Rasa Khawatir

1007 Kata
Aku berusaha untuk bersikap normal seolah tidak terjadi apa- apa karena kejadian ini akan sangat memalukan jika banyak orang yang tahu. Untuk saat ini cukup untukku Dan Arya saja. Sesampainya di dalam mobil, aku langsung segera pergi dari Cafe dan setelah menemukan tempat yang sepi. Aku menghentikan laju mobilku dan mematikan mesin mobilku. Aku memukul- mukul setir mobilku dan meletakkan kepalaku di atas kedua tanganku yang sudah terlebih dahulu bersandar di setir mobil. Aku menumpahkan tangisku sesekali diiringi dengan sebuah teriakan beberapa kali hingga merasa puas. Saat aku ingin Gerald berada bersamaku, mengapa Arya yang malah ada denganku serta memaksaku untuk mencintainya. Aku selama ini berusaha untuk akrab dengannya hanya sebatas teman tapi ia salah mengartikan semua ini. Tapi itu bukan sepenuhnya salah Arya melainkan salahku juga yang dari awal tidak bisa memberinya ketegasan. Walau selalu berpura- pura untuk merasa tidak peka dengan segala perhatiannya. “Bodoh!! Bodoh!!” teriakku. Beberapa menit saat aku merasa tenang, aku mengambil sebotol air minum yang memang selalu tersedia di mobil. Aku menenggaknya hingga benar- benar habis. Lalu setelah itu, aku memutuskan untuk segera pulang. “Dis, kamu kemana aja sih?” tanya Tania saat aku baru saja masuk ke dalam Vila. Gadis itu sepertinya terlihat baru selesai mandi, karena handuknya masih menempel di kepala. “Kenapa emangnya?” aku bertanya bingung karena aku tidak pulang terlalu telat. “Ponsel kamu mati ya?” bukan menjawab malah Tania melemparkanku dengan sebuah pertanyaan. “Iya mati, mungkin daya baterainya habis.” Aku mengiyakannya karena memang saat pulang tadi dari Cafe ponsel sengaja aku matikan. “Oh begitu, soalnya Arya tadi telefon aku dengan nada cemas, kalian ada apa? Habis bertengkar?” tanya Tania lagi yang begitu penasaran. “Oh nggak kok, paling dia mau tanya soal urusan Cafe yang aku bilang tadi benar apa nggak? Tapi aku masih pikirkan. Dan soal cemas mungkin karena ponsel aku mati dan nggak bisa dihubungi. Dipikir aku ada apa- apa kali.” Aku berusaha menjelaskan sedetail mungkin agar Tania tak menaruh curigai padaku. “Yakin? Kok perasaan aku bilang ada yang lain ya?” Tania berusaha meyakinkan kembali. Ternyata Tania sanggatlah peka dalam hal ini sampai ia masih tidak percaya dengan ucapanku tadi. “Iya benar kok, lagian udah ah. Aku mau mandi terus siap- siap buat berangkat reuni. Lagian kamu juga harus berangkatkan?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan saat melihat jam di dinding semakin memburu waktu. “Oh iya, ya sudah kamu mandi dulu sana. Aku mau lanjut dandan lagi.” Katanya yang teringat kembali dengan rutinitasnya lagi. Ya, akhirnya aku berhasil mengalihkan perhatian Tania. Sesampainya di dalam kamar mandi aku menyalakan ponselku dan mengirimi pesan singkat untuk Arya walau ada banyak panggilan serta banyaknya pesan. Aku memutuskan untuk mengabaikannya. “Arya, jangan ceritakan kejadian hari ini kepada Tania. Besok malam akan kita selesaikan semua urusan kita.” Tulisku pada pesan tersebut. “Dan satu hal lagi, jangan berusaha menghubungiku saat ini karena malam ini aku akan sangat sibuk dengan acara reuni sekolahku.” Aku kembali mengiriminya sebuah pesan agar dia tidak menggangguku. Aku ingin hal ini tidak mengganggu moodku dan juga aku butuh berpikir jernih untuk sebuah keputusan yang akan aku ambil nantinya. Setelah itu aku mematikan ponselku dan mengisi daya ponsel yang memang sudah terbilang energinya sangat cukup tiris. Aku pun juga, tak lupa untuk mengambil handuk dan pakaian yang memang belum aku ambil tadi. Lalu buru- buru kembali masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku selesai mandi, ini sangat menyegarkan kembali tubuhnya. Aku mengambil alih meja rias yang tadi di gunakan Tania yang hampir selesai. “Dis, nanti kita mau berangkat pakai mobil atau taksi?” tanya Tania. “Terserah kamu aja, aku sih milih pakai taksi soalnya agak capek buat menyetir.” Jawabku yang memang merasa cukup lelah. “Tapi sayang kalau punya mobil pakai taksi ya. Aku aja deh yang menyetir nanti walau sebenarnya agak sedikit malas.” Jawabnya yang membuatku tertawa hingga gadis itu terlihat bingung saat aku tertawa. “Kamu kenapa?” tanyanya cepat. “Oh enggak, aku lucu aja sama kamu tadi tanya terus pas aku jawab kamu malah ikutan tanya. Kalau begitu ngapain tadi repot tanya- tanya segala.. Haha.” Jelasku masih sambil tertawa. Dan ia pun ikut tertawa dengan kekonyolan yang tanpa sengaja ia buat. “Oh iya, ya haduh maaf ya, Dis. Aku begini efek rindu sama Kakakmu yang belakang jarang komunikasi.” Jelasnya yang terdengar sedikit berputus asa. “Masa? Aku juga lupa sih kapan telefon dia tapi mungkin memang lagi sibuk kali. Apalagi menjelang akhir bulan ini yang banyak banget tanggal merahnya. Harus ada yang di kebut kali di kantor.” Seruku yang menjelaskan padanya kalau memang keadaan kantor pasti begitu, apalagi kan dulu aku juga pernah bekerja di sana sebagai karyawan Papa. “Oh begitu, syukurlah aku pikir dia mulai bosan atau ada yang lain.” Serunya sambil menghela nafas panjang sesudahnya. “Tapi memang ada hal lain sih yang kalau kumat Kak Dimas sering lupa sama kamu, Tan.” Aku berusaha menjahili sahabatku tersebut dengan sebuah ungkapan yang terdengar cukup membuatnya penasaran. “Apa?” tanya cepat dan sedikit cemas. “Kamera..” jawabku yang membuatnya kesal. “Huh.. Aku pikir apaan.” Serunya yang tenang mendengar jawabku. “Kamu jangan setenang itu loh, Tan. Kebanyakan mantan Kak Dimas selalu di nomor duakan sama hobinya itu.” Jelasku. “Kalau soal itu aku nggak masalah, Dis soalnya dia sendiri udah cerita sebelum kita resmi pacaran dan aku sih nggak masalah asal bisa bagi waktunya.” Jelas Tania yang tampak tenang saat tahu masalah terbesar dalam hubungan mereka nantinya. Aku pun bisa bernafas lega saat mengetahui hal yang memang kebanyakan mantan- mantan kakakku ini selalu perdebatkan. “Syukur deh kalau kakak aku dan sahabat aku dapat orang yang cocok buat pendamping hidup kalian. Aku senang dengarnya tapi kamu jangan terlalu over thinking soal Kak Dimas ya.” Pintaku pada Tania dan di jawab anggukan olehnya. “Pasti, Dis. Dan semoga calon adik ipar sekaligus sahabat terbaik aku juga dapat hal yang sama. Yang lebih baik kalau perlu dari sebelumnya.” Ucapnya yang terdengar menyemangati. Kami pun saling berpelukan untuk beberapa menit dan saling tersenyum karena bahagia. Lalu kembali bersiap untuk segera berangkat ke acara reuni yang akan mulai beberapa jam lagi. Karena tempat yang kami tuju nantinya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, aku Dan Tania memutuskan untuk berangkat lebih awal agar tidak terjebak macet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN