Kecewaku

1094 Kata
Sesampainya diruang kerjaku, aku langsung berjalan menuju meja kerjaku diikuti oleh Kak Dimas yang baru saja sampai. Lelaki itu menutup pintu dan berjalan menghampiriku. Sekilas aku menoleh ke arahnya lalu kembali menunduk. Aku melihat ada raut wajah gusar, mungkin salah satunya karena aku. Aku yang menerima imbas dari apa yang sudah ia lakukan hari ini. “Dis..” “Heemm..” “Aku minta maaf soal ini ya. Jujur semalem abis kamu kasih filenya ke aku, aku nggak pelajari dulu soalnya semaleman aku berusaha ngedit foto yang bakalan di gunakan buat kompetisi hari ini.” Jelasnya yang membuat aku hanya menarik nafas panjang. Ini bukan seratus persen kesalahan Kak Dimas memang tapi tetap saja ada rasa kecewa yang menghampirku. Kenapa ia tak mementingkan urusan kantor terlebih dahulu? Kenapa ia lebih memilih untuk mendahulukan hobinya itu. Di pikiranku entah mengapa Papa begitu tega membuat persyaratan seperti itu kepadaku. Kenapa Papa begitu tega mengorbankan aku yang jelas- jelas selama ini sudah bersusah payah terjun dalam lingkaran pekerjaan ini. Apa tak pernah ada tempat di hati Papa untuk menjadikan aku anak perempuan yang selalu ia bangga- banggakan. Hatiku selalu sakit saat aku selalu merasa tersingkir seperti ini karena pasalnya hal ini tak pernah terjadi sekali atau dua kali. Hal ini sudah berjalan sejak aku dilahirkan. Dimana Kak Dimas selalu di bangga- banggakan karena ia anak laki- laki. Prestasi yang aku dapat selama ini juga tak mampu menggantikan posisi Kak Dimas. Berbeda mungkin kalau aku adalah anak laki- laki seperti Kak Dimas. “Dis, kakak mohon maafin kakak ya.” Lirihnya yang membuat aku terdiam sesaat. Air mataku kembali pecah mengingat semua hal yang selalu menyesakkan d**a ini. Ketidak adilan karena Papa yang membuat aku semakin rapuh. Pada akhirnya aku lelah dengan semua hal yang aku pendam. Aku ingin sekali meledak didepan mereka. “Maafin kakak ya, kamu selalu menanggung beban yang selama ini nggak harus kamu lakukan.” Tambah Kak Dimas saat aku mulai menangis terisak tanpa kata. Ia menarikku ke dalam pelukkannya. Tangisku semakin pecah saat kepalaku bersandar di d**a bidang Kak Dimas. “Aku salah apa, Kak? Kenapa Papa selalu nggak adil sama aku?” tanyaku. Ia mengusap punggungku pelan. Kak Dimas dan Mama orang yang selalu menguatkan aku dikala aku merasa di perlakukan tidak adil oleh Papa. Kalau bukan karena mereka aku tak mungkin bertahan di rumah. Selang beberapa menit aku menangis di dalam peluk Kak Dimas, menumpahkan setiap sedihku. Selama itu pula ia diam tak berkata- kata yang ada hanyalah memelukku dengan erat. Kata orang ikatan adik dan kakak bisa membuat hal yang tadinya buruk bisa jadi baik- baik saja. Layaknya sebuah baterai ponsel yang sudah habis lalu terisi lagi. “Permisi, Non Gladis. Saya Anton bawa kotak yang Non minta.” Kata seorang officeboy berumur sekitar tiga puluhan dari balik pintu sambil mengetuk. Kami berdua melepaskan pelukkan itu, aku menghapus air mataku. Semetara Kak Dimas berjalan membuka pintu. Sang OB pun masuk sambil membawa beberapa buah kotak yang ku minta dari Nadia tadi. “Taruh dimana ini, Non?” tanyanya. “Oh taruh di sini aja.” Kataku menunjuk meja kerjaku. “Buat apa, Non kalau boleh tahu?” tanya Pak Anton. “Buat naroh baeang- barang saya soalnya mulai hari ini saya berhenti.” Jawabku yang meletakkan beberapa barang yang lebih penting ke dalam kotak. “Tapi kenapa, Non?” tanya sang OB penasaran. “Dis, kamu bawa beberapa yang penting aja. Biar sisanya di beresin sama Anton ya. Abis itu kamu pulang pakai mobil aku. Mobil