Aku dan Tania kembali menghampiri Bryan yang berada di ruang tengah dengan beberapa camilan yang di bawa Tania. Kala itu Bryan sedang sibuk mengotak- atik ponsel miliknya.
“Bryan, sarapan yuk?” tawarku padanya sambil menunjukkan semangkuk bubur ayam yang telah di hangatkan.
“Aku sudah sarapan duluan tadi sama Tania.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Eh, nih Ajeng baru kirim pesan ke aku mau ajak kita ke Tanjung Benoa siang ini. Kalian mau ikut?” Ajak Tania sambil menoleh ke arahku dan juga Bryan.
“Boleh, bagaimana sama kamu, Dis?” jawab Bryan lalu melemparkan ajakannya kepadaku.
“Boleh sih, mumpung aku juga libur juga.” Seru setelah menelan sisa makanan terakhirku.
“Ya sudah kalau begitu aku juga kembali ke Vilaku ya, buat ambil beberapa barang termasuk baju ganti, kalian nanti berangkat bareng sama aku saja.” Serunya yang kemudian beranjak untuk segera keluar dari Vila kami. Aku dan Tania pun mengantarkannya sampai depan pintu gerbang.
“Dis, kalian tuh udah balikan ya?” tanya Tania yang membuat aku tersenyum ke arahnya.
“Enggak kok, lagian kalau ada apa- apa orang yang pertama tahu kan kamu, Tan.” Jawabku sambil mengunci pintu gerbang.
“Tapi kenapa sikap dia kelihatan lain ya?” tambah Tania yang merasa ada yang aneh dengan Bryan.
“Aneh bagaimana sih, Tan? Ini Cuma karena dia mau memperbaiki hubungan di antara kita saja kok.” Aku berusaha meyakinkannya kalau hubungan di antara aku dan Bryan hanya sekedar teman saja saat ini. Tapi saat aku melihat raut wajahnya sepertinya ia merasa tidak puas dengan jawaban yang aku berikan. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Sudah ya, Tan. Kamu nggak usah mikir macam- macam lagi. Yuk sekarang kita juga siap- siap buat berangkat liburan sebelum Bryan datang dan ketemu sama teman- teman.” Ajakku yang begitu semangat hingga menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam Vila. Aku dan Tania langsung menyiapkan barang- barang yang akan di bawa seperti beberapa baju ganti karena kami yakin di sana kami akan bermain air.
Setelah kurang lebih setengah jam, Bryan kembali datang untuk menjemput kami. Tapi kali ini dia membawa seorang sopir untuk menyetir karena katanya nanti bisa saja ia kelelahan saat memainkan beberapa wahana yang ada di sana. Aku dan Tania pun hanya mengangguk setuju dengan alasan yang ia berikan. Dan kami pun berangkat menuju Tanjung Benoa yang di tempuh kurang lebih sekitar satu jam dari Vila.
Sesampainya di sana sudah ada Ajeng, Niko, Silvi, dan juga Ratna. Ternyata mereka sudah datang dari beberapa menit yang lalu. Mereka pun juga kaget dengan kehadiran Bryan yang ada diantara aku dan juga Tania.
“Eh Bryan, ikut juga ya?” tanya Ratna sambil tersenyum.
“Iya, Na.” Jawab Bryan.
“Ya sudah yuk kita mulai saja..” ajak Niko sambil berjalan masuk menuju tempat pemesanan loket. Kami pun mengikutinya sambil membawa barang- barang kami masing- masing.
Setelah selesai dengan segala macam yang berhubungan dengan administrasi. Kami semua ke ruang ganti dan loker untuk mengganti pakaian kami dan menyimpan tas dan barang bawaan kami yang tidak mungkin di bawa menuju pantai. Tak lupa kami juga memakai Sunblock agar kulit kami tidak terbakar dengan panasnya sinar matahari.
Setelah itu kami kembali berkumpul dengan Niko dan juga Bryan yang sempat terpisah di ruang ganti dan loker tadi. Dan tak lama sang pemandu datang menghampiri kami untuk memberi sebuah instruksi untuk hal apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
Tak lama kami pun dibawa ke pesisir pantai untuk menikmati berbagai wahana seperti Parasailing, Banana boat, Flyboard dan masih banyak lagi wahana lain. Kami semua seakan melupakan sejenak berbagai macam rutinitas yang telah kami kerjakan. Kami pun juga bebas untuk berteriak bersama- sama tapi tak lupa kami juga mengabadikan setiap momen yang kami lewatkan dengan kamera sekaligus fotografer yang sempat kami sewa. Sungguh menyenangkan.
Setelah jam menunjukkan waktu makan siang, dan perut kami juga sudah lapar. Kami menghentikan aktivitas kami sejenak untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kami pun tak lupa untuk mengganti pakaian dan sekedar mencuci wajah agar terlihat segar. Setelah itu kami mencari salah satu restoran terdekat yang menyajikan makanan khas Bali. Namun ada hal yang membuat aku dan teman- teman semakin takjub dengan Bryan. Saat ia mengajak sang sopir untuk ikut makan siang bersama.
“Dis, kamu balikan nggak sama Bryan?” lagi, lagi pertanyaan itu terlontar dari mulut Silvi di sela kami sedang menunggu makanan yang kami pesan datang di meja.
“Nggak kok, kita Cuma sekedar teman aja sekarang.” Jawabku saat Bryan masih duduk menemani sang sopir memilih menu sambil menerima telefon.
“Tapi kalau kalian sampai balikan aku sih setuju.” Seru Ajeng.
“Iya, aku juga. Soalnya liat aja dia baik banget loh sampai dia ajak sopirnya makan siang.” Tambah Ratna.
“Bukannya hal yang wajar ya?” aku bertanya.
“Pokoknya kalau dia ngajak kamu balikan terima ya.” Seru Silvi yang membuat aku hanya tersenyum karena tidak tahu mau menjawab apa.
Tak lama makanan yang kami pesan tiba, dari wangi dan bentuknya terlihat enak hingga membuat aku menelan salivaku.
Bryan kembali ke meja kami, dan kami pun mulai melahap makanan kami masing- masing.
Setelah selesai makan dan kembali menikmati wahana permainan yang ada. Kami membersihkan diri dan bersiap untuk pulang karena hari sudah semakin gelap.
“Terima kasih ya teman- teman buat liburannya.” Seru Bryan sambil tersenyum saat kami semua sedang berada di depan mobil.
“Oh ya, Dis, kita pisah mobil ya soalnya aku mau mampir sebentar ke hotel mereka untuk ambil barang- barang aku yang masih ketinggalan.” Pamit Tania.
“Mau aku temani?” tawarku.
“Nggak usah, Dis. Aku janji nggak lama kok.” Tolak Tania.
“Ya sudah nanti jangan lama- lama ya.” Seruku padanya dengan berat hati. Kami pun akhirnya berpisah dengan teman- teman lain. Bryan juga duduk denganku di kursi penumpang bersamaku. Kami sempat melihat- lihat foto yang sempat kami abadikan kembali. Dan mengobrol seputar hal- hal lucu yang terjadi selama kami menikmati liburan hari ini. Beberapa hal yang memang menarik untuk kami bahas hingga ingin kembali menikmatinya lagi. Hingga aku tanpa sadar mulai menguap karena mengantuk.
“Hooaaamm..”
“Kamu mengantuk ya, Dis.” Seru Bryan.
“Iya nih kayaknya karena aktivitas kita hari ini.” Ucapku. Dengan perlahan ia memiringkan kepalaku di bahunya.
“Kalau mau tidur begini saja ya, biar kepala kamu nanti nggak kebentur jendela.” Ucapnya yang membuat jantungku kembali terpacu kencang namun di tepis oleh rasa kantukku. Aku pun mulai menutup mataku secara perlahan.