Gerald Menghilang

1064 Kata
Setelah berpisah dengan Gerald, aku kembali masuk ke mobilku. Ada rasa kesal, marah, serta kecewa di dalam hatiku yang saling beradu dengan sikap lelaki itu. Aku meletakkan kedua tanganku saling menyilang di atas Stir. Membenam wajahku di kedua tanganku, air mataku tumpah karena rasa sesak itu semakin menusuk. Yang aku tahu, aku hanya ingin menangis. Meluapkan semua rasa yang aku rasakan saat ini. Ingin rasanya aku berteriak sekencang- kencangnya tapi itu tak mungkin kulakukan karena bisa saja aku dianggap tidak waras oleh orang- orang yang tanpa sadar mendengarnya nanti. Saat ini aku membencinya tapi di sisi lain aku berusaha melawannya karena aku kembali mengingat dia yang sedang kehilangan ingatan. Setelah beberapa menit, aku menghentikan tangisku dan menghapus setiap bulir air mata yang membasahi pipiku. Aku lalu menyalakan mesin mobilku dan melaju menyusuri setiap jalan yang ada. Di pikiranku kali ini, aku ini segera bertemu dengan Tania di Cafe. Untuk sejenak melupakan sedikit masalahku bersama Gerald, sekaligus melepas rindu pada sahabatku. Tiga puluh menit sudah akhirnya aku sampai di sebuah gedung yang berdiri selama kurang lebih dua tahun. Aku mematikan mesin mobilku, kembali merapikan rambut serta make up di wajahku. Aku berusaha tersenyum saat wajahku terpantul di cermin. “Semangat, Dis.” Kataku pada bayangan wajahku. Aku meraih tasku dan keluar serta menutup pintu mobilnya kembali. “Siang, Bu Gladis.” Sapa lelaki paruh baya itu yang tak lain Pak Anton. Beliau tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya ke arahku. “Siang, Pak.” Jawabku singkat sambil tersenyum ke arahnya. Aku merapikan pakaianku. “Ibu Gladis, apa kabar? Bagaimana kabar Pak Gerald?” tanya beliau lagi. Pasalnya sejak kecelakaan di seberang jalan itu, ini pertama kaliku untuk kembali menginjakkan kakiku di Cafe ini. Dan bertemu kembali dengan Pak Anton beserta yang lainnya. “Kabar kami berdua baik, Pak. Walau Pak Ge, saat ini masih dalam pemulihan untuk kembali mengingat saya.” Jawabku. Beliau terdiam entah kaget baru mendengar kabar ini atau hal lain. Aku menoleh ke seberang jalan. Tiba- tiba Pikiranku kembali melayang tepat tiga bulan lalu. Hatiku masih terasa nyeri mengingatnya. “Gladis..” Panggilnya Tania yang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya yang sudah berlari ke arahku sambil tersenyum lebar. “Kangen, Dis.” Katanya saat sudah sampai di hadapanku sambil memelukku erat. Aku pun yang merasakan kehangatan sikapnya langsung membalas peluknya. “Aku juga kangen banget sama kamu.” Tambahku padanya. Ia melepaskan peluknya dan masih tersenyum lebar ke arahku. “Ya udah yuk masuk.” Ajak Tania menarik tanganku. “Bu Gladis..” panggil Pak Anton. “Iya, Pak.” “Semoga Pak Gerald cepat sembuh ya, Bu.” Katanya lagi sambil tersenyum. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan kembali mengikuti Tania. Suasana saat itu belum cukup ramai masih ada beberapa meja yang terisi. Kami duduk di meja dekat jendela sambil menikmati makanan serta beberapa camilan seperti biasanya. “Jadi apa Gerald ada perkembangan?” tanya Tania membuka obrolan di antara kami. Namun aku jawab dengan menggelengkan kepala. Ia membuang nafas kasar. Seakan ia merasakan lelah yang sama seperti apa yang aku rasakan. Aku kembali menyedot minumanku dan kembali menggigiti ujung sedotan berbahan plastik itu. “Kamu masih belum makan tepat waktu ya, Dis?” tanya Tania lagi. Aku menghentikan menggigit sedotan dan tersenyum ke arahnya seakan mengiyakan ucapannya. “Gerald udah sadar, Dis. Udah jadi enggak semua kebutuhannya kamu yang penuhi lagian dia juga udah besar.” Tambah Tania yang terlihat semakin khawatir dengan keadaanku. Jujur saja sejak Gerald koma ataupun sadar semuanya berubah. Bukan seperti aku yang dulu, aku yang selalu doyan makan bahkan menghabiskan berpuluh- puluh camilan setiap bulannya. Mengurus seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti wanita lain pada umumnya. Walau tidak terlalu rutin tapi setidaknya bukan seperti aku yang sekarang. Lebih terlihat lusuh, hanya menggunakan Lip Balm dan sedikit polesan bedak yang asal menempel pada wajahku. Pakaian yang biasa kukenakan hari ini tak terlihat semodis dahulu. Aku hanya menggunakan kaos polos berwarna putih lalu di lapisi jaket yang berwarna senada dan sepatu kets berwarna hitam. Mungkin penampilanku ini juga yang membuat Gerald tidak tertarik padaku. “Dis..” “Heemm..” “Apa ada kemajuan dari Gerald yang mulai mengenal tentang kamu?” Tanya Tania. Dan lagi- lagi aku hanya menggeleng untuk menjawabnya. Perlahan air mataku kembali tumpah mengingat kejadian di rumah sakit. “Dis, kamu kenapa?” Tanya Tania yang mulai khawatir hingga orang- orang di sekitar kami tampak memperhatikan kami. Tania duduk disebelah-Ku, merangkul dan menepuk bahuku pelan. Ingin rasanya aku menceritakan semua yang terjadi tapi aku takut, takut kalau nantinya ia menyuruhku berhenti lagi. Dering panjang dari ponselku, membuat aku sejenak menghentikan tangisku. Mama mayang tertera di layar ponselku, aku menoleh ke arah Tania. “Angkat dulu, Dis.” Katanya sambil memberikan beberapa helai tisu kepadaku untuk menghapus beberapa bulir air mataku yang sempat membasahi pipiku. Aku sempat berdehem dan mengatur nafasku sebelum akhirnya menjawab panggilan dari beliau. “Halo, Ma.” “Kalian di mana, Dis?” tanya beliau yang sontak saja membuat diriku kaget dan khawatir ke mana sosok Gerald berada. “Aku di Cafe, Ma. Tadi Gerald minta pisah sama aku sehabis Check- Up.” Jelasku yang membuat beliau terdiam sesaat. “Kamu tahu dia ke mana?” tanya beliau lagi. “Enggak tahu, Ma. Dia enggak bilang apa- apa sama aku. Tapi nanti aku coba cari dia ya.” Kataku lagi dan beliau menutup panggilan itu. Aku berusaha mencari kontak Gerald dan menghubunginya beberapa kali, namun tak di jawab olehnya. “Kenapa, Dis?” tanya Tania. “Aku harus pergi sekarang cari, Gerald. Dia belum pulang.” Jawabku seraya mengambil tasku di meja lalu pergi meninggalkan Tania. “Dis.. Dis..” panggil Tania sambil mengejar langkahku. “Ada apa, Tan?” tanyaku saat membuka pintu mobil. “Hati- hati ya.” Katanya sambil menggenggam tanganku. Aku pun langsung memeluknya erat. Ia membalas pelukanku dan kembali menepuk bahuku hingga membuat diriku terasa menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Aku pergi ya. Kapan- kapan kita ketemu lagi.” Aku melepaskan pelukku dan tersenyum. “Iya, Dis. Kalau capek istirahat ya.” Tambah Tania lagi hingga akhirnya aku benar- benar masuk ke dalam mobilku dan pergi. Sejujurnya aku bingung mau pergi ke mana karena aku sendiri tidak tahu persis di mana lelaki itu berada saat ini. Apalagi kota ini besar dan luas. Mungkin aku akan mulai mencari dari mulai tempat- tempat yang biasa aku dan dia datangi. Lalu aku akan berusaha menghubungi kontak sahabat bahkan kerabat dekatnya. Satu jam pun akhirnya berlalu namun tak kutemui sosok lelaki itu. Lapar, lelah dan rasa dahaga kembali menghampiriku. Aku baru sadar kalau perutku belum terisi oleh sedikit makanan hanya air. Baterai ponselku juga habis, hingga aku tak bisa menghubungi Mama Mayang. Akhirnya aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah Gerald berharap lelaki itu sudah kembali pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN