Kumpulan Ibu- Ibu Gosip di Pesta

1018 Kata
Setelah selesai dengan riasannya Tania turun menuju Ballroom berada di lantai dasar gedung hotel ini. Aku masih berada di samping Tania dengan tangan yang masih di genggamnya. Aku juga mengantarnya sampai di hadapan Kak Dimas yang kalah itu sedang meminta ijin dengan kedua orang tua Tania yang tengah duduk di hadapannya. Suasana yang tadinya ceria menjadi mengharu biru kalau kedua calon mempelai meminta restu. Aku jadi teringat bagaimana dulu proses pertunangan antara aku dan Gerald di gelar. Saat itu aku merasakan hal yang sama seperti Tania dan Kak Dimas merasa tegang, bahagia pokoknya perasaan itu campur aduk. Walau ini sebuah acara tunangan, tapi tahukah kalian kalau proses ini juga sama menegangkannya dengan proses ijab kabul walau berbeda level tegang dan khawatirnya. Saat itu Gerald meminta ijin dan restu kepada kedua orang tuaku untuk menjadikan aku bagian dari hidupnya. Dan hal itu pun juga aku lakukan di hadapan Mama Mayang. Dengan suasana yang mengharu biru seperti saat ini. Tapi setelah sama- sama menentukan tanggal pernikahan rasanya beberapa rasa tegang, gugup dan Khawatir pun lenyap. Dengan bangga kami saling mengambil gambar diri kami masing- masing untuk di abadikan dalam satu album foto yang akan di kenang. Dan benar saja kini ia hanya menjadi kenangan yang aku nikmati untuk diriku sendiri. “Aku enggak sangka ya kalau jodohnya Tania Kakak kamu, Dis.” Seru Ajeng yang datang dengan Niko saat kami tegang menikmati camilan saat acara utama telah usai. “Iya, aku juga. Oh ya yang lain pada ke mana?” tanyaku sambil melahap beberapa kue kecil. “Biasa mereka lagi sok sibuk. Hehehe..” Seru Niko yang berusaha bercanda. “Eh Bu, itu Kan adiknya Dimas yang batal nikah itu ya.” Seru suara sumbang dari ibu- ibu yang tak jauh dari kami berdiri. Walau terdengar sedang berbisik namun suara agak keras hingga membuat aku dan kedua temanku mendengar. “Iya kasihan ya batal nikah, lagian kenapa dulu dia mau langkahi Kakaknya ya padahal sekarang jadi Kakaknya yang tunangan, mungkin dia juga yang nikah duluan.” Seru lawan bicara kedua Ibu tersebut. Aku merasa sedikit tersindir dengan perkataan mereka. Hatiku merasa sakit dan sesak. “Apa mungkin dulu Kakaknya enggak setuju jadi adiknya batal menikah? Atau mungkin adiknya bermasalah kali ya. Dengar- dengar beberapa bulan lalu mantan Adiknya habis tunangan.” Tambah Ibu pertama tadi membuka obrolan. Kedua tanganku mulai mengepal karena rasa kesal yang semakin panas. “Ajeng, Niko mana?” tanyaku kepadanya yang baru sadar kalau Niko tidak bersama kami. Aku dan Ajeng mencari keberadaan Niko dengan melemparkan pandangan kami ke setiap sudut. Namun tak lama Ajeng menepuk bahuku yang menunjuk ke arah dua Ibu- Ibu yang tadi tengah asyik berkomentar miring tentangku. Aku langsung berlari ke sana untuk menghentikan perdebatan di antara Niko dan kedua Ibu- Ibu tersebut. “Oh jadi ini pacar barunya. Cocok sih sama- sama bermasalah.” Seru salah satu dari keduanya. “Dis, kamu dengar kan ucapan mereka yang coba menghina kamu.” Ucap Niko yang sedang marah. “Ayo, Ko. Kita jangan buat keributan.” Ajakku lagi sambil menggandeng lengannya. “Ada apa ini?” tanya Mbak Sierra yang baru datang. “Dis, Niko ada apa?” Tanya Tania juga yang baru datang bersama Kak Dimas. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya. “Mbak Sierra tolong kedua Ibu ini suruh mereka meninggalkan acara ini ya. Pastikan saat acara pernikahan nanti mereka juga tak terlihat.” Suruhku kepada Mbak Sierra sambil menarik tangan Niko lagi. Mbak Sierra mengangguk dan memanggil petugas keamanan. Aku menghampiri Kak Dimas dan Juga Tania yang masih bingung dengan yang baru saja terjadi. Aku berusaha tersenyum walau rasa kesal menghampiri. “Semua baik- baik saja kok. Lanjutkan acaranya ya. Maaf kalau sedikit keributan ya, Kak, Tan.” Ucapku saat setelah melepaskan Niko. “Kamu yakin, Dis?” tanya Tania khawatir. “Iya, sudahlah kalian lanjut ya acaranya.” Pintaku sambil tersenyum. Mereka pun meninggalkan kami dan memulai sisa acara yang belum selesai. Aku berjalan meninggalkan Niko bermaksud untuk mencari udara segar di luar ruangan ini. “Dis, tunggu..” panggil Niko sambil mengejar langkahku. “Ada apa, Nik?” tanyaku sambil tersenyum tipis. “Aku mau bicara sama kamu.” Serunya yang masih mengikuti langkahku. “Ya sudah, sekalian aku mau minum kopi.” Seruku lagi. Akhirnya kami pergi ke Coffee Shop yang berada dekat pintu utama hotel ini. Setelah memesannya kam pun duduk saling berhadapan. “Jadi kamu mau bicara apa?” tanyaku setelah menenggak sebuah Ice Coffee milikku. “Kenapa kamu tadi diam saja saat kamu di bicarakan dengan mereka.” Ucapnya yang masih kesal. “Aku di acara itu sebagai Adik sekaligus sahabat untuk Kak Dimas dan juga Tania jadi hal apa pun yang memang menyakitiku akan kubiarkan begitu saja karena aku enggak mau merusak acara kalau pun memang mengganggu aku bisa mengusir mereka kok, Ko.” Jelasku. “Tapi, Dis..” “Cukup, Ko. Sebelumnya aku terima kasih kamu sudah mau membelaku di depan mereka tapi aku rasa kamu nggak perlu melakukan hal apa pun demi aku karena apa pun yang kamu lakukan ke depannya nggak akan merubah pendirian aku buat suka sama kamu.” Dia terlihat terkejut saat mengatakan hal yang sepertinya sudah menjadi tujuan awalnya. “Kamu Cuma harus fokus untuk melanjutkan hidup kamu tanpa cerita tentang aku, Ko. Aku tahu selama ini kamu masih berusaha ada saat aku butuh tapi sayangnya hal itu masih sama aku hanya menganggapnya sebatas persahabatan kita. Aku mohon berhenti untuk melakukan hal yang hanya membuang waktu kamu. Diri kamu berhak bahagia dengan wanita lain yang jauh lebih baik dari aku.” Seruku yang memang merasa sudah terlalu muak dengan beberapa kabar tentang Niko yang selalu mencari keberadaanku dan membantuku tanpa aku ketahui. “Tapi, Dis aku nggak bisa..” lirihnya. “Kamu bisa, Cuma kamu nggak mau coba buka mata dan hati kamu buat yang lain aja.” Tambahku. Aku menyeruput habis es kopiku dan meninggalkannya yang masih terdiam hening. Mungkin ia sedang memahami apa yang baru aku sampaikan. Jujur aku tak ingin hidup seperti ini selalu menggantungkan perasaan orang lain. Karena moodku yang sudah semakin tidak baik, aku memutuskan untuk pergi dari acara ini karena aku tak ingin terlihat kacau di depan tamu undangan. Aku memesan taksi yang berada di lobi hotel. Aku memutuskan untuk segera pulang, agar aku bisa menenangkan diriku sejenak. Sepanjang perjalanan aku melihat ke arah luar jendela. Sebenarnya aku ingin sekali ke rumah Gerald tapi aku tak ingin kembali menaruh harapan kalau kenyataan yang kudapat tak sesuai ekspetasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN