Keadaan Yang Sepertinya Membaik

1102 Kata
Dua hari sudah aku menuruti apa yang Tante Mayang ucapkan kepadaku untuk kembali menata hidupku. Seperti pola tidurku, makanku bahkan perlahan aku kembali mengerjakan tugasku sebagai pemilik cafe dan seorang karyawan di kantor ayahku. Siang ini aku berdiri di jendela kantor sambil menatap beberapa gedung yang menjulang tinggi dan tak berarturan tingginya satu sama lain itu. Dengan kedua tangan yang saling menyilang di d**a, dan kepala menyender di jendela. Aku rindu Gerald. Walau dua hari ini aku tidak menemuinya, aku selalu berusaha untuk mengiriminya pesan singkat yang berisi beberapa perhatian kecil dan beberapa kegiatanku setiap harinya dari membuka mata hingga menutup mata. Walau aku tahu kalau pesanku tak mungkin di balas ataupun sekedar di baca olehnya. Beberapa kali juga aku mengirimkan beberapa makanan kesukaannya. Yang aku kirimkan lewat aplikasi ojek online. Tak lupa juga selama dua hari itu, aku bertukar kabar dengan Tante Mayang untuk mengetahui keadaan Gerald dan apakah wanita bernama Marissa masih menemuinya atau tidak. Tapi beruntungnya keduanya tak saling menemui karena Gerald sudah di larang keluar rumah. Bahkan Tante Mayang menolak mentah- mentah kedatangan Marissa. “Melamun aja..” kata seseorang yang entah kapan ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerjaku. Hingga aku berhenti melamun. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum. Orang itu tak lain adalah kakakku, Kak Dimas. “Kebiasaan deh, masuk nggak ketuk pintu dulu.” Ucapku saat ia menghampiriku dan duduk di sofa panjang berwarna hijau muda. Ia menyilangkan kakinya, menyandarkan badannya dengan tangan menyilangkan kedua tangannya di d**a lalu memejamkan matanya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Memperhatikan setiap lekuk wajah yang sangat dekat denganku dari kami kecil hingga tumbuh sampai saat ini. Orang yang selalu menjagaku. Orang yang jadi tempat curhatku selain Tania. Orang yang selama ini juga selalu menjahiliku. “Jadi kamu kesini Cuma numpang tidur?” ia membuka matanya dan menoleh ke arahku malas. Ada raut lelah di wajahnya. “Kamu nih, numpang merem sebentar juga.” Keluhnya. “Kenapa nggak di ruangan Kakak aja?” tambahku. Ia pun merubah posisi duduknya. “Kamu tahu? Papa bakalan cari aku buat nanyain proposal untuk projek di Bandung. Padahal proposal yang dua hari lalu lagi aku kerjakan.” Gerutunya. “Dis.. Gimana kalau kita tukeran posisi lagi.” Ajaknya yang membuat aku tertawa. “Kok malah Ketawa?” “Iya kamu itu lucu, Kak.” Kataku sambil memegang kedua wajahnya yang membuatnya semakin bingung dengan apa yang ingin aku sampaikan. “Yee.. aku emang lucu kali, Dis.” Katanya yang terdengar sedang memuji dirinya. “Bukan itu..” kataku yang merasa geli mendengar pujian yang terlontar dari kakakku untuk dirinya. Aku menarik tangankuu dari wajahnya. Menyandarkan tubuhku di sofa dan menyilangkan kembali kedua tangan di d**a. “Terus..” “Kamu itu anak tertua dari keluarga Setiawan, anak laki- laki lagi masa mau sih tukeran posisi sama aku anak perempuan dari keluarga Setiawan. Padahal nanti kan ahli waris penuh buat kamu, Kak.” Jelasku. “Aku nggak butuh itu. Lagian aku masih mau bebas kejar semua yang jadi passion aku sesungguhnya, Dis.” Katanya sambil menunduk dengan suara yang terdengar putus asa. “Kamu masih bisa kok, Kak. Kejar apa yang kamu mau itu, aku juga tahu kalau kamu dari dulu hobi banget jadi fotografer tapi kalau kamu bisa bagi waktu dengan benar dan mau dengan senang hati kerjain tugas kamu di sini pasti papa juga bakalan dukung kamu kok. Percaya deh.” Aku menggenggam tangan Kak Dimas hingga membuatnya menoleh. “Mana bisa sih, Dis? Kerjaan aku aja di sini aja udah numpuk banget. Libur aja kadang masih harus kerjain tugas begini. Sejak aku di posisi ini mana sempet aku hunting foto.” “Aku yakin kakak bisa kok, aku bantuin deh.” Kataku yang menawarkan bantuan padanya. “Beneran?” tanyanya penuh harap. “Iya.. tapi sebagai gantinya nanti promosi Cafe aku yang pakai kamera kakak ya.” “Tenang.. tanpa disuruh pasti aku lakukan kok soalnya kan..” ucapnya terputus dan menoleh ke arahku dengan wajah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Soalnya ada apa?” kataku bingung. “Nggak apa- apa kok.” Wajahnya bertambah pucat yang membuatku penasaran. “Kayaknya udah kelamaan aku di sini. Nanti dicariin papa lagi.” Kak Dimas berdiri saat ia selesai melihat jam di tangannya. Terdengar seperti sedang mengalihkan pembicaraan diantara kami berdua. “Yaudah deh..” “Tapi jangan lupa bantuin Kakak ya. Aku ambil dulu dokumennya di ruangan aku.” Tambahnya sebelum ia kembali menutup pintu. “Iya..” teriakku. Ting.. Satu pesan baru saja masuk ke ponselku yag berada di meja. Aku meraihnya. Aku kaget saat melihat satu nama yang selama ini ku harapkan untuk membalas pesanku. Sesuatu yang telah lama aku tunggu- tunggu kembali. Ya Gerald Aditya lelaki yang aku cintai itu mengirimkan sebuah pesan singkat yang membuat jantungku berdegup kencang dan membuat seluruh wajarku memerah hingga tersenyum sendiri. "Dis, bisa kita ketemu hari ini? Itu pun kalau kamu ada waktu. Kalau kamu bisa datang ke rumah aku sekarang ya.” Dengan semangat aku segera beranjak dari sofa menuju meja kerjaku untuk mengambil tas dan kunci mobilku yang berada diatas meja. Tak lupa aku mematikan laptopku yang masih menyala setelah itu aku berjalan menuju pintu untuk keluar. “Dis..” panggil Kak Dimas yang sudah berada di depan pintu membawa sebuah file. “Eh Kak Dimas..” kataku sambil tersenyum. “Mau kemana? Belum jam pulang kan.” Ia melirik jam di tangannya. “Aku ada urusan, Kak. Pulang duluan ya. Nanti tolong bilangin Papa.” Pintaku lagi. “Soal Cafe?” tanyanya lagi. “Bukan.. Ini soal Gerald, Kak.” “Gerald? Kenapa?” “Dia mau ketemu aku, Kak. Oh ya ini filenya ya. Mau di serahin ke papa kapan?” kataku sambil melihat file yang masih dipegang olehnya. “Oh iya, kira- kira besok sih. Bisa nggak?” tanyanya ragu. “Heem oke deh nanti abis pulang dari rumah Gerald aku kerjain ini. Nanti malem kakak kalau udah selesai aku kasih ke kamu ya, Kak.” Jawabku yakin. “Kamu beneran bisa?” tanya lagi untuk meyakinkan. “Iya bisa. Kalau gitu aku pergi sekarang ya. Keburu macet nih.” Pamitku sambil berjalan pergi tanpa menunggu ucapan Kak Dimas selanjutnya. “Iya.. Hati- hati ya.” Teriaknya yang masih terdengar. # # # Sesampainya di pekarangan rumah Gerald, sebelum keluar dari mobil. Aku kembali memoles bibirku dengan lipstik, memakai parfum beraroma floral. Setelah merasa sudah oke aku keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk utama. Aku menekan bel dengan tanganku yang mulai mendingin kaku. Sejak mendapat pesan singkat itu jantungku tak berhenti bedetak dua kali lipat, mulutku tak henti- hentinya tersenyum. “Gladis..” panggil Tante Mayang yang seakan kaget akan kehadiranku. Beliau memelukku sesaat lalu mencium kedua pipiku dan aku membalas hal yang sama kepadanya. aku langsung di bawa masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah. “Mama senang lihat kamu seperti ini sekarang.” Kata beliau sambil tersenyum bahagia melihat penampilanku yang mungkin sudah terlihat seperti lebih terurus saat ini. Berbeda dengan dua hari lalu yang terlihat lusuh. Kini aku terlihat lebih segar walau sudah seharian bekerja. Mungkin salah satu penyebabnya aura kebahagianku juga terpancar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN