Tidak Ada Kesempatan

1131 Kata
Setelah Gerald terlihat semakin membaik, aku membayar makananku dan meminta maaf kepada manager restoran. Aku merasa sudah membuat kegaduhan yang sangat tidak menguntungkan tempat usaha ini. Marissa? Wanita itu langsung pergi begitu saja saat ia melihat Gerald tanpa sengaja memelukku tadi. Wanita itu sempat marah dan mengomel pada Gerald tapi saat lelaki itu berusaha untuk mengejarnya, ia merasa tak mampu dan akhirnya membiarkan wanita itu pergi. “Kenapa?” tanyaku pada Gerald yang sedang melamun saat aku mendekatinya. Lelaki itu sekilas menoleh dan kembali menunduk. Aku terdiam sambil melirik jam di tangan, sepuluh menit lagi waktu istirahatku berakhir. “Nggak apa- apa. Udah selesai?” tanyanya balik sambil berdiri. Aku mengangguk dan kami berjalan keluar dari tempat itu. Saat kami tepat berada di depan restoran, aku mendapat telepon dari sekertaris papa, Nadia. Aku menjauh diri dari lelaki itu dan menggeser layar ponselku untuk menjawab panggilan. “Hallo, Nad..” kataku pada seseorang disana. “Oh oke, ini lagi dijalan mau balik ke kantor sih.” Jawabku saat Nadia menanyakan keberadaanku karena papa ingin bertemu denganku. Entah apa alasan papa yang tidak menghubungiku langsung. “Yaudah aku segera kesana ya.” Ucapku lagi lalu menutup obrolan kami. “Kamu udah di cariin ya?” tanya Gerald saat aku menghampirinya. Aku hanya tersenyum. “Kamu bisa pulang sendiri?” kataku yang balik bertanya. “Bisa kok. Kalau kamu mau balik ke kantor, aku langsung jalan pulang.” Jawabnya yang membuatku yakin untuk meninggalkannya. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama menghabiskan waktu dengannya. Terlebih saat aku menyelamatkannya tadi sikapnya sedikit melunak padaku. “Mau aku antar ke kantor?” ajaknya yang membuatku kaget hingga menoleh ke arahnya. “Ya, bukan bermaksud apa- apa sih. Cuma mau membalas budi karena kamu nolongin aku aja.” Tambahnya yang merasa tersudut dengan tatapan bahagiaku tadi. “Emm.. nggak usah deh. Lagian kantor deket kok. Gimana kalau di ganti sama makan malem aja.” Pintaku yang ingin menganti hadiah bantuan yang sudah dia berikan. Ada perasaan ragu saat aku meminta itu tapi entahlah lidahku sepertinya lebih enteng untuk berucap. “Aku nggak bisa janji.” Jawabnya yang membuat aku kembali berputus asa. “Oh oke..” jawabku dengan suara merendah. “Heem aku duluan ya, nanti kalau ada apa- apa kabarin ya, Ge. Hati- hati di jalan ya.” Pamitku sambil melambaikan tangan dan berlari pergi untuk kembali ke kantor. # # # “Kamu ini nggak bisa ya diandelin kayak adik kamu! Kamu ini laki- laki yang harusnya jadi seorang pemimpin, Dim!” suara itu yang aku dengar saat membuka pintu ruang kerja Papa secara perlahan. “Tapi, Pa..” ucapan Kak Dimas terpotong saat setengah tubuhku sudah masuk ruangan tersebut. Papa yang menatap diriku tajam dengan penuh amarah. Kak Dimas yang menatapku dengan sebuah tatapan iba. Entah apa yang sedang terjadi diantara mereka tapi aku bisa menebaknya. Aku segera masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Papa melirik jam didinding yang menujukkan kalau aku sudah telat kembali ke kantor sekitar dua puluh menit. “Kamu tahu ini jam berapa?” tanya beliau. Aku menelan salivaku. “Maaf, Pa tadi..” “Kamu kok seenaknya banget sih? Kemarin kamu seenaknya pulang cepet. Sekarang malah telat masuk!” beliau membuang nafas kasar. “Kenapa sih Papa punya anak tapi kalian malah seenaknya begini!!” tambah beliau sambil memegang kepala dan duduk di sofa. Ada rasa frustasi di wajah papa. Aku yang masih mematung di depan pintu berjalan mendekati beliau dan duduk di sampingnya. “Pa.. aku minta maaf ya. Kemarin aku pulang cepet karena mau ketemu Gerald. Dan hari ini Gerald hampir kehilangan nyawanya lagi karena alerginya kambuh, Pa.” Kataku yang berusaha menjelaskan keadaan yang sedang terrjadi dengan wajah menunduk. “Dis, mau alasan apapun kamu tetap salah. Bagaimana kalau karyawan lain mencontoh seperti itu?” kata beliau yang membuat aku tiba- tiba skak dan tidak bisa membela diri. Papa benar, walau aku adalah salah satu anak pemilik perusahaan ini, aku tak bisa melakukan hal seenaknya saja seperti ini. Hal buruk apapun yang aku atau Kak Dimas lakukan akan menjadi contoh buruk untuk mereka di kemudian hari. “Kamu boleh sayang sama Gerald. Kamu boleh perjuangin dia tapi kamu harus bisa menatap kembali hidup kamu termasuk di perusahaan ini. Dan kamu tahu kenapa Papa bawa kamu kesini?” aku mengangkat wajahku dan menatap papa takut. Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya barusan. “File itu..” beliau menujuk file yang berada di atas meja. Aku melirik file itu, file yang kemarin malam aku sudah kerjakan. Entah apa yang salah dengan itu. Aku semakin penasaran dan menatap Kak Dimas. “Ada apa ini?” tanyaku heran. “Papa tahu file ini kamu yang kerjakan kan?” tanya beliau yang membuatku kembali beku. “Papa nggak masalah kalau kamu yang membuatnya tapi kamu tahu? Kak mu ini tidak mempelajari proposal itu hingga saat prensentasi tiba ia kesulitan menjawab pertanyaan dari beberapa klien kita dan hal itu membuat kita kalah untuk mengambil tender besar.” Jelas Papa yang membuat aku kembali kaget dan menatap Kak Dimas lagi. Aku tak percaya kenapa Kak Dimas hanya menerima file itu tanpa mempelajarinya lagi. Dan soal persentasi siang ini pun aku tak mengetahuinya. Ada rasa marah dan kesal dengan apa yang sudah Kak Dimas lakukan. Aku merasa ia tak benar- benar ingin merubah dirinya untuk mengambil kepercayaan Papa. “Aku minta maaf, Pa. Awalnya aku Cuma mau bantu Kak Dimas tapi aku nggak tahu kalau sampai seperti ini.” Jawabku yang merasa malu. “Kali ini Papa maafkan tapi dengan satu syarat..” aku sedikit lega tapi ada rasa khawatir saat Papa memberikan sebuah syarat. Aku menoleh ke arah Papa, penasaran apa yang ingin ia berikan. “Kamu berhenti dari kantor ini dan jangan bantu Kakakmu lagi.” “Papa..” panggil Kak Dimas yang kaget dan terlihat gusar. Mungkin baginya ini akan membuatnya lebih dekat untuk mengubur dalam- dalam mimpinya. Karena aku tak bisa lagi membantunya meringankan pekerjaannya. Sejujurnya aku merasa sudah merusak kepercayaan yang Papa berikan padaku. Aku merasa diusir dari kantor ini. Tapi itu juga karena kesalahanku yang mungkin sudah fatal untuk diterima oleh beliau. “Baik, Pa. Aku nggak akan lagi mencampuri urusan kantor. Aku pamit ke ruanganku sekarang ya.” Pamitku setelah menyetujui syarat yang Papa berikan. Langkahku semakin berat, batinku sedang menangis. Air mataku satu persatu tumpah begitu saja saat aku sudah berbalik badan dan menjauh. Sejak selesai kuliah aku menginjakkan kaki di tempat ini. Selama bertahun- tahun aku mulai mengikuti apa yang Papa mau. Termasuk memenangkan beberapa puluh tender, karena bagiku bahagianya adalah bahagia ku. Tak jarang di dalam hati dan pikiranku, aku menjadi anak kesayangan Papa yang di banggakannya di depan dunia. Namun tak pernah selama ini Papa mengatakan hal itu, Papa hanya khawatir dengan masa depan Kak Dimas. “Mba Gladis, kenapa?” tanya Nadia. Aku menghapus air mataku dan tersenyum padanya. “Nggak apa- apa, Nad. Emm tolong ya, aku minta beberapa kotak ke ruangan aku sekarang ya.” Pintaku yang di jawab anggukan oleh Nadia dan aku berjalan kembali menuju ruanganku. “Gladis..” panggil Kak Dimas. Aku sekilas menoleh dan kembali berjalan namun kali ini aku melangkah lebih cepat dengan sedikit berlari. Kak Dimas yang tahu aku menghindarinya, ia berjalan mengejar diriku hingga mencapai ke ruanganku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN