Bryan mengajakku untuk pergi meninggalkan acara reuni malam itu, ia membawaku ke sebuah pesisir pantai yang tak jauh dari hotel. Kami duduk berdua sambil menatap lurus ke arah pantai yang tak bertepi, sepatunya dan helsku kami letakkan di depan kami. Ia masih sama, ia masih hafal dengan tempat yang paling kusuka ini.
“Kamu apa sekarang?” tanyanya membuka obrolan diantara kami berdua.
“Sibuk, urus pembukaan cabang baru Cafe aku sama Tania di sini.” Jawabku merapikan anak rambutku yang tertiup angin laut.
“Aku minta maaf ya.” Serunya yang membuat aku menatapnya yang sedang menatap diriku juga. Raut wajahnya seketika berubah yang tadi sempat kulihat tersenyum manis kini terlihat merasa bersalah dan menyesal. Entah apa yang membuatnya mengucapkan kata maaf setelah sekian lama tak bertemu. Apakah dia masih ingat kesalahannya beberapa tahun lalu?
“Maaf untuk apa, Bryan?” tanyaku yang masih menatap wajahnya.
“Untuk beberapa tahun lalu yang tiba- tiba meninggalkan kamu tanpa sebab dan hubungan yang pasti.” Jelasnya kini yang membuat rasa penasaranku kembali bangkit setelah sekian lama terkubur.
“Kamu masih ingat itu?” tanyaku lagi.
“Aku masih ingat semua memori saat kita bersama- sama yang kita habiskan selama dua tahun, Dis. Aku juga masih ingat sehari setelah acara kelulusan sekolah selesai, Papa membawa paksa diriku pergi ke Amerika untuk belajar bisnis di sana sampai aku tak sempat berpamitan sama kamu, Dis.” Serunya dengan emosinya yang perlahan meledak.
“Kenapa kamu nggak kabari aku lewat ponsel atau apa pun?” aku bertanya dengan nada sedikit meninggi. Aku ingin tahu seberapa besar usaha lelaki yang pernah menjadi cinta pertamaku ini.
“Saat berangkat ponsel aku di sita dan di sana aku meneruskan sekolahku dengan home Schooling serta belajar bisnis pun juga di dalam apartemen. Aku tidak diizinkan keluar kemana pun sampai aku benar- benar bisa mewarisi bisnis Papa. Selama dua puluh empat jam selama bertahun- tahun kebebasanku di renggut papa. Dan setelah papa tiada aku baru bisa kembali ke Indonesia bertemu kamu lagi, sampai saat ini.” Jelasnya sambil tertunduk dan terdengar suaranya agak bergetar karena rasa bersalahnya. Aku yang tak kuasa langsung memeluk erat tubuhnya yang mulai mendingin karena sedari tadi terhempas angin lautan. Aku merasa senang mendengar penjelasannya, semua pikiran negatif yang sempat menghampiri diriku pun terhapus di bawa angin malam ini. Pasti kalian bertanya- tanya kenapa aku bisa langsung percaya padanya, itu karena saat kami masih bersekolah bersama Papanya tergolong orang yang tegas. Aku dan Bryan juga pacaran dalam keadaan Backstreet agar keluarga termasuk Papanya tidak mengetahui hubungan kami. Karena saat itu Bryan tidak diizinkan untuk berpacaran sampai lulus kuliah. Mungkin Papanya bersikap demikian karena sempat mengetahui hubungan kami jadi beliau terlihat sangat protektif dalam mendidik Bryan. Karena aku sendiri selalu mengingat kata pepatah yang berucap sepandai- pandainya bangkai tertutupi akan tercium juga.
“Maafin aku, Dis.” Lirihnya lagi.
“Iya, aku sudah memaafkan kamu kok.” Seruku lalu ia melepaskan pelukku dan menatap diriku yang tersenyum ke arahnya.
“Kamu yakin?” tanyanya yang masih tidak percaya.
“Iya, Bryan.” Kataku sambil mengangguk. Ia pun langsung memelukku erat tubuhku karena merasa sangat senang.
“Terima kasih ya, kamu mau datang ke sini untuk menjelaskan ini semua. Hal yang beberapa tahun lalu sempat aku tunggu- tunggu kejelasannya.” Tambahku sambil memeluk membalas peluk hangat dirinya.
“Aku mau kita perbaiki hubungan kita yang sempat rusak ke depannya ya, Dis.” Serunya sambil membela lembut kepalaku. Malam itu di teruskan sambil mengenang beberapa hal yang pernah terjadi diantara kami, termasuk aku juga menceritakan hubunganku dan Gerald yang sudah kandas tersebut. Apakah Bryan yang nantinya akan menggantikan posisi Gerald? Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya ingin menikmati kembali alur hidup ini untuk sesaat.
Tak terasa saat mengobrol dengan Bryan perut kami berdua sangat lapar. Kami pun memutuskan untuk mencari makanan di luar hotel karena acara reuni masih berlangsung dan kami tidak ingin melanjutkan kembali acara tersebut.
Dengan mobil Bryan, ia mengajakku ke sebuah restoran cepat saji favoritku, yaitu Mcd. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum takjub tapi tak sampai di situ, ia juga memesankan menu favoritku. Hingga aku kembali di buat heran.
“Kamu masih ingat semua tentang aku? Sampai detik ini?” tanyaku saat kami berdua sudah duduk berhadapan di meja dekat jendela. Lelaki itu lagi- lagi tersenyum.
“Aku masih ingat semua tentang kamu, setiap detailnya. Kamu bisa saja menanyakan hal yang ingin kamu tahu.” Katanya sambil melahap Burger miliknya.
“Apa kamu masih ingat dengan bunga favoritku?” aku mencoba memberinya satu pertanyaan yang mungkin mudah untuk di jawab.
“Bunga Mawar merah muda.” Jawabnya cepat. Aku sangat tersentuh oleh jawaban itu. Gerald saja bisa salah menebaknya saat mengajakku kembali berkencan kala itu. Aku terdiam dan tanpa sadar air mataku mengalir membasahi pipiku karena rasa haru pada Bryan.
“Apa aku salah?” tanyanya yang khawatir melihatku menangis.
“Nggak apa- apa, aku Cuma terharu sampai detik ini kamu masih ingat.” Jawabku sambil menghapus air mataku dengan tisu.
“Aku kira, aku salah, kamu buat aku khawatir.” Ucapnya sambil membuang nafas lega. Tapi setelah itu ponselku bergetar panjang, ya itu panggilan dari Tania. Pasti ia berusaha menanyakan keberadaanku.
“Siapa?” tanya Bryan cepat.
“Tania, pasti dia khawatir sama aku.” Jawabku.
“Bilang aja kalau acaranya udah selesai suruh pulang duluan, biar aku nanti yang antar kamu.” Suruh Bryan dan aku mengangguk. Aku pun segera menjawab panggilan tersebut sebelum berhenti. Aku menempelkan benda persegi panjang itu di telingaku.
“Hallo, Tan.” Seruku.
“Kami dimana? Acaranya mulai selesai, Dis. Kamu masih sama Bryan?” ia berusaha memburuku dengan sebuah pertanyaan.
“Aku lagi di Mcd sama Bryan soalnya lapar. Kalau kamu mau pulang duluan, Nggak apa- apa nanti aku pulang sama Bryan.” Ucapku seperti yang di suruh oleh Bryan. Lelaki itu mengangguk sembari tersenyum.
“Oh Oke kalau begitu, aku pulang duluan ya, kamu hati- hati nanti pulangnya.” Ucap Tania.
“Kamu mau titip makanan yang ada disini?” tawarku padanya.
“Kamu emang pulang kapan?” tanya Tania lagi.
“Paling sebentar lagi saat makanan aku habis.” Seruku sambil melihat makananku dan Bryan.
“Boleh, pesan sama persis yang kamu pesan ya. Aku tunggu di vila.” Serunya lalu menutup sambungan telefon. Aku meletakkan ponselku dan kembali melanjutkan melahap burger serta teman- temannya. Setelah itu aku memesan kembali pesanan untuk Tania. Lalu aku di antar pulang ke Vila oleh Bryan sesuai dengan janjinya tadi.