju tempat tujuan Bryan menjemputku namun kali ini ia menutup mataku dengan sebuah kain penutup. Hingga aku tak tahu akan dibawa ke mana olehnya. Setelah sampai di tempat tujuan aku di tuntun melewati beberapa anak tangga dan aku merasakan suasana angin pantai yang mulai menyambutku. Sesampainya di meja, aku disuruh duduk olehnya dan di situlah penutup mataku di buka. Aku merasa sangat terkejut saat aku melihat, kalau aku duduk di sebuah meja bundar di balut dengan taplak meja berwarna putih. Terdapat lilin lampu di tengah meja dengan beberapa set peralatan makan. Dan di sekeliling tempat itu sudah ada kelopak bunga mawar merah yang bertaburan dilantai. Di tempat ini tak ada siapa pun, seperti sengaja di pesan hanya untuk kami berdua. Aku merasa sangat terkesan dengan tempat ini. Hingga satu pertanyaan melintas di pikiranku kenapa ia membawaku ke tempat romantis ini? Adakah maksud lain yang ingin ia sampaikan? “Dis, kenapa bengong? Apa kamu nggak suka sama tempat ini?” tanya yang membuatku tersadar dari lamunan lalu menoleh ke arahnya. “Aku suka tempat ini tapi..” “Apa karena bunga yang ada di lantai bukan bunga mawar merah?” potongnya. “Bukan itu, Bryan Cuma kenapa kamu ajak aku makan malam di tempat seromantis ini?” tanyaku yang membuatnya tersenyum. “Karena kamu itu wanita spesial, Dis. Tapi biar kita makan langsung aja ya. Aku sudah lapar.” Ucapnya sambil menepuk tangannya dan tak lama beberapa pelayan datang membawa sebuah hidangan pembuka. Lalu secara bergantian setelah kami selesai berganti dengan urutan soup, hidangan utama hingga makanan penutup. Walau terkesan sedikit demi sedikit tapi sangat mengenyangkan di perut. Apalagi tadi saat kamu sudah mulai makan, seorang pemain biola datang memainkan biola dengan merdu membuat kami semakin terhanyut oleh permainannya. “Bagaimana, Dis apa kamu mau tambah?” tanya Bryan saat aku sedang menikmati makanan penutup. “Nggak terima kasih, Bryan cukup.” Jawabku sambil tersenyum. Ia pun mulai menggenggam tanganku erat hingga membuat jantungku berdetak lebih kencang. “Dis, aku mau bicara sesuatu sama kamu.” Serunya. Aku pun meletakkan sendok dan menenggak minumanku. “Silahkan saja, Bryan. Ada apa?” tanyaku balik. Tak lama ia merogoh kantung sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah hati lalu membukanya di hadapanku. “Mau kah kamu menikah denganku?” jantungku kembali berdetak kencang lebih dari tadi. Wajahku mulai memerah tapi aku sendiri bingung dengan jawaban apa yang akan aku beri. Jujur saja sebagai wanita aku sangat terkesan dengan setiap perlakuannya. Tak munafik jika aku kembali menyukai Bryan seperti beberapa tahun lalu. Tapi aku masih belum bisa melupakan sosok Gerald, seperti di dalam hatiku masih berharap ia akan kembali. “Dis..” panggil Bryan saat aku terlihat mulai bimbang. “Ah ia Bryan, aku boleh jawab jujur sama kamu?” seruku yang tak ingin menyakitinya dengan hal yang membuatku bingung. “Silahkan, Dis..” jawab Bryan. “Jujur aku mulai menyukai kamu dengan berbagai macam perhatian yang kamu berikan. Namun aku sendiri masih belum bisa melupakan sosok Gerald.” Jelasku yang kukira akan merasa kecewa dan marah malah tersenyum ke arahku. “Aku mengerti kok, Dis. Tapi aku beneran tulus sama kamu. Kalau pun aku haru kembali menunggu kamu sampai mencintai aku, aku siap, Dis.” Ucapnya yang membuat aku terkejut dengan pengakuannya yang tetap gigih ingin menungguku. “Tapi kalau suatu saat aku nggak bisa sama kamu bagaimana, Bryan? Aku nggak mau kamu nunggu aku yang nggak pasti seperti ini. Kamu berharap bahagia dengan yang lain.” seruku yang tak ingin membuatnya terluka walau dulu ia pernah melukaiku. “Kamu percaya kenapa aku bisa sampai di sini setelah sekian lamanya? Dengan segala kesalah pahaman yang pernah aku tinggalkan sama kamu? Itu semua karena takdir, Dis. Dan aku percaya kalau memang kamu adalah jodohku kamu pasti akan kembali kepadaku.” Ucapnya yang seakan sangat tenang dan kata- katanya yang menyejukkan hati. “Anggap saja aku kasih kamu waktu untuk berpikir dengan kepala dingin untuk memilih antara aku dan dia. Keputusan apa pun nanti yang akan kamu berikan tak mengubah apa pun aku akan jadi teman kamu kalau kita tidak bisa bersatu.” Imbuh lagi yang semakin membuat aku tenang. “Baiklah, aku coba untuk kembali berpikir jernih ya, Bryan. Asal apa pun yang nantinya terjadi di antara kita kamu dan aku tetap menjadi temanku.” Ucapku yang di sambut sebuah senyuman manis olehnya. Makan malam pun berakhir dengan tanpa paksaan di antara kami berdua. Untuk saat ini kami tetap menjadi teman tapi Bryan ingin aku menyimpan cincin yang ia berikan tadi sampai aku memberikan jawaban untuknya. Walau begini aku tidak bisa bersantai untuk membiarkan ia untuk terus menungguku seperti ini. # # # Seminggu kemudian setelah selesai makan itu aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok. Bukan ingin kabur melainkan aku ingin meyakinkan hatiku untuk sebuah pilihan yang tak akan aku sesali nantinya. Sebuah keputusan yang melegakan hati untukku dan juga Bryan, walau ia tak mendesakku dengan sebuah pertanyaan. Dan untungnya Galuh bisa melewati masa percobaan di Cafe hingga ia resmi menjadi salah satu anggota baru kami di Cafe yaitu menjadi seorang supervisor. Sementara itu aku mengangkat Arya untuk menjadi manager Cafe. Aku senang dengan begini aku tak lagi harus khawatir meninggalkan Cafe. Dan fakta baru yang aku tahu kalau selama ini keberadaan Bryan di Bali semata- mata untuk salah satu tugas dinasnya. Sehingga aku tak bisa mengajaknya untuk kembali ke Jakarta. Di samping itu kepulanganku kali ini juga untuk menghadiri acara pertunangan Kak Dimas dan Tania. Namun aku sengaja tak memberitahukan siapa pun termasuk kedua orang tuaku jika aku akan pulang ke Jakarta. Karena aku ingin membuat sebuah kejutan untuk mereka semua. Terkadang aku berpikir takdir itu lucu saat mempersatukan dua insan manusia dengan caranya yang unik. Tapi kenapa saat ini aku merasa keunikanku bertemu dengan Bryan lagi membuatku diposisi yang sulit. Dan Bali tempat yang seharusnya membuatku lupa dengan sosok Gerald nyatanya sampai detik ini pun aku tak mampu melupakannya. entah apakah masih belum ada yang selesai antara aku dengannya. atau melupakan lebih sulit daripada mencintai kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN