“Dis, Maaf ya aku nggak bisa antar kamu ke Jakarta karena aku masih harus bekerja di sini.” Seru Bryan mengantarku ke bandara, ia terlihat merasa sangat bersalah karena masih harus mengerjakan pekerjaannya di sini.
“Ia nggak apa- apa, aku yang terima kasih sama kamu walau sesibuk ini kamu masih mau antar aku ke bandara.” Seruku yang tak ingin semakin merasa bersalah.
“Salam buat Tania ya, semoga acara tunangannya berjalan dengan lancar.” Tambah Bryan yang menitip pesan untuk Tania. Aku memang menjadikan pertunangan Tania dan Kak Dimas di depan Bryan untuk alasan kepulanganku. Memang alasan tersebut juga masuk daftar alasanku pulang ke Jakarta tapi ada hal yang ingin aku lakukan nantinya di sana.
Pengumuman pesawat dari Bali menuju Jakarta akan segera lepas landas dalam waktu tiga puluh menit sudah di umumkan lewat pengeras suara.
“Iya nanti aku sampaikan ke Tania, kalau begitu sekarang aku ke pesawat ya.” Pamitku padanya sambil membawa koperku.
Aku melambaikan tangan padanya yang juga melambaikan tangannya ke padaku sebagai salam perpisahan tersebut. Sesekali aku menoleh ke arahnya yang masih di sana dan belum beranjak pergi.
# # #
Setelah kurang lebih dua jam akhirnya aku sampai di bandara Soekarno hatta. Aku langsung mencari taksi untuk menuju ke rumah yang aku tempuh kurang lebih tiga puluh menit. Selama perjalanan aku selalu melihat keluar jendela hanya untuk sekedar melihat- lihat. Aku juga mengabari Bryan kalau aku sudah sampai di Jakarta.
Sesampainya di depan pintu utama rumahku, aku segera masuk dengan menarik koperku. Aku berusaha mencari sosok Mamaku yang ternyata benar ia sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Mama..” panggilku sambil memeluknya dari belakang tubuhnya.
“Anak Mama..” serunya sambil melepaskan pelukku dan berbalik lalu menatap diriku dari ujung kaki hingga rambut. Dengan kedua tangan beliau memegangi wajahku serta mengecup keningku dan memeluk diriku erat. Seakan beliau sedang menumpahkan rasa rindunya kepadaku. Aku bisa bilang begitu, karena aku juga merasakan hal yang sama seperti layaknya ikatan batin antara ibu dan anak.
“Mama kangen sayang.” Lirih beliau yang membuat hatiku semakin bergetar.
“Aku juga kangen sama Mama tapi sekarang kita sudah bisa saling bertemu dan berpelukan.” Ucapku dengan air mata yang perlahan menetes. Kami saling melepaskan pelukan kami masing- masing lalu tertawa. Apakah mungkin hal ini terlalu berlebihan karena sepertinya baru setengah tahun lebih dua bulan aku meninggalkan rumah.
“Kamu istirahat dulu aja ya.” Seru Mama.
“Iya, Ma. Tapi Kak Dimas kemana? Apa masih kerja?” tanyaku penasaran.
“Masih, tapi satu jam lagi pasti pulang sama Papamu.” Mama menjelaskan.
“Ya sudah kamu, istirahat sebentar atau mau mandi juga boleh pokoknya nanti pas makan malam kamu turun ya. Biar kita kasih kejutan untuk Papa dan Kakakmu.” Seru Mama sambil tersenyum. Aku hanya bisa menjawabnya dengan sebuah anggukan. Aku kemudian menarik koperku.
“Dis, Biar kopernya nanti di bawakan sama Bibi ke atas kamu naik duluan saja.” Ucap Mama lagi untuk menahanku.
“Enggak usah, Ma. Aku bisa sendiri kok, biar nanti Bibi lanjut bantu- Bantu Mama masak lagi.” Aku menolak pemintaan Mama karena aku merasa baik- baik saja.
“Ya sudah kalau begitu, Dis.” Tambah Mama dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara aku kembali beranjak menuju kamarku yang berada di lantai dua rumah ini. Secara perlahan- lahan aku berjalan sambil mengangkat koperku naik melewati setiap anak tangga dengan hati- hati karena tak ingin nantinya aku malah terpeleset dan jauh ke bawah.
Sesampainya di kamar, aku mencoba menghirup aroma lavender kesukaanku. Kamarku masih tertata rapi sama seperti saat aku meninggalkan kamar ini dahulu. Aku meletakkan tas ranselku di kursi, dan menyenderkan koperku di salah satu sudut tembok. Aku duduk di salah satu bagian tempat tidurku dan menepuk- nepuk bantalku sebelum akhirnya aku merebahkan badanku. Heem rasanya sangat nyaman sekali berada di rumah apalagi di kamar ini. Rasanya sangat hangat karena di sini ada keluargaku. Hingga tanpa sadar rasa kantuk itu datang menghampiriku dan membuatku ingin tertidur sebentar sebelum waktu makan malam tiba.
Empat puluh lima menit pun berlalu, aku terbangun, menguap serta meregangkan otot- otot tubuhku lalu bersiap menuju kamar mandi untuk mandi. Cacing di perutku juga mulai protes untuk minta di beri makan.
Setelah selesai mandi dan merapikan diri, aku segera turun ke meja makan. Di sana sudah ada Mama, Papa dan Kak Dimas yang sudah berkumpul untuk makan malam.
“Selamat Malam.” Sapaku yang membuat Papa dan Kak Dimas terkejut melihatku yang baru tiba di meja makan lalu duduk di samping Kak Dimas. Sedangkan Mama hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Papa dan Kak Dimas.
“Kapan kamu pulang, Dis?” tanya Papa yang masih terkejut.
“Tadi sore aku sudah sampai rumah, Pa.” Jawabku sambil tersenyum.
“Pulang sama siapa? Kok nggak bilang- bilang.” Tanya Kak Dimas yang tak kalah heboh.
“Aku pulang sendiri, Kak. Lagian aku kan mau buat kejutan di acara pertunangan kamu besok.” Jawabku dengan nada menggoda.
“Sudah kita lanjutkan lagi nanti, ya. Sekarang waktunya kita makan.” Seru Mama yang mewakili cacing di perutku yang semakin meronta- ronta. Kami pun mulai menikmati makan malam dengan berbagai macam masakan Mama yang selalu aku rindukan selama beberapa bulan belakang ini.
“Dis, kalau sudah selesai makan, Papa tunggu kamu di ruang kerja Papa ya.” Seru Papa lalu pergi meninggalkan kami yang masih berada di meja makan.
“Kak, ada apa sih? Apa asa masalah sama kantor?” tanyaku kepada Kak Dimas yang sama bingungnya denganku. Karena pasalnya jika salah satu antara aku dan Kak Dimas yang di panggil ke ruang kerja Papa pasti akan ada pembahasan penting.
“Nggak tahu, sejauh ini Aman- aman aja kok.” Jawab Kak Dimas.
“Ma, ada apa sih?” tanyaku kepada Mama yang mulai bersiap membereskan meja makan.
“Nanti juga kamu tahu kok kalau kamu sudah ngobrol sama Papa.” Jawab Mama sambil tersenyum yang membuat aku semakin penasaran.
“Apa sih, Ma?” tanyaku lagi.
“Tanya Papa dong, Dis. Udah ah Mama mau buat teh dulu buat kamu sama Papa nanti. Buruan kamu habiskan makanmu ya jangan buat Papa nunggu.” Suruh Mama yang tetap kekeh tidak ingin membuka suara untuk apa yang beliau tahu. Aku pun segera melahap habis makan malamku. Aku duduk sebentar untuk menurunkan beberapa makanan yang masuk ke dalam perutku. Lalu menuju ruang kerja Papa dan tak lupa aku membawa nampan yang berisi teh hangat. Aku masih sangat penasaran apa yang ingin Papa sampaikan padahal selama ini tak ada hal yang menurutku salah atau kejadian ah sudahlah.