Aku Sayang Mama

1016 Kata
Sekitar pukul lima sore aku sudah sampai di rumah. Aku segera masuk menuju ke kamar, merebahkan diriku ke atas tempat tidur. Rasanya nyaman sekali, tapi aku merasa sangat bersalah telah meninggalkan pesta begitu saja. Aku kembali bangun, untuk meraih ponsel yang ada di dalam tasku. Namun saat ponsel itu sudah di tangan, ternyata daya dari ponselku habis. Aku memutuskan untuk mengisi daya sebentar, aku ambil Charger yang ada di dalam nakas dekat tempat tidurku. Aku sangat rindu dengan Gerald, aku memutuskan menonton kembali video saat aku bertunangan dengan Gerald dan untungnya aku masih menyimpannya. Aku segera memutar video yang berada di sebuah VCD. Karena merasa lelah dan juga setengah mengantuk, aku memutuskan melihatnya sambil merebahkan diri di atas karpet dan tumpukan bantal kecil. Sedikit rasa rinduku terobati dengan melihat rekaman video yang sedang kuputar. Terkadang aku tertawa sendiri melihatnya tapi terkadang aku merasa sedih karena tak bisa kembali ke waktu itu. Aku merasa sedikit menyesal dengan rasa takut yang lebih kuyakini terjadi saat menjelang hari pernikahan namun aku tak bisa mengalahkannya juga karena itu sudah menjadi bagian dari takdirku dan dia. Perlahan rasa kantuk semakin menyelimuti diriku. Mataku semakin berat tapi video yang terputar baru saja di mulai. Tapi rasa kantukku tak bisa lagi ku tahan. Satu jam kemudian... “Dis.. Dis..” panggil Mama sambil menggoyang- goyangkan tubuhku. Aku membuka mataku secara perlahan, dan sekilas melihat Mama yang sudah berada di sampingku. “Eh Mama sudah pulang?” ucapku sambil melihat jam di dinding menunjukkan pukul enam. “Sudah, kamu kenapa pulang duluan nggak kasih tahu? Kamu tadi pulang sama siapa?” Mama memburuku dengan berbagai macam pertanyaan. Aku kembali mengucek- ucek mataku lalu bangun untuk segera duduk dan bersandar pada Mama. “Maaf, Ma. Tadi aku ada urusan jadi aku pulang duluan mau kasih kabar malah daya baterai ponsel aku habis, Ma.” Jawabku yang membuat Mama menarik nafas lega. “Terus aku pulang pakai taksi karena buru- buru.” Imbuhku yang membuat Mama memelukku. “Ya sudah enggak apa- apa kamu sudah makan belum?” tanya Mama. “Aku masih kenyang malah sedikit mengantuk sekarang.” Jawabku. “Ya sudah kamu tidur tapi kalau lapar Mama udah sediakan buat kamu tinggal di panasi aja.” Ucap Mama sambil melepaskan peluk di antara kami. “Siap, Mamaku sayang.” Seruku sambil mengangkat tangan dan meletakkannya telapak tangan di dahi seperti memberikan tanda hormat pada beliau. Beliau tersenyum dan beranjak untuk segera pergi. Sementara aku bangun untuk pindah ke tempat tidur karena merasa masih sangat mengantuk. “Dis..” panggil Mama pelan sambil berjalan balik ke arahku yang hampir membaringkan tubuhku kembali. “Iya kenapa, Ma?” “Mama, mau bicara sebentar boleh?” ijin beliau kepadaku yang merasa aneh dan bingung karena tak seperti biasanya beliau ingin berbicara kepadaku. Apakah ada hal yang penting? Entahlah aku tak bisa menolak jika aku pun sama penasarannya. “Iya boleh kok, Ma. Ada apa?” ucapku seraya mempersilahkan beliau untuk duduk di hadapanku. Beliau pun langsung duduk dan memandangiku dengan tatapan yang dalam. Seperti punya arti tapi entah apa itu karena aku tak mampu mengartikannya. “Ini soal, Gerald.” Seru Mama yang membuat aku terkejut karena sejak aku memutuskan untuk pergi ke Bali. Aku tak pernah lagi mendengar nama itu bahas oleh keluargaku terutama Mama. “Kenapa, Ma?” tanyaku. “Kamu sudah dengar semuanya dari Mbak Sierra?” tanya beliau yang aku jawab dengan sebuah anggukan pelan. “Sebelumnya Mama minta maaf sama kamu karena Mama berusaha menutupi soal Gerald sama kamu karena Mama nggak mau nantinya kamu terluka lagi.” jelas Mama yang membuatku tenang karena aku tahu alasan ini akan terlontar juga. “Nggak apa- apa Mama nggak salah kok.” “Sebenarnya seminggu setelah kamu pindah ke Bali. Gerald selalu ke rumah mencari keberadaan kamu. Ia selalu memohon untuk diizinkan bertemu dengan kamu lagi tapi Mama menolak selain itu permintaan kamu sendiri waktu itu, Mama menolak karena Mama nggak mau kamu terluka lagi.” Jelas Mama yang menggenggam kedua tanganku erat. air mata beliau mulai berlinang membasahi pipinya. “Apa Tania juga tahu hal ini?” tanyaku. “Tania tahu tapi Mama melarang dia untuk menceritakan hal ini sama kamu, Dis. Meski sekarang Gerald sudah tidak bersama wanita itu tapi Mama tetap nggak rela kalau kamu ketemu sama Gerald lagi. Mama nggak rela kamu disakiti lagi, Nak.” Tangis Mama pecah yang membuat aku juga merasa sedih. Aku memeluk Mama erat dan mengusap punggung beliau. Di satu sisi aku merasa senang kalau harapanku terkabul namun di sisi lain aku merasa sedih kenapa keadaan kembali rumit. Apa memang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kami bersatu kembali? Aku menangis di dalam hati. Aku tak bisa memilih antara dua hal yang memang sangat penting untuk diriku. Antara cinta dari dua orang yang sayang dan menyayangiku. “Enggak apa- apa Mama, Mana sudah melakukan hal yang terbaik buat aku. Aku merasa senang Mama sesayang itu sama aku. Sudah ya Ma, jangan sedih lagi.” Seruku yang berusaha menenangkan beliau. “Tapi kamu janji ya. Jangan lagi berusaha bertemu dengan Gerald.” Ucap Mama yang membuat hatiku semakin berat. Dalam hati aku ingin sekali berlari dan bertemu dengannya tapi... “Iya, Ma. Aku janji..” seruku sambil tersenyum. Hanya ini yang bisa aku lakukan mengalah untuk sebuah rasa lain yang lebih berharga untukku. “Terima kasih ya sayang.” Seru beliau sambil tersenyum dan menghapus air matanya. Beliau terlihat begitu bahagia dan semangat. Hal itu pun juga membuatku senang sekali. “Mama ke kamar dulu ya sayang mau mandi.” Pamit Mama yang memang masih menggunakan pakaian untuk pergi ke acara tunangan Kak Dimas dan Tania hari ini. Aku mengantar beliau keluar dari kamarku lalu aku menutup pintu dan menguncinya. Aku berlari tempat tidurku, aku membanting tubuhku dan menangis di atas bantal. Akankah takdir mempertemukan aku kembali dengan Gerald atau mungkin malah memisahkan aku jauh darinya( Lagi). Apa aku harus aku benar- benar berkorban dengan perasaanku sendiri? “Ge, bisakah kita kembali bersama lagi seperti dulu? Aku sangat merindukan kamu.” Lirihku dalam hati. Aku hanya bisa berharap suatu saat keadaan berbalik seperti yang aku inginkan. Gerald yang segera kembali ke dalam hidupku dan Mama yang mau menerima kembali sosok Gerald. Hanya itu inginku yang terlihat sederhana. Setelah merasa puas dengan menumpahkan semua rasa sedihku di atas bantal. Aku menyeka kedua pipiku yang basah karena air mata. Meyakinkan diriku sendiri kalau semuanya akan baik- baik saja dan berjalan sesuai harapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN