Ada Apa Dengannya?

1045 Kata
Sesaat aku melamun, tenggelam dalam lautan penasaran dan pertanyaan yang kubuat sendiri. Aku juga bingung kenapa aku masih tetap saja penasaran dengannya, padahal belum tentu lelaki itu melakukan hal yang sama sepertiku saat ini. Tapi dalam hatiku kecilku masih berharap ia segera mengingat tentang hubungan kami. “Dis..” panggil Tania pelan sambil memelukku dari samping kananku. “Sebenarnya orang tua kamu, termasuk Kak Dimas melarang aku buat menceritakan apa yang aku tahu tentang Gerald sama kamu tapi aku rasa kamu berhak tahu soal ini karena aku yakin walau sekuat apa pun kamu nggak bahas soal Gerald beberapa minggu ini tetap aja dalam hati kamu masih belum bisa lupakan dia kan.” Tania sepertinya lebih mengerti perasaanku saat ini walau beberapa kali aku juga beberapa kali aku berusaha membohongi diriku sendiri kalau aku bisa melupakan lelaki itu. Tapi aku juga sadar kenapa keluargaku berusaha menyembunyikan hal ini. Pasti ini semua demi kebaikanku. “Terima kasih ya, Tan. Aku janji nggak akan membicarakan Gerald di depan keluargaku.” Aku senang sekali bisa mendapatkan kabar tentang dia. “Aku sih, merasa Gerald merasa kehilangan sesuatu yang selama ini selalu bersama dengannya tapi dia masih ragu kalau hal itu adalah kamu, Dis.” Tambah Tania yang membuatku berpikir kalau harapan itu masih ada. “Tapi kamu jangan terlalu berharap banyak ya, Dis.” Aku menoleh ke arahnya bingung kenapa tadi ia seakan meninggikanku ke langit lalu menjatuhkannya secepat itu. “Dia masih sama Marissa dan kabarnya bakalan melanjutkan ke pelaminan beberapa bulan ke depan.” Tambah Tania cepat sebelum aku memberinya pertanyaan yang memang sudah di jawab olehnya. “Oh, soal itu aku tahu kok, Tan kan beberapa minggu lalu Gerald sempat posting foto tunangan mereka tapi pas aku tahu begitu ya aku blokir aja semua sosial medianya.” Seru yang berusaha tenang, agar Tania tidak merasa bersalah karena telah memberikan harapan yang sempat ia patahkan itu. Bagiku Tania sudah menceritakan hal ini saja itu sudah menyenangkan untukku. “Ya udahlah jangan dibahas lagi soalnya aku capek ditambah mata tinggal lima watt.” Seruku sambil bercanda karena memang aku lelah sangat lelah. Lelah dengan ketidakpastian tentang Gerald yang memang seharusnya tidak aku pedulikan lagi. Malam itu aku tutup dengan kembali mengubur dalam kenanganku dengan Gerald secara paksa lagi dan lagi. # # # Esok hari, seperti biasa aku kembali bekerja mengurus beberapa urusan tentang Cafe termasuk ikut terjun langsung melayani beberapa pengunjung. Walau beberapa fokusku kembali terbagi dengan ucapan Tania tentang Gerald. Aku ingin sekali mendengar bahkan melihatnya kali ini saja. Aku ingin memeluknya lagi, aku ingin menyandarkan lelahku kepadanya. “Bu..” panggil Ardi saat aku sedang membuat pesanan minuman. “Iya, kenapa?” “Itu, Bu..” ucapnya sambil menunjuk. Astaga aku membuat meja bar minuman banjir karena tak sadar hampir menuangkan semua air yang berada di dalam teko. Aku segera mencari lap untuk membersihkan area tersebut dan meminta karyawan lain untuk membuatkan minuman tersebut. Setelah selesai aku pamit untuk beristirahat sejenak di ruang kerjaku. Aku menundukkan kepalaku di kedua tanganku yang saling menumpuk di atas meja. Aku menangis sejadi- jadinya tanpa suara. Aku berteriak dalam hatiku agar tak terdengar oleh orang lain. Haruskah cinta seperih ini? Tidak bisakah aku melupakannya secepat aku mencintainya? “Kamu harus ikhlas, Dis. Untuk kebahagiaan Gerald!!” teriakku dalam hati. “Dis..” Panggil Arya yang entah kapan ia sudah berada di dalam ruangan ini tanpa aku ketahui. Aku bangkit dan menghapus setiap air mata yang telah tumpah itu. “Kamu kenapa?” tanyanya yang terlihat cemas. “Nggak apa- apa, Cuma bawaan Pms.” Dustaku sambil berusaha tersenyum. “Oh, aku kira ada apa soalnya..” ia berhenti melanjutkan ucapannya yang membuatku menunggu. “Kenapa?” “Nggak apa- apa kok, oh ya aku bawa makan siang nih buat kamu.” Ucapnya sambil meletakkan makanan di atas meja. “Arya, kamu nggak perlu serepot ini buat selalu bawakan aku makan, aku bisa sendiri kok.” Jelasku yang merasa perhatian ini terlalu berlebihan. “Tapi ini Cuma sebatas makanan aja kok, tapi kalau kamu memang nggak suka bisa di buang aja.” Seru Arya yang merasa tersinggung dengan ucapanku tadi. “Bukan begitu tapi, oke ini akan aku makan tapi aku mohon besok- besok jangan lagi ya. Soalnya aku nggak mau malah jadi bahan gosip yang nanti malah jadi salah paham.” Tambahku lagi yang membuatnya pergi tiba- tiba tanpa bicara sepatah kata. Sepertinya kali ini ia benar- benar marah denganku. Tapi sudahlah aku tak ingin memberikan harapan palsu kepadanya. Semoga suatu saat nanti ia mengerti dan semoga saja tidak berpengaruh besar dengan pekerjaan. Setengah hari pun berlalu, aku dan Arya tak saling sapa seperti biasanya kecuali kami berbicara seperlunya saja. Hingga timbul beberapa opini kalau aku dan dia sedang bertengkar. Ujian apalagi ini? Kukira Arya akan lebih bersikap dewasa di bandingkan diriku tapi Aaarrrggghhhhtttt !! “Arya, aku pamit pulang lebih awal ya. Maaf nggak bisa nemanin kamu karena harus datang ke acara reuni.” Pamitku saat aku sudah masuk ke dalam ruang kerja. Tapi ia tidak menggubrisnya melainkan ia masih fokus menatap layar laptop miliknya. Aku yang kesal karena di diamkan olehnya tanpa sebab itu pun langsung menghampiri ke meja kerjanya dan menutup layar laptopnya. “Kamu bisa nggak sih kerja secara profesional!!!” kataku kesal lalu ia menatapku sinis hingga membuat nyaliku ciut. “Bisa, kamu mau profesional seperti apa?” katanya yang sekarang lebih galak dibanding aku. Ia beranja dari tempat kerjanya dan menghampiriku. Lelaki itu masih menatap sinis seperti ingin menelanku hidup- hidup. Aku yang takut langsung berlari menuju pintu namun saat hampir mencapai pintu tanganku di tarik olehnya. Ia mengunci ruangan itu lalu menyudutku tepat di tembok yang tak jauh dari pintu. Saat aku bersiap ingin teriak, ia langsung membekap mulutnya. Aku merasa benar- benar takut dengannya saat ini. Ia bukan lagi Arya yang aku kenal, dia berubah. Ia masih menatapku dengan amarahnya. Tapi secara bersamaan ia mendekatkan wajahnya tepat di depanku. Aku yang refleks langsung menampar pipinya keras. Ia pun memegang wajahnya yang mungkin terasa sakit itu. Aku pikir ia akan semakin marah denganku tapi raut wajahnya kini berubah seakan telah sadar dan merasa bersalah. “Kamu keterlaluan, Arya.” Ucapku sambil mendorong badanya menjauh dariku. Lalu berusaha untuk keluar dari ruangan itu. Tapi lagi- lagi tanganku di tarik kembali. “Maafin aku, Dis. Aku khilaf.” Ia berusaha meminta maaf kepadaku terlihat dari raut wajahnya kalau ia benar- benar menyesal. “Kamu mau lepasin tangan aku, atau aku bakalan teriak?” ancamku yang masih takut dengannya. “Iya aku lepas..” ucapnya panik sambil melepaskan tangannya dari tanganku lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Aku pun langsung mengambil kesempatan untuk segera keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN