Wanita Pengacau

1084 Kata
Sesampainya di pekarang rumah Gerald, aku menarik nafas dalam dan membuangnya. Lelah karena mencari lelaki itu. Entah apa yang akan aku sampaikan jika aku tidak mendapati lelaki itu di rumahnya. Aku tahu betul bagaimana Tante Mayang yang begitu khatwatir saat ini. Aku mematikan mesin mobilku dan keluar dari mobilku. Dengan langkah yang teramat berat, walau dengan sedikit harap yang aku punya. Aku berjalan masuk membawa tas yang aku genggam di tangan kiri. “Mama Mayang..” panggilku seraya membuka pintu. Wanita parubaya itu menghampiriku dengan raut wajah yang tak bisa ku tebak. Raut wajah itu terlalu datar untukku. “Mama, Ge udah pulang?” tanyaku langsung untuk memastikan. Beliau langsung memelukku erat dan mengelus bahuku pelan. Entah apa yang terjadi, perasaan mendadak menjadi tidak enak. Aku berharap bukan kabar buruk yang aku dapat. “Ada apa, Ma? Apa Gerald udah pulang?’ tanyaku lagi. Beliau melepas peluknya dan memegang erat kedua lenganku. Aku semakin bingung di buatnya. “Kamu harus lebih kuat sekarang ya, sayang.” Tambah beliau lagi. “Kuat? Untuk hal apalagi? Apa yang sedang trejadi? Hal buruk apalagi selanjutnya?” tanyaku dalam hati yang membuat pikiran dan hatiku saling beradu. Aku sesaat terdiam lalu berlalri masuk ke dalam menuju kamar Gerald. Namun baru beberapa langkah aku menginjak anak tangga, sosok yang sedang aku khawatirkan kehadirannya muncul begitu saja dengan rambut basahnya. Terlihat ia baru saja selesai mandi. Ia juga terlihat sehat wal afiat. “Loh kenapa kamu kesini?” tanyanya yang kaget dengan kehadiranku. Ia berjalan menuruni anak tangga dan melewatiku begitu saja dengan acuh. Ia berjalan ke ruang tengah rumah ini. Di sana terlihat seorang wanita cantik, mengenakan dress berwarna merah setinggi lutut. Wanita itu tersenyum ke arahku. Aku seperti tidak asing dengan wajah itu. Aku berusaha mengingatnya. “Dis..” panggil Tante Mayang yang menghampiriku. “Siapa dia,Ma?” tanyaku. Namun belum sempat di jawab oleh Tante Mayang. Gerald duduk di sampingnya, merangkul serta mengecup pipi wanita itu. Mereka berdua terlihat mesra layaknya sepasang kekasih. Hatiku hancur, emosiku tiba- tiba saja meledak bagaikan bom. Aku langsung berjalan menghampiri keduanya. Aku melayangkan tanganku ke pipi Gerald yang kala itu masih asik bercanda gurau dengan wanita itu. “Praaakk..” sebuah tamparan yang tak pernah aku berikan padanya selama kami bersama. Mungkin kami dulu sering bertengkar tapi entah aku tak pernah semarah ini kepadanya. kalau pun aku harus marah hanya sebatas berkata banyak hal dan mendiamkannya selama berhari- hari. “Beraninya kamu tampar aku!” katanya dengan nada marah sambil memegang pipinya. “Siapa cewek itu??” kataku sambil nunjuk wanita itu dengan jari telunjukku. Wanita itu menyingkirkan tanganku dari hadapannya. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapanku sambil tersenyum. “Aku pacarnya, Gerald.” Kata wanita itu yang terdengar lantang. “Kamu lihat ini?” tanyaku padanya sambil menunjukkan sebuah cincin emas yang berada dijari manis tangan kananku. Ya ini cincin tunangan kami yang selalu aku kenakan setelah acara pertunangan kami beberapa bulan lalu. “Ini cincin tunangan aku sama Gerald. Dan ini juga masih di pakai sama dia.” Kataku sambil mencari cincin yang sama di tangan kanan Gerald yang belum ia lepas sampai saat ini. Aku menarik tangan itu dan menujuknya. Mereka berdua tersentak kaget. “Apa- apaan ini, sayang?” tanya wanita itu kepada Gerald. Wanita itu terlihat sangat malu dengan yang baru saja terjadi. Wanita itu mengambil tasnya lalu di susul oleh Gerald. Aku menarik tangan lelaki itu sebelum ia benar- benar mengejar wanita tadi. Tapi ia melepaskan tanganku kasar. “Ini semua gara- gara kamu!!” katanya dengan nada meninggi. “Tapi aku memang tunangan kamu,Ge bukan wanita itu.” Kataku yang tak mau kalah. “Aku tuh nggak inget kamu siapa!! Kenapa kamu ada diantara aku dan Marissa? Dan cincin ini..” ia melepas cincin itu dan menunjukkannya di hadapanku. “Aku nggak tahu kenapa ini ada di aku.” Tambahnya lagi. “Kamu Cuma belum inget aku, hubungan kita dan semua kenangan tentang kita, Ge.” Lirihku yag diiringi tangis yang mulai pecah. “Beberapa bulan lalu sebelum kamu kecelakaan dan koma, kamu minta aku buat jadi tunangan kamu dan ajak aku nikah harusnya dua bulan lagi kita nikah, Ge.” Tambahku. Lelaki itu terdiam, sepertinya ia berusaha mengingat kembali apa yang sudah aku katakan. Tapi tak lama ia memegang kepalanya dan merasakan kesakitan hingga membuat tubuhnya ambruk ke lantai. Aku dan Tante Mayang segera mendekatinya. “Jangan dekat- dekat aku!!” katanya padaku. “Ge, jangan begitu sama Gladis.” Kata Tante Mayang. “Aku nggak butuh dia, Ma. Tolong kepala aku makin sakit.” pinta yang membuat diriku menjauhinya. Badanku lemas baru kali ini ia menolak diriku untuk membantunya. “Bi.. Bi.. tolong saya.” Teriak Tante Mayang kepada sang pembantu. Mendengar namanya panggil sang bibi langsung menghampiri. Keduanya membopong Gerald ke kamarnya. Aku masih terduduk dilantai merasakan setiap nyeri karena melihat orang yang disayangi tengah merasakan kesakitan karena diriku. Merasakan bagaimana rasanya di tolak mentah- metah saat aku berusaha membantunya. Selang lima belas menit, Tante Mayang menghampiriku duduk di sofa dengan raut wajah khawatir. Khawatir dengan kondisi lelaki yang aku cintai, lelaki yang masih berstatus calon tunanganku itu. Beliau duduk di sampingku, menggenggam erat tanganku dan mengangkat wajahku yang kala itu sedang tertunduk. “Gerald, nggak apa- apa kok sayang.” Kata beliau sambil tersenyum. Aku langsung memeluknya. “Maafin aku ya, Ma.” Kataku. Beliau mengusap lembut punggungku. “Nggak apa- apa kok, Sayang. Malah Mama yang minta maaf sama kamu karena sikap Gerald.” Beliau melepaskan pelukku dan menyapu beberapa rambut yang menutupi wajahku. “Nggak, Ma..” “Kamu masih mau berjuang untuk, Ge?” tanya Tante Mayang. “Masih, Ma.” “Kalau begitu, kamu harus lebih sabar lagi. Mama bakalan selalu dukung hubungan kalian. Marissa itu mantan Gerald yang pernah ninggalin Ge sebelum ketemu sama kamu. Sejak putus dari Rissa, Ge susah bukan hati apalagi buat ke jenjang serius. Tapi saat ketemu kamu Ge, jadi semangat lagi dan buat Mama selalu bersyukur kalau dia menikah sama kamu. Tapi ujian cinta kalian harus sesulit ini.” Tante Mayang menjelaskan tentang Marissa yang memang pernah aku dengar ceritanya dari Gerald sebelumnya. Pantas saja sosok itu tak asing saat sekilas wajahnya berhadapan denganku tadi. “Iya Tante, Pasti aku bakalan perjuangi hubungan aku sama dia.” Seru yang seperti baru saja mendapat sebuah siram air kepada bunga yang hampir saja layu. Siraman semangat dan dukungan dari Tante Mayang, Calon Mertuaku sekaligus Mama kedua bagiku. “Tapi Mama selalu minta kamu harus selalu minta sama kamu, buat selalu perhatiin kesehatan kamu. Jangan terlalu sibuk mengurus Gerald. Coba kamu lihat sekarang kamu sudah semakin kurus dan kelihatan pucat.” Tambah beliau yang terlihat khawatir kepadaku. “Sekarang kamu pulang ya, untuk beberapa saat ini lebih baik kamu istirahat dan kembali menata pola makan kamu. Biar Gerald, Mama yang urus.” Pinta beliau dengan penuh harap. Dengan berat hati aku menyiakannya agar beliau tidak menghawatirkanku lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN