Rasa Kagum Untuk Bryan

1006 Kata
Dan tanpa basa- basi, Bryan menyetujui usulku untuk mengantarku ke Vila dengan membuntuti mobilku yang jalan terlebih dahulu dengan syarat kami sambil menelefon jadi masih ada teman mengobrol, walau sebenarnya cara ini sebenarnya salah. Tapi aku menyetujui usulnya karena aku tak ingin jika harus meninggalkan mobilku di Cafe. “Kamu mau mampir tanyaku?” tawarku padanya saat kami sudah berada di depan Vila. Dan aku sudah memarkirkan mobilku di garasi. Aku berdua saling berhadap- hadapan untuk sekedar berpamitan. “Jangan, udah malam kamu pasti capek kan pulang kerja sampai selarut ini.” Tolak Bryan yang memang aku juga sudah merasa sangat lelah dengan hari ini. Bagaimana tidak? sebelum aku kembali ke Cafe aku harus menemani teman- temanku berbelanja. Tapi aku tetap merasa senang. “Ya sudah nanti kalau sudah sampai tempat tinggal kamu kabari ya, Bryan.” Seruku sambil tersenyum. “Oh ya, Dis. Besok biar aku yang antar jemput kamu ke Cafe ya.” Tawarnya lagi yang membuat aku sebenarnya senang tapi juga aku tidak enak harus merepotkannya. “Tapi apa kamu nggak repot?” tanyaku yang kembali meyakinkannya. “Nggak apa- apa aku bebas kok selama seminggu ini, ya hitung- hitung kita kembali bernostalgia.” Jawabnya asal. “Tapi aku beneran deh merasa nggak enak.” Aku berusaha untuk jujur di depannya. “Heem..” ia mulai berpikir sejenak. “Bagaimana kalau nanti saat kamu libur kerja, kamu temani aku keliling sekitar Bali.” Usulnya yang terdengar tidak sulit untuk aku kabulkan. “Oke, aku setuju.” Kataku sambil mengacungkan jempol ke arahnya. Namun karena rasa lelah dan mengantuk, aku tanpa sadar menguap dengan menutup mulutku. Ia mengusap- usap kepalaku pelan sambil tertawa. “Sudah sana, Kamu masuk. Terus istirahat ya tapi jangan lupa buat bersih- bersih dulu.” Suruhnya lagi lalu meninggalkanku untuk masuk ke dalam mobil. Aku pun melambaikan tanganku sebagai salam perpisahan, lalu berjalan masuk ke dalam Vila saat Bryan kembali menyuruhku masuk. Sesampainya di dalam kamar, Aku melihat Tania yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Aku meletakkan tasku di meja rias lalu beranjak untuk pergi ke kamar mandi. “Dis, kamu udah pulang?” tanya Tania sambil mengucek matanya hingga aku menghentikan langkahku yang berada diambang pintu kamar mandi. “Iya, Tan. Maaf ya jadi bikin ke bangun deh kamu.” Aku tersenyum tipis kepadanya. “Nggak kok, aku ke bangun karena mau pipis.” Serunya. “Kamu mau pakai kamar mandinya duluan? Nggak apa- apa kok.” Aku mempersilahkan. “Nggak usah kamu duluan aja, aku masih bisa tahan kok. Sekalian aku masih ke dapur dulu buat minum.” Tolaknya sambil beranjak turun dari tempat tidurnya. “Oke kalau begitu, aku duluan ya.” Seruku yang di jawab anggukan olehnya. Aku pun masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dan naik ke tempat tidurku untuk rebahkan tubuhku lalu beristirahat sejenak. Hari yang melelahkan tapi sangat menyenangkan untukku. Esok harinya aku menerima kabar kalau keadaan Arya sudah membaik, tapi ia bersikeras untuk masuk kerja hari itu. Aku yang merasa senang, memutuskan untuk tidak berangkat ke Cafe. Aku sedang ingin bermalas- malas di dalam kamar dengan tidur sampai pukul sembilan pagi. “Dis, mau sarapan nggak?” ajak Tania sambil mengguncang- guncang tubuhku yang masih bersembunyi di balik selimut. “Nanti aja ya, Tan. Soalnya aku masih mengantuk.” Jawabku. “Hari ini kamu nggak ke Cafe?” tanya Tania lagi. “Nggak, Tan. Tolong ya aku masih mau tidur sampai jam sembilan.” Pintaku kepadanya yang langsung di turuti olehnya dengan meninggalkanku yang masih berada di balik selimut. Tepat pukul sembilan, aku bangun lalu ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajahku dan menggosok gigi. Lalu keluar dari kamar untuk menghampiri Tania yang sudah duduk di ruang tengah dengan Bryan. Aku terkejut saat melihat kehadiran Bryan. “Astaga aku lupa memberitahu lelaki itu kalau aku, hari ini memutuskan untuk tidak masuk kerja.” Batinku yang merasa tidak enak hati. “Dis, sudah bangun?” tanya Bryan saat sudah melihatku yang berdiri mematung di depan pintu. Aku tersenyum tipis dan merasa malu, tapi lelaki itu malah tersenyum ke arahku. “Maaf ya, Bryan aku lupa kasih tahu kamu kalau hari ini aku nggak berangkat kerja.” Aku langsung melontarkan permintaan maafku, Sementara Tania tengah asyik menertawakan diriku yang seketika mati kutub di hadapan Bryan. “Tania sih, kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau Bryan datang.” Timpalku yang membuatnya berhenti tertawa. “Kamu sih, tadi mau aku bangunin bilangnya malah Tan, tolong ya aku masih mau tidur sampai jam sembilan. Ya sudah dari pada aku teruskan nanti kamu jadi ngambek ya, aku tinggal aja.” Jelas Tania yang membuatku semakin kaku karena malu di hadapan Bryan. “Ya udah nggak apa- apa kok lagian aku di sini baru sebentar. Bagaimana kalau kamu sarapan dulu, nih aku sudah beli sarapan semoga masih hangat ya. Kalau nggak kamu panasin dulu di Microwave.” Suruh Bryan sambil menunjuk sebuah kantung berisi makanan yang tersisa satu kotak. Aku pun menurutinya tapi tak lupa menarik tangan Tania menuju Dapur. “Kenapa sih, Dis?” tanya Tania penasaran. Sebelum menjawab pertanyaannya aku memindahkan bubur ke dalam mangkuk dan memasukkannya ke dalam Microwave untuk di panaskan sebentar. “Emang benar, Bryan baru sebentar di sini?” tanyaku padanya. “Dia udah satu jam lebih, Dis nunggu kamu bangun. Lagian kamu tumben tidur sampai sesiang ini biasanya jam enam aja sudah stand by walau berangkat siang.” Seru Tania. “Ting..” Suara Microwave yang menandakan makanan yang aku hangatkan sudah hangat. “Itu aku kelelahan kayaknya kemarin kan sebelum ke Cafe aku menemani kalian dulu untuk jalan- jalan. Dan malamnya karena aku nggak enak sama Pak Remy yang harus full ya sudah aku mutusin gantiin tugas Arya. Terus pas dapat kabar Arya udah baikkan, ya aku mutusin hari ini nggak masuk kerja buat istirahat.” Jelasku yang di jawab anggukan olehnya. Aku menyuap sesendok bubur yang masih hangat. Rasanya enak sekali. “Tan, Kamu mau nggak?” tawarku sambil menyodorkan setengah sendok bubur yang ku pegang ke arahnya. “Enggak, aku sama Bryan tadi udah sarapan duluan. Bryan masih sama baiknya ya, sampai bela- belain beli bubur dan tadi kalau nggak aku suruh ikut makan dia malah mau nungguin kamu loh.” Tania menceritakan semua hal yang terjadi selama aku tidur. Aku semakin kagum dengan Bryan, sikapnya masih sama dan tak pernah berubah walau saat ini kami sudah tidak lagi bersama dalam sebuah hubungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN