Rasa Bersalah

1041 Kata
“Dis, bangun kita sudah sampai di Vila kamu.” Ucap Bryan sambil menepuk- tepuk pundakku perlahan dengan tangannya yang lain. Perlahan aku membuka mataku, dan mulai menyadari keberadaanku yang memang sudah sampai di depan Vila. Aku mengangkat tubuhku yang sempat bersandar di pundak Bryan. “Terima kasih ya, Bryan.” Ucapku lalu aku pun keluar dari mobil. “Dis, tunggu.” Panggil Bryan saat aku sudah memencet bel. Aku berharap Pak Rudi atau Bibi Ira membukakan pintu gerbang. Bryan menghampiriku dengan membawa tas ransel milikku yang memang aku lupa membawanya. “Ini..” Bryan memberikan tas ranselku. “Terima kasih, Bryan. Maaf ya aku lupa saking nggak fokus.” Jawabku yang memang ingin segera masuk ke dalam Vila. “Ya sudah jangan lupa langsung istirahat ya.” Ucapnya sambil mengelus kepalaku dan tersenyum. “Iya, ya sudah kamu hati- hati dan jangan lupa istirahat ya.” Kataku lagi dan di waktu yang bersamaan Pak Rudi dengan membukakan pintu gerbang. Bryan pun kembali masuk ke dalam mobil dan tak lupa melambaikan tangannya dari dalam mobil. Setelah mobil itu benar- benar pergi dari Vila aku pun langsung masuk. Sesampainya di dalam kamar, aku meletakan tas ranselku. Dan menuju kamar mandi untuk kembali membersihkan diri dengan kembali mandi agar diriku kembali segar. Setelah selesai aku mengeringkan rambutku di meja rias. Dan tak lama Tania pulang dengan membawa barang- barang miliknya. “Eh, Tan..” seruku. “Kamu mandi lagi, Dis?” tanyanya heran. Sambil duduk di tepi ranjang. Namun aku hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. “Aku kira kamu langsung tidur, habis muka kamu kayak lelah begitu.” Tambah Tania. “Emang aku tadi udah tidur sebentar selama perjalanan pulang, tapi pas sampai Vila aku baru teringat kalau aku mau mengerjakan data penjualan Cafe.” Jelasku padanya. “Oh iya, aku juga mau cek data juga, katanya sempat ada selisih. Tapi kayaknya mandi dulu enak nih.” Serunya sambil beranjak menuju kamar mandi dengan membawa handuk dan pakaian. “Oh ya, Dis.” Ucapnya lagi yang di ambang pintu membuat aku menoleh ke arahnya. “Aku besok siang pulang ke Jakarta.” Serunya yang membuat aku merasa sedih. “Kok, cepat banget sih?” tanyaku. “Soalnya aku dan Dimas mau segera minta restu sama Mama dan Papa kamu. Dan Dimas juga sudah telepon kalau aku di suruh segera pulang.” Jelasnya yang membuat aku menghampirinya. “Ya sudah semoga lancar ya, nanti kalau ada apa- apa kamu bilang aku saja.” Seruku sambil memeluk sahabatku yang terlihat sangat gugup. “Kamu, nggak mau ikut aku pulang dan nemenin aku bicara dengan orang tua kamu?” tanya Tania sambil melepaskan peluk kami. “Maaf ya, Tan tapi aku masih belum siap buat pulang saat ini.” Seruku yang mengingat beberapa malam terakhir di dalam mimpi aku bertemu dengan sosok Gerald. Entah dalam hati atau pikiranku masih teringat dengannya atau merindukan sosoknya. “Apa Bryan nggak mampu buat gantiin posisi Gerald?” tanya Tania yang membuatku terkejut dan terdiam sesaat. “Aku setuju kok, kalau kamu sama Bryan atau siapa pun pilihan kamu. Tapi kalau memang belum yakin kamu jangan kasih sepenuhnya hati kamu buat siapa pun ya.” Seru Tania yang membuat aku mengangkat kepala dan tersenyum. “Terima kasih ya, Tan.” Seruku. “Iya, kamu pokoknya harus bahagia ya.” Tambah Tania yang bersemangat. Keesokan pagi, saat aku mau berangkat ke Cafe Bryan sudah datang untuk mengantarku ke Cafe. Aku merasa sangat terkejut pasalnya dari semalam Bryan tak mengatakan apa pun. “Kamu, kenapa mau antar aku ke Cafe? Bukannya kita nggak janjian ya.” Seruku saat aku kami sudah berada di dalam mobil Bryan. “Ya kan dari beberapa hari lalu aku, sudah janji mau antar jemput kamu, Dis.” Jawabnya. “Tapi kamu nggak bekerja? Berapa lama kamu ambil cuti?” tanyaku padanya. “Selama aku masih mau bersama kamu, selama itu juga aku ambil cuti.” Serunya sambil bercanda. “Bryan, jangan begitu dong kan aku jadi malu lagian kita nggak harus sering bertatap muka seperti ini.” Kataku yang menatapnya dengan serius. “Iya, aku Cuma bercanda kok. Selama aku di sini aku suruh orang kepercayaan aku buat urus, urusan di kantor dan kalau memang kamu udah nggak mau aku di sini, besok aku kembali pulang.” Serunya yang membuatku merasa bersalah. “Nggak bukan begitu. Tapi kan semua orang punya kesibukan masing- masing, Bryan.” Jelasku yang takut ia semakin tersinggung. “Enggak kok, kamu benar.” Ucapnya dengan nada datar. Huh apalagi ini apakah dia marah denganku? Ekspresinya seketika berubah. Selama sisa perjalanan menuju Cafe diisi dengan keheningan di antara kami. Sampai saat aku mengucapkan terima kasihku karena sudah mengantarku dengan selamat Bryan memberiku sebuah senyuman terpaksa. Hingga aku merasa sangat bersalah. Tapi aku akan melupakan sejenak tentang laki- laki itu karena hari ini akan sangat melelahkan karena bertepatan dengan libur panjang. Dari Cafe di buka sampai jam makan siang tak henti- hentinya pengunjung Cafe berdatangan. Membuat aku dan beberapa karyawan seperti kewalahan. Tapi aku merasa senang kalau akhirnya Cafe terlihat semakin ramai. Hingga aku lupa ingin mengantar Tania ke bandara. “Halo, Tan kamu dimana?” tanyaku yang mencoba menanyakan keberadaannya. “Aku sudah sampai bandara, dan bentar lagi pesawat udah mau lepas landas. Aku dengar dari Lala Cafe lagi ramai jadi nggak apa- apa kamu tetap di situ ya. Semangat.” Ucap Tania menyemangati yang membuat aku tersenyum. “Ya sudah kamu hati- hati ya. Aku lanjut bekerja lagi.” Pamitku sebelum memutuskan panggilan telepon kami. Lagi- lagi ada rasa sedih dan bersalah menyelimuti hatiku. Entah kenapa hari ini aku merasa sering mengecewakan beberapa orang di sekelilingku. “Bu Gladis, saya minta tolong ya.” Panggil salah satu karyawan yang membuyarkan lamunanku. Beberapa jam kemudian setelah ada celah untuk beristirahat sejenak, aku duduk di dalam ruang kerja sambil sesekali mengecek berbagai macam hal terkait urusan Cafe. Namun tak lama Arya masuk ke dalam ruang kerjaku, ada perasaan canggung karena sejak kejadian itu ini pertama kalinya kami bertemu berdua. “Eh Arya, bagaimana kabarnya? Kemarin aku dengar kamu sakit.” Tanyaku basa- basi sambil melihat layar laptop. “Baik, Bu.” Ucapnya kikuk dan terlihat bingung. Ia mencoba menghampiri meja kerjaku dan duduk berhadapan denganku. “Dis, Aku pamit keluar kerja ya mulai besok.” Ucapnya dengan nada sedikit lantang. “Loh kenapa begitu?” tanyaku cepat sambil menoleh ke arahnya karena rasa terkejut. “Aku.. Aku.. Nggak enak sama kamu soal kejadian waktu itu.” Jawabnya sambil menunduk sungkan. “Aku udah lupakan kejadian hal itu Arya, kamu cukup bersikap seperti biasa aja.” Seruku yang membuatnya menatap diriku. “Tapi, Dis..” “Aku udah anggap kamu sebagai sahabat aku di sini jadi aku mohon kamu anggap aku sebagai sahabat kamu juga.” Pintaku padanya dengan penuh harap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN