Kekhawatiran Tania

1050 Kata
Setelah melihat mobil Bryan berjalan meninggalkan Vila, aku mulai masuk ke dalam rumah sambil membawakan pesanan milik Tania. Dan benar saja gadis itu tengah duduk di ruang tamu menungguku sambil menonton televisi dengan menggunakan kaos berwarna putih dan hot pants miliknya. Aku menghampirinya duduk di sofa yang berbeda dengannya, aku meletakkan kantung makanan tersebut di atas meja. Ia yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa segera merubah posisinya menjadi duduk. Lalu meraih kantung makanan tersebut dan membukanya. “Kalian kemana aja? Kok ninggalin acara begitu aja.” Tanya Tania sambil membuka saus saset dengan menggigitnya. “Eeemm Cuma ngobrol di pantai habis itu makan deh di Mcd.” Jawabku sambil tersenyum bahagia. “Oh..” kemudian Tania melahap Burger miliknya. “Aku senang malam ini ketemu sama dia lagi, Tan.” Seruku masih dengan sambil tersenyum. “Loh, kenapa?” Tanya Tania yang terlihat semakin penasaran. “Iya Bahagia ketemu sama Bryan lagi, Tan.” Jawabku sambil membayangkan pertemuan singkatku bersamanya tadi. “Apa?” Tania terdengar kaget. “Iya, bisa ketemu lagi setelah sekian lama kita terpisah. Memang kamu nggak senang?” tanyaku balik padanya setelah memberikan alasanku. “Ya senang sih, Cuma kan senangnya kamu sama aku itu beda, Dis.” Serunya lagi. “Kamu nggak takut kalau dia baik sama kamu, nantinya mengecewakan kamu lagi.” Tambah Tania. “Tapi dia sudah minta maaf dan kasih tahu semua alasan beberapa tahun lalu dia meninggalkan aku, Tan.” Seruku. “Dan kamu langsung percaya begitu aja, Dis?” tanyanya. “Aku percaya sama dia karena memang dia anak yang penurut dan selalu turutin apa yang di Papanya minta, Tan.” Jelasku yang berusaha meyakinkannya. Ia sesaat terdiam entah sedang memikirkan apa aku tak tahu. “Oke, tapi saran aku kamu jangan berikan sepenuh hatimu buat dia ya. Karena aku nggak mau kamu kembali terluka lagi.” Ucapnya sambil memberikan sebuah saran dan nasehat. Aku mengangguk perlahan menyetujui apa yang sudah ia ucapkan. Aku kemudian perlahan beranjak untuk berdiri. “Kamu mau kemana, Dis?” tanya Tania. “Aku mau bersih- bersih terus tidur soalnya aku udah mulai mengantuk.” Seruku sambil berjalan menuju kamar. “Ini kamu nggak mau makanannya?” “Enggak usah, aku udah kenyang, Daa Tania.” Seruku seraya menutup pintu kamarku. Setelah berpisah dengan Tania, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku dan tidur karena waktu sudah sangat malam, serta esok aku harus kembali bekerja. Esok hari seperti biasa aku datang ke Cafe bersama Tania, niatnya untuk melihat- lihat keadaan Cafe lalu pergi. Namun tak kudapati Arya pagi ini, yang terlihat malah Pak Remy. “Loh, Arya kemana, Pak?” tanyaku pada lelaki yang berdiri tepat di depanku. “Pak Arya, sakit, Bu. Dari tadi subuh badannya demam tinggi.” Jawab pak Remy. “Heem berarti kamu long shift hari ini?” tanyaku. “Sepertinya begitu, Bu.” Jawabnya lemas. “Heem udah coba bawa Pak Arya ke dokter?” tanyaku. “Belum, Bu. Pak Aryanya masih tidur saat di ajak ke dokter. Sekarang di Mes lagi di jagain sama anak- anak yang masuk shift siang.” Pak Remy kembali menjelaskan. “Oke, nanti saya coba telefon dokter untuk datang memeriksa. Dan karena kamu hari ini long shift bisa ambil jatah istirahat agak panjang saja, tapi hubungi saya ya kalau ada kendala apa pun.” Jelasku yang dijawab dengan sedikit anggukan. Aku pun langsung menelefon dokter untuk segera datang untuk memeriksa Arya. “Dis, kita masih mau jalan?” tanya Tania. “Jadilah, soalnya aku juga nggak enak sama yang lain udah janji lagian kalau besok masih belum masuk aku bakalan bagi shift dengan Pak Remy. Tapi hari ini aku nggak full jalan sama kalian ya soalnya nanti sore aku masih mau balik ke sini buat bantu- bantu.” Izinku padanya sebelum kami pergi karena aku tak ingin mengecewakan teman- temanku yang masih ada di Bali untuk liburan sebelum akhirnya mereka pulang ke Jakarta. # # # Seperti janjiku, sekitar jam enam sore aku sudah kembali ke Cafe. Aku yang tak tega melihat Pak Remy yang sepertinya kelelahan karena harus Full Time bekerja di Cafe. Aku suruh pulang ke Mes sekaligus mengecek kondisi Arya. Berita yang kudengar dari dokter pun, Arya mengalami demam tinggi karena Stres dan perlu istirahat sejenak. Entah mengapa lelaki itu bisa stres, apakah mungkin ada kaitannya dengan kejadian kemarin yang telah ia lakukan padaku? Sejujurnya aku juga ingin melihat kondisinya namun aku masih di hantui rasa takut. Malam ini keadaan Cafe tidak terlalu ramai karena ini hari biasa, makanya aku merasa mampu mengurusnya. Di bantu karyawan lain, aku mulai benar- benar memahami apa yang kurang dan lebih dari Cafe ini. “Bu..” Panggil Lala salah satu karyawanku saat aku sedang mengobrol dengan karyawanku di bar kasir. Lala membawa sebuket bunga mawar merah. “Dari siapa ini?” tanyaku cepat. “Tadi ada yang kirim dan bilang buat ibu. Nama penerima ada di bunganya, Bu.” Ucapnya sambil memberikannya kepadaku. Aku pun segera mencari kerja yang di tulis oleh sang penerima. “Selamat bekerja, jangan lupa makan dan beristirahat nanti. Bryan.” Aku menarik garis di wajahku karena merasa senang dengan kiriman bunga tersebut. “Siapa, Bu?” tanya Lala lagi yang memecah lamunanku. “Oh ini dari teman saya, kamu bisa letakkan ini di meja kerja saya ya, La.” Suruhku padanya sambil memberikan bunga tersebut dan di bawa olehnya menuju ruang kantor. Hatiku masih berbunga- bunga dengan hadiah pemberian Bryan tersebut. Lelaki itu masih tetap sama dan romantis. Sesaat ingatanku tentang Gerald mulai terhapus. Dimana pun aku jadi terbiasa tanpanya, walau sesekali saat aku tidak sedang melakukan hal apa pun aku masih teringat olehnya. Malam ini aku menutup Cafe dengan lancar. Walau ada sedikit kendala masih bisa diatasi. Aku senang bisa terjun langsung seperti ini walau terasa lelah karena aku sempat pergi bersama teman- temanku. Setelah mengunci pintu utama Cafe, aku yang membawa bunga langsung berjalan menuju mobil yang berada di area parkir. Di sana aku lihat Bryan sedang berdiri bersandar pada mobilnya sambil tersenyum. Aku yang heran menghampirinya sejenak. “Kamu kenapa ada disini? Bukannya kamu harusnya udah balik buat perjalanan bisnis kamu?” aku memburunya dengan beberapa pertanyaan. “ Tadinya begitu tapi aku batalkan karena mau di sini untuk sementara waktu.” Jawabnya sambil tersenyum. “Kamu udah pulang? Biar aku antar ya.” Tawarnya. “Iya ini rencananya aku mau pulang, tapi kayaknya kamu nggak usah antar aku soalnya aku bawa mobil.” Tolakku sambil menunjuk mobilku yang berada di sebelahnya. Ia membuang nafas dengan wajah putus asa. “Kalau kamu mau antar aku, Kamu bisa kok ikutin aku pakai mobil kamu dari belakang tapi apa nggak kemalaman kalau kamu antar aku.” Usulku yang diikuti sebuah keraguan di akhir kalimat. Karena memang aku menutup Cafe di jam sepuluh malam dan keluar pukul sebelas malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN