Beberapa jam kemudian kami pun sampai di sebuah hotel yang terdapat restoran indoor di sisi gedung hotel tersebut. Beberapa teman- teman sekolah mulai saling menyapa setiap kali aku dan Tania jumpa. Acara reuni kali ini terkesan cukup meriah dan sangat indah di setiap dekorasi tempatnya.
“Gladis.. Tania..” panggil Ajeng yang sedang bersama Silvi, Ratna, dan juga Niko. Mereka berempat terlihat sedang asyik mengobrol sambil menikmati beberapa hidangan sambil berdiri di dekat meja.
Mendengar namaku dan Tania di panggil olehnya kami pun langsung menghampiri mereka.
“Kalian sudah lama di sini?” tanyaku.
“Bukan lama lagi, kan kita menginap di hotel ini juga.” Jawab Ratna yang memang aku sendiri tidak mengetahuinya. Malam ini sepertinya di buka dengan keberadaan sang Dj yang sedang memainkan alat Djnya.
“Oh ya, Dis. Cowok yang di Cafe waktu itu yang kamu bilang tunangan kamu ya?” tebak Silvi saat kembali membuka obrolan. Aku dan Tania saling menatap lalu tersenyum.
“Bukan itu Cuma sebatas partner kerja saja kok.” Jawabku sambil sedikit berteriak karena suara musik mengalahkan suaraku.
“Terus mana Tunangan kamu sekarang?” tanya Ajeng yang kelihatan penasaran.
“Udah ke laut..” jawabku asal sambil tertawa. Aku tak ingin malam ini aku lewat dengan bersedih mengingat Gerald atau rasa kesalku mengingat Arya. Tak lama musik pun berganti menjadi lebih pelan dan dan terkesan romantis. Sehingga beberapa dari mereka mulai berdansa di depan panggung. Termasuk semua sahabat- sahabatku tersebut, hingga meninggalkan aku yang masih asyik tertawa melihat tarian dansa mereka yang nyeleneh itu.
Senang rasanya malam ini, aku bisa kembali berkumpul dan bercanda tawa bersama sahabat dan teman- teman sekolahku. Serasa kami seperti sedang mengenang, kenangan saat masih bersekolah bersama. Hingga aku kembali teringat dengan satu nama yang memang pernah mengisi cerita cintaku tapi sayang sejak lulus sekolah kami mengakhiri hubungan kami dan tidak saling bertemu walau sebatas berkomunikasi. Sejujurnya saat itu aku tak tahu tentang kebenaran hubungan kami yang berakhir dengan begitu saja, karena saat itu dia pergi tanpa kata dan sebuah kepastian. Hingga membuat aku menunggunya lama dan tak mampu membuka hati untuk laki- laki lain. Sampai akhirnya hanya Gerald yang mampu mendobrak dinding hatiku yang telah lama mengeras itu. Sebenarnya dalam hatiku sampai saat ini masih ada tanya kenapa ia pergi tanpa ketidakpastian hubungan kami. Dan alasan kenapa ia memilih pergi begitu saja.
“Mau dansa sama aku?” ajak seseorang saat aku tengah melamunkan mantan pacarku itu.
“Maaf aku nggak bis..” ucapku terpotong saat kudapati sosok dia yang baru saja aku lamunkan. Dia adalah Bryan Gibran mantan pacarku semakin kami bersekolah bersama. Aku terkejut saat lelaki itu ada dihadapkanku untuk pertama kalinya di hadapanku. Aku yakin sekali, aku tidak sedang bermimpi atau sedang berkhayal dia ada di sini.
“Hai, Dis. Apa kabar?” tanyanya dengan senyum khasnya yang manis. Senyum yang membuat setiap orang terutama kaum hawa meleleh di buatnya.
“H.. Ha.. Hai Bryan.” Ucapku yang gugup masih tidak percaya dengan kehadirannya di acara reuni ini.
“Mau dansa sama aku?” sambil mengulurkan tangannya. Aku yang sedari tadi tak berkedip melihatnya tanpa sedari meraih tangannya. Aku langsung di bawa ke depan panggung lalu mulai berdansa begitu saja. Seakan ingatanku kembali ke masa itu, saat malam acara perpisahan sekolah. Sama persis, malam itu kami berdansa di dalam sebuah aula sekolah dengan musik yang sama. Yang berbeda kali ini hanyalah aku dan dia berdansa di bawah sinar bulan dan banyaknya taburan bintang dilangit.
Kami berdua masih saling menatap satu sama lain. Ia masih sama seperti beberapa tahun lalu. Lebih tinggi dariku, tampan dan juga selalu manis. Kaki serta tubuh kami terus menarik begitu saja mengikuti alunan musik.
“Kamu masih cantik, Dis. Seperti dulu.” Pujinya yang membuat aku tersenyum malu. Begitulah dia, selalu memujiku dengan rayuan gombalnya tak pernah berubah.
“Terima kasih. Kamu juga masih manis dan setampan dulu.” Aku berterima kasih sekaligus memujinya balik. Musik pun terhenti, dan kami pun juga ikut berhenti menarik namun tanpa sadar orang- orang bertepuk tangan sambil melihat kami berdua yang masih saling menempelkan tangan di tubuh masing- masing. Seketika aku dan dia langsung melepaskan diri satu sama lain. Karena malu banyak yang melihat kami tadi, aku berlari meninggalkannya untuk mengambil segelas minuman.
Aku meneguk segelas air jeruk secara perlahan lalu meletakan gelas itu kembali ke meja.
“Dis..” panggil Tania yang menghampiriku bersama teman- teman yang lain.
“Itu Bryan kan?” tanya Tania yang sama denganku tidak percaya akan kehadirannya.
“Iya..” jawabku singkat.
“Cie bisa.. Bisa CLBK nih.” Ledek Ratna.
“Apa sih? Malu tahu..” ucapku sambil tersipu malu. Aku sendiri masih merasakan detak jantungku tadi yang masih terpacu dengan cepat saat kami berdekatan seperti tadi.
“Yah Niko, kamu nggak ada kesempatan lagi dong buat dekati Gladis.” Celetuk Ajeng yang membuat Niko terlihat memerah. Sebenarnya aku tahu dari dulu Niko, menyukaiku. Aku mengetahuinya dari perhatiannya yang berbeda padaku dan hal itu semakin kuat saat Silvi memberikan tahukan sebuah surat yang sempat Niko sembunyikan dari kami. Namun saat itu aku mengabaikannya karena aku saat itu sudah bersama Bryan dan aku hanya menganggapnya tak lebih dari sahabat.
“Apa sih? Jangan bikin gosip deh, jeng.” Ucap Niko yang terdengar sangat kesal. Aku hanya bisa tersenyum.
“Eh.. Eh itu Bryan mau ke sini, gengs.” Seru Silvi yang melihat Bryan sedang berjalan menghampiri kami.
“Hai semua, apa kabar?” ucapnya saat sudah berada di tengah- tengah kami.
“Baik..” jawab Ratna sambil tersenyum.
“Tumben kamu bisa ikut acara reuni, Bryan?” tanya Tania penasaran.
“Eh iya benar, kan selama ini katanya kamu sibuk terus.” Tambah Ajeng. Lelaki itu tersenyum.
“Maaf ya, soalnya aku lagi sibuk urus bisnis Papa dan harus bolak- balik pindah keluar negeri jadinya baru sempat kesini.” Jawabnya yang membuat kami berdecak kagum. Selain tampan lelaki ini juga semakin sukses.
“Oh ya, kalau boleh aku pinjam Gladis sebentar bisa?” ijinnya pada teman- temanku.
“Nih, bawa aja nggak apa- apa.” Ucap Tania sambil mendorong tubuhku untuk mendekati Bryan. Tapi kakiku menyandung sesuatu hingga ia refleks memelukku. Lagi, lagi mata kami saling bertemu, serta jantungku kembali berdetak kencang.
“Ehem, Dis. Maaf ya tadi nggak sengaja.” Seru Tania meminta maaf dan aku langsung melepaskan diri darinya.
“Iya nggak apa- apa kok, Tan.” Kataku.
“Oh ya terima kasih ya, Bryan.” Ucapku padanya yang sedikit grogi.
“Jadi kamu mau kan ikut aku sebentar?” ajaknya sambil mengulurkan tangannya kembali. Aku melihat satu per satu wajah teman- temanku yang saling mengangguk dengan senyuman mereka kecuali Niko yang mendadak pergi meninggalkan kami.
“Baiklah..” jawabku sambil menerima uluran tangannya lalu mengikutinya meninggalkan mereka. Tapi sebelum aku benar- benar pergi aku sempat melambaikan tangan kepada teman- temanku.