Siang ini aku dan keluargaku sama- sama bersiap untuk menghadiri acara pertunangan yang di selenggarakan di sebuah Ballroom hotel yang tidak jauh dari rumah. Namun kami harus berangkat tiga puluh menit lebih awal untuk kembali mengecek persiapan di tempat acara. Walau memang sudah ada WO yang mengurusnya tapi Kak Dimas ingin memastikannya sendiri. Selain itu kami berangkat lebih awal karena tidak enak dengan besan dari Kak Dimas yang sudah berada di sana lebih awal. Karena memang Tania dan beberapa keluarganya menginap di salah satu kamar di hotel tersebut.
Di dalam mobil terlihat paras wajah Kak Dimas yang terlihat pucat dan gugup hingga membuat aku tertawa geli. Namun saat aku tertawa Kak Dimas melirik ke arahku dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu ketawa?” tanyanya yang begitu serius. Ini pertama kalinya aku mendapati tatapan tersebut darinya pasalnya Kak Dimas orang yang mudah bercanda dan tertawa.
“Santai bosku, aku Cuma lucu aja melihat kamu segugup ini Kak.” Seruku sambil tersenyum.
“Tahu ya kenapa aku seperti ini, berasa sama persis nggak sih sama cewek Pms (Pra Menstruasi)?” tanya Kak Dimas yang mulai mencair dengan banyolannya. Aku, Mama, dan Papa yang berada di dalam mobil pun itu tertawa.
“Santai saja, Dim. Hari ini kamu Cuma minta restu sama keluarga Tania habis itu tukar cincin kok bukan ijab kabul.” Tambah Papa sambil menyetir dan terlihat tersenyum saat aku melihat kaca spion yang memantul ke arah kursi penumpang.
“Tapi, Pa ini pertama kalinya buat Dimas.” Seru Kak Dimas yang terlihat semakin lucu.
“Semoga acara hari ini berjalan lancar ya, Kakakku sayang.” Ledekku sambil mencubit pipinya.
“Aamiin..” serunya yang mengamini.
Lima belas menit kemudian akhirnya kami sampai di hotel. Kami pun langsung menuju Ballroom tempat di selenggarakan acara tunangan Kak Dimas dan Tania. Namun aku lihat baru beberapa undangan yang datang dan tak kulihat keberadaan Tania serta ibunya.
“Mbak Gladis, Apa kabar?” seru Sierra dari samping kanan tempat aku berdiri. Aku menoleh tersenyum ke arahnya. Sierra dia adalah pemimpin dari Samudera WO yang menangani langsung seluruh hal yang berkaitan dengan acara pertunangan hari ini. Samudera WO juga yang dulu menangani acara pertunanganku hingga ke pernikahanku yang gagal.
“Mbak Sierra, senang deh bisa ketemu lagi.” Seru sambil memeluknya saat ia sudah berada tepat di hadapanku.
“Aku juga senang kok, kamu apa kabar sekarang?” tanya Mbak Sierra.
“Kabar aku baik, Mbak. Oh ya Tania mana?” tanyaku yang penasaran hingga kedua mata masih menyelusuri setiap sudut tempat ini.
“Tania, masih dandan di atas kamu mau ke sana?” tanya Mbak Sierra lagi yang aku jawab dengan sebuah anggukan kecil.
“Ya sudah, ayo saya antar kebetulan saya juga mau cek persiapan di atas.” Ajak Mbak Sierra.
“Tapi aku ijin Mama dulu sebentar ya, takut di cariin.” Pamitku sambil tersenyum. Aku pun meninggalkan Mbak Sierra untuk segera berpamitan dengan Mama yang berdiri di salah satu sudut sambil mengobrol dengan salah satu tamu yang hadir.
“Ma..” Panggilku saat aku sudah berada dekat dengan Mama.
“Eh iya, Dis. Ada apa?” tanya Mama yang menghentikan obrolannya.
“Aku mau ke atas dulu ya, susul Tania.” Ijinku yang di jawab anggukan oleh Mama. Setelah itu aku segera bergegas untuk menghampiri Mbak Sierra yang sudah menunggu. Kami pun berjalan menuju lift ke lantai sembilan gedung hotel ini.
“Oh ya, Dis apa kamu sudah dapat pengganti Gerald atau mungkin nantinya kalian kembali lagi?” tanya Mbak Sierra membuka obrolan saat kami sedang di lift berdua saja.
“Heem belum Mbak, tapi bukannya Gerald sudah menggelar tunangan dan sebentar lagi menikah ya?” seruku yang merasa heran dengan kata “Kembali Lagi” yang terlontar dari pertanyaan Mbak Sierra.
“Tunangan sih sudah Cuma pernikahannya di batalkan karena dengar- dengar wanita yang diajak menikah malah ketahuan selingkuh sama salah satu pengusaha, dan parahnya ceweknya sempat dilabrak sama istri pengusaha itu.” Jelas Mbak Sierra yang membuatku terkejut, bukan karena mendengar berita mereka yang gagal menikah melainkan aku baru tahu dari Mbak Sierra bukan dari Tania atau orang terdekatku. Tapi mungkin jika mereka tahu hubungan keduanya bisa saja mereka sudah merasa tidak peduli lagi.
“Kapan kejadian ini terjadi, Mbak? Tanyaku yang penasaran.
“Sekitar sebulan lalu. Tapi apa kamu benar- benar nggak tahu sama sekali? Soalnya keluarga kamu tahu sih masalah ini pas mereka datang dan tunjuk WO aku buat tangani acara pertunangan Dimas sama Tania.” Seru Mbak Sierra saat kami mulai keluar dari lift dan berjalan di sebuah lorong hotel.
“Oh itu, aku nggak tahu Mbak soalnya kan beberapa bulan lalu aku sibuk urus pembukaan Cafe di Bali dan keluarga aku mungkin punya kesibukan dan nggak sempat beritahu aku. Lagi juga kan jalan aku dan Gerald sudah masing- masing, Mbak.” Ucapku sambil tersenyum.
“Tapi Kayaknya Gerald masih sayang deh sama kamu, orang dia beberapa kali tanya soal kontak dan keberadaan kamu. Tapi nomor kamu nggak aktif, ya Cuma nanti kalau kamu sama Ge balikan atau ada yang baru kabari aku saja ya. Jangan lupa pakai WO aku.” Serunya yang diiringi dengan sebuah promosi.
“Tenang, Mbak pasti kok. Oh ini kamarnya yang mana?” tanyaku.
“Itu yang di ujung lorong, Dis. Tania dari awal di dandani merasa gugup sama kayak kamu waktu mau tunangan tapi kamu semangati dia ya nanti.” Pinta Mbak Sierra.
“Iya, Mbak pasti kok.” Jawabku yang sangat yakin. Sejujurnya aku lega mendengar cerita yang baru saja aku ketahui tapi sempat terbesit rasa kecewa mengapa Tania dan keluargaku menyimpan rapat soal Gerald. Tapi biarlah mungkin mereka punya alasan tersendiri yang membuat aku tak ingin bersedih.
Saat aku memasuki kamar Tania, aku lihat ia sedang di dandani oleh penata rias. Ia mengenakan kebaya berwarna putih dan riasnya di wajahnya membuat ia terlihat semakin cantik dan bersinar.
“Tania, coba lihat siapa yang datang.” Seru Mbak Sierra. Tania pun menoleh ke arahku yang masih berjalan mendekatinya. Ia meminta sang perias menghentikan aktivitasnya dan berlari memelukku.
“Aku senang, akhirnya kamu datang juga. Aku senang banget, kamu tahu nggak sih? Dari tadi aku gugup dan jantung aku berdetak kencang mulu.” Lirihnya yang menahan air mata yang ingin keluar.
“Aku di sini sekarang, tenang ya jangan nangis. Semua akan baik- baik saja kok, Tan. Sekarang selesaikan riasan kamu ya acara sebentar lagi akan di mulai.” Ucapku yang berusaha menangkannya. Ia pun sesaat langsung tenang dan melanjutkan riasannya kembali walau ia masih memegang erat tanganku.