kamu masih di bengkel kan?” Suruh Kak Dimas saat aku belum menjawab pertanyaan sang Ob tadi. “Iya, Kak tapi aku pulang naik taksi aja hari ini. Aku nggak fokus bawa kendaraan kalau begini.” Jawabku, Kak Dimas menghampiriku. “Apa mau suruh supir Papa aja buat anterin kamu?” sarannya. Aku hanya menggeleng. “Pak Anton sisanya tolong ya di rapihin ya kalau udah nanti simpen dulu sampai saya minta supir di rumah buat ambil lagi.” Pintaku yang menutup kotak itu dan bersiap untuk membawanya keluar. “Non..” panggi Pak Anton. “Kenapa, Pak?” tanyaku yang meraih tas dan memasukkan ponsel ke dalam sakuku. “Non, beneran nggak akan balik lagi kesini?” tanya yang membuat aku menoleh ke arah Kak Dimas. Entah aku sendiri tak tahu sampai kapan aku di berhentikan Papa seperti ini. Entah untuk sementara atau selamanya. “Gladis Cuma sementara aja, Pak. Dia lagi butuh cuti yang lebih lama.” Seru Kak Dimas yang mencoba mewakili aku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Aku hanya tersenyum tipis saat Pak Anton menoleh ke arahku yang terlihat seperti meyakinkan apa yang barusan ia dengar. “Wah Non Gladis, mau lanjutin lagi ya acara pernikahannya? Selamat ya, Non.” Katanya membuat aku kembali diam dalam beku. Entah pernikahan itu sendiri nantinya apakah akan benar- benar terjadi, aku pun tak tahu. “Huufftt..” aku membuang nafas seakan banyak pil pahit yang makin lama akan aku telan. “Nggak, Pak. Saya Cuma butuh liburan saja.” Dustaku. Sambil mengangkat kotak itu dan berjalan keluar dari ruang kerjaku yang diikuti oleh Kak Dimas. Namun saat aku baru sampai ambang pintu, banyak karyawan yang seperti ssudah menunggu kehadiranku termasuk Nadia. “Mba Gladis, mau kemana?” tanya Nadia. Aku berusaha tersenyum. Saat melihat wajah mereka seperti merasa sedih. Beberapa tahun belakangan ini susah dan senang aku lalui bersama mereka yang seperti keluarga setelah keluargaku sendiri dan keluarga Gerald. Aku sadar terkadang aku merasa sangat bersalah kepada mereka karena sudah memarahi serta mengomel pada mereka. “Aku pamit ya sama kalian semua. Mulai hari ini aku berhenti. Aku minta maaf kalau selama ini aku punya salah sama kalian semua dalam kata ataupun sikap. Tolong ya mulai sekarang kalian bantu Kak Dimas.” Pamitku yang diiringi tangis yang akhisnya pecah juga. Suasana sedih pun kini menyelimuti kami. Beberapa diantara mereka yang wanita pun ikut menangis dan saling mendekat untuk memelukku. “Kenapa Mba ninggalin kita?” “Padahal saya baru aja mulai betah karena, Mba.” “Mba mau kemana?” “Saya juga minta maaf ya, Mba.” Beberapa kata dari mereka membuat diriku semakin berat meninggalkan Kantor. Aku tak mampu menjelaskan alasan aku berhenti pada mereka. Aku tak ingin mereka membenci Papa atau Kak Dimas. Semoga dengan perginya aku dari tempat ini membuat Kak Dimas bisa lebih menekuni hal ini. Belajar banyak hal tentang yang ada dikantor ini. Terlebih Kak Dimas bisa memperlakukan beberapa karyawan di sini seperti keluarga keduannya. Setelah tangis perpisahan tadi, kini aku menatap keluar jendela di taksi. Aku duduk di kursi penumpang. Sejauh aku berusaha tegar, air mataku tak berhenti menangis. Setiap kenangan di kantor itu kembali berputar. Bertahun- tahun aku bertahan di sana demi membahagiakan Papa dan Mama. Di sana aku selalu berusaha menjadi anak yang membanggakan Papa walau pada akhirnya aku yang di singkirkan juga olehnya. Selain mendapat teman, rekan kerja disana aku mendapatkan keluargaku. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini. Aku bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN