Sesampainya di ruang kerja Papa aku meletakkan teh di dekat meja. Lalu menuangkan teh yang ada dalam teko ke dalam cangkir. Masih begitu panas hingga aku masih bisa melihat uap tersebut keluar. Aroma teh ini sangat wangi dan menenangkan. Pantas saja Papa sangat suka menikmatinya sambil membaca buku di ruang kerjanya. Selain ruang kerja, tempat ini bisa di bilang seperti perpustakaan mini.
Setelah menuangkan teh aku duduk di meja kerja ayah sambil melihat beberapa tumpukan buku yang mungkin habis atau sedang ia baca. Beliau menyeruput teh tersebut secara perlahan- lahan.
“Bagaimana usaha kamu di Bali, Dis? Lancar?” tanya Papa setelah meletakkan cangkirnya ke meja.
“Alhamdulillah lancar, Pa. Rencananya di tahun depan kalau memang dua Cafe aku stabil akan lanjut buat cabang di Lombok atau di Jakarta tapi itu juga kalau modal yang kemarin saat buka di Bali balik sih.” Jelasku dengan perasaan sedikit ragu dengan menundukkan kepalaku.
“Ap kamu butuh Papa yang kasih modal sekalian saja dalam setahun kamu buka dua sampai tiga cabang lagi, Dis. Papa sempat lihat Cafe kamu yang di sini ramai dan tempatnya strategis.” Ucap Papa yang membuatku terkejut dengan mengangkat kepalaku dan melihat Papa tersenyum. Baru kali ini rasanya aku mendengar Papa memujiku. Jangankan hanya untuk memuji, saat aku menanyakan pendapat beliau untuk aku membuka Cafe saja rasanya seperti acuh tak acuh. Aku seperti merasa baru saja mendapatkan sebuah durian runtuh.
“Tapi enggak usah, Pa. Aku nggak mau merepotkan Papa.” Jawabku yang merasa sungkan.
“Apa kamu masih marah sama, Papa?” tanya Papa dengan raut wajah khawatir. Beliau beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku.
“Bu.. Bukan begitu, Pa. Tapi aku mau usaha sendiri dulu cuman kalau memang nanti aku butuh bantuan Papa aku pasti bakalan bilang sama Papa.” Ucapku yang tak ingin menyakiti hati Papa walau selama ini beliau mungkin tanpa sengaja sudah menyakiti hatiku dengan menganggapku antara ada dan tiada.
“Papa minta maaf sama kamu, Dis.” Seru Papa yang ingin mencium kakiku tapi dengan cepat aku menahan tubuhnya agar tidak melakukan hal tersebut. Aku merasa tidak pantas jika Papa harus merendahkan dirinya untukku. Kini aku dan Papa saling berhadapan. Ada buih air mata yang jatuh dari mata beliau. Raut wajah yang merasa sangat bersalah itu terpancar dengan jelas. Hingga membuat hatiku seakan teriris saat melihat beliau.
“Selama ini Papa selalu berusaha membuat Kakakmu menjadi laki- laki yang lebih baik karena dahulu Papa selalu di pandang rendah orang lain karena Papa terlahir dari keluarga yang berada. Mereka selalu bilang selama ini Papa hanya memanfaatkan kekayaan Kakekmu tanpa perlu bersusah payah hingga Papa di bilang tidak bisa apa-apa walau Papa sudah berusaha, makanya Papa mengutamakan mendidik Kakakmu terlebih dia anak laki-laki di keluarga ini.” Beliau mulai menjelaskan hal yang pernah beliau alami yang membuat aku semakin mengerti kalau sebenarnya Papa tak membenciku selama ini melainkan ada hal lain yang tak pernah beliau ceritakan. Aku selama ini sudah salah menilai Papa. Aku merasa sangat menyesal dan bersalah.
“Tapi Papa sadar apa yang Papa lakukan ini salah karena Papa jadi membatasi mimpi Kakak kamu Dimas dan Papa juga seperti melantarkan kamu Gladis.” Ucap Papa diiringi dengan sebuah air mata yang membuat suasana mengharu biru. Air mataku juga seakan tumpah.
“Papa..” lirih suara tersebut dengan langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kami. Suara tersebut ternyata dari Kak Dimas yang berada di ambang pintu bersama Mama dan berjalan mendekat. Sepertinya sedari tadi Kak Dimas dan Mama mendengarkan obrolan kami.
“Dimas maafkan Papa ya, Nak.” Lirih Papa saat Kak Dimas semakin mendekati kami. Namun tanpa berkata apa- apa Kak Dimas langsung memeluk Papa.
“Maafkan Dimas juga ya, Pa. Selama ini Dimas selalu menentang Papa padahal apa yang Papa lakukan demi kebaikan Dimas.” Ucap Kak Dimas yang juga ikut terbawa suasana di ruangan tersebut. Papa pun menepuk pundak Kak Dimas lalu mengusapnya.
“Aku juga minta maaf sama Papa ya, selama ini aku berpikir kalau Papa benci sama aku.” Seruku saat keduanya saling melepaskan peluknya.
“Kamu enggak salah sayang.” Lirih Papa sambil memelukku erat. Pelukan hangat yang selama ini selalu aku inginkan.
“Ya sudah lebih baik kita lupakan semua hal yang berlalu, kita buka lembaran baru untuk keluarga kita ya.” Tambah Mama yang sudah berada di antara kami bertiga. Kami berempat pun akhirnya saling berpelukan kembali. Setelah itu malam kami lewatkan dengan menonton acara televisi di ruang tengah saling mengobrol dengan berbagai macam hal entah mengenai hobi Kak Dimas, pekerjaan Papa dan Aku, serta resep baru yang Mama temukan hari ini. Rumah semakin terasa hangat, hingga aku tak ingin hal ini cepat berlalu begitu saja.
“Dis, Kakak minta maaf ya selama ini aku selalu iri sama kebebasan yang kamu punya tapi sekarang aku sadar kalau selalu ada hal baik yang terjadi dibalik ini semua.” Seru Kak Dimas saat kami sedang berjalan menuju kamar kami masing- masing yang berada di lantai atas.
“Kenapa Kakak minta maaf? Padahal aku juga merasakan hal yang sama seperti yang Kakak rasakan. Aku selalu iri sama Kakak selalu jadi anak yang mendapat perhatian lebih dari Papa dan selalu menjadi pusat kebanggaan Papa tapi ada hal lain yang akhirnya aku juga tahu kalau di setiap posisi kita selalu ada hal yang menyenangkan dan tidak. Tapi sekarang akhirnya aku lega dengan alasan Papa dan Papa juga mulai menyadari semuanya.” Terangku yang merasa sangat bahagia saat beberapa memori muncul.
“Iya Kakak juga senang rasanya keluarga kita akhirnya seperti keluarga lain yang terlihat hangat dan harmonis. Ini juga pelajaran buat kita nanti saat kita punya keluarga kecil, Dis.” Seru Kak Dimas.
“Betul Kak, oh iya nanti jangan bilang- bilang Tania ya kalau aku udah pulang ke Jakarta soalnya aku mau mengejutkan dia besok di hari pertunangan kalian.” Pintaku padanya yang di jawab anggukan oleh Kak Dimas.
“Ya sudah Kakak, Mau tidur dulu ya. Udah ngantuk soal ya.” Pamitnya lagi dan ia pun langsung berjalan menuju kamarnya yang berada di ujung lorong rumah ini.
Di dalam kamar aku merebahkan diri di atas tempat tidur dengan di hiasi cahaya lampu yang meredup. Aku menatap langit- langit kamarku, di sana seakan kembali aku lihat aku dan keluargaku saling tertawa lepas saat mengobrol. Hal ini tak terlihat seperti mimpi lagi bagiku karena akhirnya aku bisa menemukan keluarga yang hangat tersebut nyata dan bukan hanya mimpi atau cerita dongeng.